Yayasan Sahabat Anak, Tanamkan Pendidikan Karakter pada Anak Jalanan

foto aditya kbk

Sahabat Anak

Tanamkan Pendidikan Karakter pada Anak Jalanan

Ketika matahari mendekati puncaknya, suasana kelas sedikit hening. Tampak seorang murid laki-laki berdiri di depan kelas sambil membacakan dongeng hasil pekerjaannya dengan suara terbata-bata. Berada persisi di sebelahnya sang guru mengamati. Diselingi canda tawa, tak sedikit pula murid lainnya yang tengah menggigit jari dan mengerenyitkan kening pertanda gelisah karena juga tak pandai membaca.

Susanto (17) begitu serius membaca tulisannya. Setiap teguran yang dilayangkan sang guru seakan menjadi lecutan Susanto untuk memperbaiki diri supaya bisa lancar membaca. Bagi Susanto dan kedelapan temannya yang siang itu tengah menimba ilmu baca tulis di Yayasan Komunitas Sahabat Anak, hal ini merupakan kesempatan emas guna memperbaiki pendidikan mereka.

Saat mendekati waktu Dzuhur, dengan sigap Susanto mengomandani teman-temannya membereskan kursi yang digunakan belajar ke posisi semula, terlipat dan bersandar menghadap tembok. Mereka pun bergegas keluar kelas menuruni anak tangga menuju masjid As-Syifa yang posisinya hanya sepelemparan batu dari gedung yayasan.

Jika salah satu dari mereka kedapatan usil atau tak khusyuk menjalankan sholat, sang mentor tak segan menegurnya dan memberikan sanksi berupa push up. Tak sampai di situ ketertiban juga mesti tetap dijaga saat antri makan siang. Setiap anak yang kedapatan merecoki kawannya, ia harus bersiap mencuci piring.

Secara teratur mereka maju satu per satu menciduk nasi dan sayur, tak jarang dari mereka yang mencoba ingin mengambil lauk lebih. Rifai (11) salah satunya, yang lagi-lagi mendapatkan teguran dari sang mentor agar tak mengambil lauk secara berlebih. Bagi Rifai Yayasan Sahabat Anak merupakan rumah keduanya.

“Di sini harus tertib dan teratur, kalo belajar saya paling suka pelajaran Matematika,” ucap Rifai yang saat ini sudah bisa tambah-tambahan, di Yayasan Sahabat Anak Jl.Tambak II Jakarta Pusat, Senin (15/08/16).

Kendati ketertiban merupakan hal utama, Solah (10) bocah asal Klender Jakarta Timur itu bisa dibilang anak yang paling sulit diatur. Saat makan siang ia kedapatan menumpahkan piring makan, sontak isi piringnya pun berhamburan mengotori lantai. Meski telah berbuat onar, rasa tanggung jawab telah terpupuk di dalam diri Solah. Tak menunggu waktu lama ia segera mengambil pengki dan sapu membersihkan nasi yang tercecer di lantai.

Solah mengaku, ia sangat senang bisa belajar di rumah Yayasan Sahabat Anak. Sebelum mencicipi dunia pendidikan, Solah merupakan pengamen jalanan yang kerap beroperasi di lampu merah. Profesi sang ayah yang menjadi penyapu jalanan dan pekerjaan ibu yang hanya berjualan es di pasar Jatinegara membuat Solah putus sekolah karena alasan klasik, yakni ketiadaan biaya sekolah.

“Di sini saya bisa belajar banyak tapi yang paling saya sukai pelajaran mengarang, menulis di kelas kreatif bikin dongeng,” kata Solah.

Walter Simbolon, Manager Advocacy Yayasan Sahabat Anak mengatakan, anak-anak yang direkrut merupakan anak-anak dari kalangan marjinal yang lebih banyak menghabiskan waktu di jalanan. Untuk “merekrut” anak-anak tersebut Walter lebih mengutamakan pendekatan kekeluargaan.

“Kami sudah minta izin ke orang tuanya supaya anak ini sekolah, anaknya juga kami fasilitasi. Setiap hari kami beri pelajaran yang mendidik, makan siang, uang transport dan untuk anak yang sudah berusia 18 tahun kami beri materi praktek kerja agar di kemudian hari mereka siap menghadapi dunia kerja,” kata Walter.

Kini Yayasan Sahabat Anak yang bersifat sekolah non-formal telah memiliki enam area belajar yakni di Grogol, Cijantung, Tanah Abang, Jakarta Kota, Gambir dan Manggarai. Walter menambahkan materi pembelajaran yang diberikan sangat mengutamakan pendidikan karakter, tak heran jika dalam perkembangannya anak-anak jadi memiliki rasa tanggung jawab.

“Sekolahnya dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore, itu kami terapkan suapaya anak pas pulang sekolah tidak kembali ke jalanan. Di sini mereka kami bantu untuk mendapatkan ijazah paket A, B, C dan dibantu dibuatkan akte kelahiran. Setelah lulus kami juga bantu mereka masuk sekolah formal sesuai jenjang dan usia mereka,” jelas Walter.

Khusus untuk praktek kerja, Walter mengatakan, anak-anak akan diberikan pelatihan menjahit, komputer, desain grafis, memasak dan service AC. Guna meningkatkan pengalaman, Yayasan Sahabat Anak juga telah bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang terkait sehingga anak yang telah fasih bekerja akan di magangkan.

Kepala Bidang Pendidikan Yayasan Sahabat Anak, Cerdik Ritonga mengatakan selain dipersiapkan ke dunia kerja. Para anak juga ditekankan untuk bisa baca, tulis, berhitung atau calistung. Di luar itu, materi pembelajaran yang diberikan juga meliputi pengetahuan umum seperti yang berada di sekolah formal.

“Untuk tenaga pengajarnya kebanyakan voulenter dari kalangan mahasiswa dan tak sedikit juga dari yang sudah bekerja,” jelas Cerdik.

Cerdik mengatakan semua materi belajar yang diberikan telah diintegrasikan untuk pembinaan karakter yang lambat laun akan membentuk anak menjadi pribadi yang kompetitif, bertanggung jawab dan visioner.

“Di sini anak-anak kami juga ajarkan keterampilan memasak, menari, menggambar, musik dan lain-lain. Keterampilan itu sebagai media untuk melatih karakter anak. Contoh memasak, bagaimana seorang anak harus teliti, bersih dan rapi. Juga menari bagaimana si anak menjaga kekompakan gerakan. Dari situ akan terlihat passion dan karakter si anak,” pungkas Cerdik.

 

Advertisement