Berhenti Jadi Wartawan, Pilih Jadi Pustakawan

Muhammad Ridwan, 38 tahun memilih menjadi pustakawan ketimbang wartawan. Foto: Adit/KBK

JAKARTA – Anak-anak pulau berlarian ke tepi pantai, karena dari jauh sudah terlihat kapal “Armada Pustaka” hendak merapat. Kehadiran kapal yang membawa buku-buku cerita yang datang sekali sebulan ini sudah sangat dinanti-nantikan mereka. Keceriaan yang luar biasa terpancar dari wajah-wajah polos mereka. Mereka sudah membayangkan, hari ini mereka akan membaca buku cerita yang asyik tentang imajinasi dunia lain.

Bahkan bukan membaca buku saja yang membuat mereka senang, tapi di sesi penutupan pertemuan itu, biasanya diadakan beberapa lomba untuk menambah pengetahuan mereka. Anak-anak itu, menjadi senang karena bermainnya dan senang pula karena hadiahnya.

“Jadi salah anggapan kalau Unesco menilai anak-anak Indonesia kurang minat baca. Sebenarnya di Indonesia kurang akses ke sumber bacaan, ” ungkap Muhammad Ridwan, 38 tahun, yang rela meninggalkan pekerjaan sebagai wartawan Jawa Pos Group, untuk mengujudkan cita-cita mencerdaskan anak-anak bangsa di daerah terpencil dan kepulauan ini.

Ridwan melihat, setiap ia datang ke suatu tempat membawa pustaka kelilingnya ia selalu mendapat kunjungan yang ramai dari anak-anak. Selama 3 jam Ridwan berada di sebuah pulau dan daerah terpencil, waktu yang singkat itu dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh anak-anak untuk melahap buku-buku yang mereka sukai.

Sekali jalan dengan kapal, Ridwan menghabiskan dana sekira Rp 10 juta untuk operasional selama 20 hari. Ia berangkat dengan 3 orang pelaut yang bertanggungjawab terhadap kapal, didampingi 3 orang relawan yang membantu Ridwan mendampingi anak-anak membaca.

“Untuk sekali jalan, kami membawa 300 s.d 500 judul buku,” ujar bapak dari Nabigh Pandarita Sajara, 6,5 tahun dan Sofia Safinatun Najah, 3 tahun ini.

Untuk kebutuhan kegiatan ini, Ridwan mendapat support dari Maman Surahman di Jakarta. Ia yang membantu menggalang dana untuk kebutuhan ini semua.

Awalnya, kata Ridwan, pustaka yang dia dirikan, tahun 2006 ini, tidak bergerak. Stay di Desa Pambusuan, Kecamatan Balanipah, Kabupaten Polewalimandar, Sulawesi Barat. Berkat usul seorang kurator di Bentara Budaya Jakarta, Nirwan Arsuka, dibuatlah pustaka bergerak 2015.

Alasannya  Nirwan sederhana, di Indonesia itu bukan manusia malas membaca, akan tetapi bahan bacaan itu yang sedikit dan sulit diakses.

Karena itu pulalah, tahun 2015, akhirnya Ridwan mendirikan Armada Pustaka. Di saat itu pula ia memilih berhenti dari wartawan Radar Sulbar, dan fokus mengelola perpustakaan tersebut.

“Sekarang Armada Pustaka yang kami kelola sudah memiliki 1 pustaka dengan armada motor, 1 pustaka dengan armada beca, 1 pustaka dengan armada dokar atau bendi, 2 dengan armada perahu dan telah pula memiliki Museum Nusa Pustaka yang memamerkan berbagai jenis buku lama hingga baru,” jelas suami Khodijah, 37 tahun ini.

Karena jerih payah Ridwan tersebut, akhirnya Selasa (16/08/2016) Ia mendapat pengakuan Nasional. Dari Perpustakaan Nasional RI (Pepurnas RI), ia diberi anugerah gelar “Nugrajasa Dharma Pustaka Loka”, merupakan penghargaan tertinggi bagi seseorang yang sudah berjasa di bidang perpustakaan.

Advertisement