BETARA KALA KRODA

Betara Guru kaget ketemu raksasa berseragam SMA. Takut ditempeleng dan tewas.

SEBAGAI pejabat tinggi di Kahyangan Jonggringsalaka, Batara Guru pergi ke mana saja ditanggung negara. Termasuk juga istrinya, Dewi Uma. Menghadapi banjir yang banyak terjadi di ngercapada belakangan ini, kembali Betara Guru-Dewi Uma mengadakan perjalanan dinas. Tapi keduanya tidak naik pesawat Garuda atau Citilink, melainkan mengendarai Lembu Andini, kendaraan berupa sapi tapi bisa terbang dan berjalan di darat. Ini jelas penghematan APBN lantaran Lembu Andini tak butuh bahan bakar aftur, melainkan cukup rumput kalanjana.

Selain bawa koper pakaian seperti biasanya, juga membawa kalpika (cincin) yang punya keistimewaan luar biasa. Meski kecil tapi daya tampungnya luar biasa. Belakangan Betara Guru suka mengisinya dengan sejumlah sepeda. Katanya untuk hadiah kuiz ketika beraduensi dengan kawula ngercapada. Rakyat pun senang, hanya diminta sebutkan 5 nama ikan saja, langsung bisa bawa pulang sepeda.

“Tiap kunjungan bagi-bagi sepeda, anggarannya dari APBN bukan?” Dewi Uma bertanya dalam penerbangan kahyangan – ngercapada.

“Dari dana operasional Jonggringsalaka, dong. Itu kan hanya sisa dadi anggaran Tim Raja yang berjumlah 75 itu.” Jawab Betara Guru sambil mikir pertanyaan apa nanti untuk kuiz di ngercapada.

Betara Guru-Dewi Uma memang pasangan pengantin baru, karena itu boleh dikata masih hot-hotnya. Ke mana saja Dewi Uma mau ikut, maunya lengket terus seperti prangko. Di mana ada Betara Guru di situ pasti ada Dewi Uma. Mereka berpisah hanyalah saat di toilet. Dewi Uma ke ruang Ladies dan Betara Guru ke Gentleman.

Demikianlah, penerbangan Lembu Andini Lines tanpa terasa sudah sampai kawasan Pantai Kuta, Bali. Melihat ke bawah, busyettt….begitu banyak turis asing nan cantik berjemur dengan penampilan seronok, nyaris toples. Melihat pemandangan itu Betara Guru jadi “emosi”.

“Bujubuneng…., nyesel deh gue jadi dewa. Kalau gue cuma wayang biasa, pasti habis kuhabisin mereka.” Batara Guru bergumam.

“Hayooo, pasti mikir yang jorok-jorok. Tuh, kan!” sindir Dewi Uma.

Betara Guru tidak menjawab. Meski masih dalam penerbangan, dia mengajak Dewi Uma untuk bercinta. Tapi sang istri  menolak. Masakan soal yang demikian privacy diumbar di depan publik, di atas punggung lembu lagi. Dewi Uma menyarankan nanti setibanya di hotel saja, tapi Betara Guru gak sranta (tak sabar).

Batara Guru yang terlanjur naik spanengnya sampai 240 volt, akhirnya korut kama (ejakulasi dini) dan tumpah di lautan lepas. Muak sekali Dewi Uma atas tingkah suaminya itu, sehingga tanpa sadar mengutuk suami sendiri.

“Ngakunya dewa, tapi mental raksasa,” omel Dewi Uma.

Yang namanya raksasa atau denawa, kelakuannnya  memang seperti itu. Asal perut lapar mau “makan,” di mana saja. Dan agaknya Ny. Batara Guru ini pernah jadi dukun sihir. Terbukti, begitu selesai mengeluarkan kata-kata kutukan, di sudut bibir suaminya tumbuh taring masing-masing sebuah.

Malu sekali Batara Guru, masa sebagai pejabat eselon satu kok punya gigi tonggos menyamping. Apa kata dunia? Namun  sebagai dewa yang juga ahli sihir, wayang yang sering disebut Sahyang Manikmaya itu segera kroda (unjuk gigi) dengan membalas mengutuk Dewi Uma.

“Kalau gue raksasa, mami juga raksasa perempuan, dah….!” kutuk Batara Guru sengit.

Seketika itu juga dewi Uma berubah wujud menjadi raksasa perempuan. Rambutnya macam Ruud Gullit, gigi tumbuh besar- besaran, sehingga tiap saat selalu nyengenges (menyeringai) seperti iklan odol. Wayang perempuan yang mendambakan awet muda macam Titik Puspa itu, menangis pilu, meratapi perwujudan sekarang.

“Tenang saja Mami, yang buruk macam mercon bantingan kan cuma tubuh luarmu. Tetapi roh dan jiwamu tetap Dewi Uma istriku tercinta. Percayalah. Batara Guru tak punya kamus untuk menceraikan bini….!” kata Batara Guru menghibur.

Dewi Uma yang telah menjelma sebagai raksasa perempuan itu kemudian diberi nama Betari Durga. Oleh Batara Guru dia kemudian diusir untuk menempati rumah lapis BTN ber-DP nol rupiah di Setra Gandamayit Permai. Walaupun letaknya jauh dari Bekasi sana, tapi developernya selalu bilang cuma 10 menit dari Monas!

Sementara Betara Durga berkemas-kemas pindah rumah, di Selat Bali tempat jatuhnya kama (sperma) Batara Guru terjadi kebakaran besar. Bukan karena ada kapal tangker bocor dan tersulut api, melainkan nutfah Sanghyang Manikmaya itu telah menjelma menjadi api yang sulit dikendalikan. Para dewa di Kahyangan telah mencoba menghubungi branwir Denpasar, tapi mereka tak sanggup datang.

“Maapin deh bos, armada kami nggak ada yang bisa berenang,” jawab petugas melalui telepon.

“Di mana keberpihakan sampeyan?”

Terpakasa para dewa kerja keras mengatasinya sendiri. Wayang- wayang kelas kahyangan dikerahkan, termasuk yang sudah jamuran lantaran jarang ditampilkan ki dalang. Tapi api tetap saja susah dikendalikan, sehingga para dewa pun akhirnya putus asa.

“Biarkan saja dah. Toh nanti kalau api padam, tahu-tahu lokasinya dipatok dan dinyatakan dilarang dibangun,” kata Batara Tremboko, yang agaknya punya kapling di lautan. Dan itulah dewa, laut pun juga di kapling-kapling!

Benar juga. Setelah beberapa waktu lamanya dibiarkan membakar permukaan laut, api tersebut akhirnya capek sendiri dan… padam. Anehnya, begitu lidah api sirna dan bertepatan dengan tenggelamnya matahari di ufuk barat, munculah raksasa dari permukaan laut dengan seragam murid SMA. Mengira ada Ondel-Ondel PRJ lepas buyarlah para dewa di Kahyangan menyelamatkan diri. Mereka saling tabrak dan injak, tapi korbannya cuma luka memar dan keseleo.

Raksasa tanpa nama itu terus mengejar-ngejar, sehingga akhirnya bertemu dengan Batara Guru. Dia bertanya, siapakah sesungguhnya sang ayah, karena sejak lahir sampai lulus SMA belum juga punya wali murid. Bingung betul Sanghyang Manikmaya. Jika ngaku, kok punya anak berbentuk raksasa. Jika tak ngaku, takutnya Betara Guru ini malah ditempeleng dan tewas seperti Pak Guru yang di Sampang, Madura.

“Mau tahu babe lu, nggak? Bikin gaduh saja, kayak Angket KPK,” omel Batara Guru bersungut-sungut, tapi tangannya membawa tang.

“Jelas mau. Gue nggak sakit gigi, tapi kenapa mau dicabut?” protes si raksasa itu.

Sanghyang Manikmaya segera memerintahkan raksasa tersebut untuk membuka mulutnya lebar-lebar. Dan dua taring yang ada gusi raksasa itu langsung dicabut paksa.

Aneh bin ajaib, taring yang kanan berubah menjadi panah Kunta dan taring kiri menjelma sebagai panah Pasopati.

Raksasa muda itu terpana begitu mengetahui wayang di depannya adalah pengukir jiwa raganya. Sebelum tanya ini itu, Batara Guru sudah menyerahkan akte kelahiran atas namanya. Ternyata dia diberi nama: Betara Kala, karena lahir bertepatan dengan waktu   candik ala   (rembang petang).

“Terus jatah makan gue, mana Bos?” tanya Batara Kala kemudian.

“Jatah makan kamu, adalah 57 wayang sukerta. Misalnya, anggota DPR korupsi e-KTP, anggota dewan suka ngotak-atik UU MD3 untuk kepentingan kelompoknya. Juga hakim dan jaksa korup, Ketua MK yang sering dapat peringatan, termasuk juga ouditor BPK yang jual-beli WTP.” Kata Betara Guru sebelum pergi meninggalkan Betara Kala.

Tinggal Betara Kala yang bingung, kenapa jatah makannya kebanyakan kok wayang-wayang kelas kakap. Takutnya alot bik kelat-kelot. (Ki Guna Watoncarita).

Advertisement