BETARI WIDOWATI GUGAT

Tak ada alasan vertigo, Patih Narada panggil paksa Betari Durga ke kahyangan Jonggring Salaka.

SAMA-sama bidadari makhluk kahyangan, Bethari Widowati merupakan bidadari kelas elit. Dia lebih tinggi derajatnya dari bidadari lain sebagaimana Dewi Irim-irim, Dewi Supraba, Dewi Tunjung Biru, Dewi Gagarmayang, Dewi Wilutama. Apa lagi dengan Dewi Yul dan Dewi Persik. Di samping cantiknya luar binasa, dia sangat mampu memuaskan pasangannya di ranjang. Kata wayang ngercapada yang berhasil menikah dengan titisan Widowati, bidadari Widowati memang ngempot ayam!

Makanya wayang titisan Dewi Widowati selalu diburu wayang dari zaman ke zaman. Prabu Dasamuka sampai kepiyeng-piyeng (mati-matian) mengejar Dewi Sinta, karena konon dia merupakan titisan Dewi Widowati. Dan ini yang bisa mendapatkan cuma satria Ramawijaya dari Ayodya. Hanya karena saking bodonya Ramawijaya, istri secantik itu malah diajak blusukan masuk hutan, bukannya hotel berbintang 5.

“Sampai ujung dunia pun, akan kukejar titisan Widowati.” Sumpah Dasamuka pada dewa.

“Silakan saja. Tapi dalam skenario kahyangan, sampai kiamat pun kamu takkan pernah mendapatkannya,” kata SBG (Sanghyang Bethara Guru) pasti.

Bukan saja Dasamuka, wayang lain juga selalu berburu bidadari kahyangan. Jika dapat titisan Widowati alhamdulillah, dapat bidadari  kelas standar juga nggak papa. Yang paling beruntung adalah Harjuna, dia banyak mengawini bidadari kahyangan. Di antaranya Dewi Supraba dan Dewi Dresanala. Dari Dresanala menurunkan Wisanggeni, sedangkan dengan Supraba sengaja tak memprogramkan anak. Sebab bidadari satu ini sekedar untuk pemuas birahi manakala Harjuna dapat job ke kahyangan.

Banyak bidadari yang dikawin makhluk ngercapada, dan kemudian ditelantarkan. Hal ini sangat bikin galau Bethari Widowati selaku Ketua Dewan Pembina Bidadari. Maunya dia, mengingat populasi bidadari sangat terbatas, mestinya semua bidadari cukup menjadi jatahnya para dewa saja. Gara-gara sejumlah bidadari dialokasikan ke wayang ngercapada, stok bidadari di Jonggring Salaka sering kekurangan. Akibatnya dewa macam Bethara Surya yang syahwatnya demikian kuat, suka clinthisan (ngelayap) ganggu perempuan ngercapada. Misalnya Kunthi, dia melahirkan Karno akibat perilaku Bethara Surya.

”Pukulun Bethara Guru, seyogyanya wayang ngercapada dilarang menikahi bidadari, karena ini sangat mengganggu ketahanan syahwat para dewa.” usul Bethari sambil menunjukkan data-data bidadari yang korban bully wayang ngercapada.

”Wah, untuk itu harus diubah UU-nya dulu. Saya tak berani bikin kebijakan itu, jika tak ada payung hukumnya,” jawab Bethara Guru penguasa kahyangan. Padahal sebetulnya, dia sangat menikmati kondisi tersebut. Sebab dia sendiri pernah terlibat skandal dengan Dewi Anjani.

Kecewa sekali Bethari Widowati dengan jawaban Bethara Guru yang terkesan ngeles itu. Diam-diam dia lalu mengadakan survei politik di ngercapada, bekerja sama dengan lembaga survei LSN (Lingkaran Survei Ngercapada). Dia ingin tahu, apa motif masyarakat wayang, sehingga ada kecenderungan menikahi bidadari.

Sebulan kemudian LSN menyampaikan hasil surveinya. Dengan sistem acak untuk 5.000 responden lelaki dan margin eror 5 %, ternyata 90 % menjawab terangsang dengan penampilan para bidadari di depan publik. Pakaian mereka sangat seronok, memamerkan lekuk tubuhnya yang aduhai. Bahkan di situs internet, ada juga bidadari yang jadi model film porno macam Dani Daniels dan  Maria Ozawa.

”Berdasarkan survei, ternyata para bidadari sendiri yang sengaja merangsang syahwat wayang ngercapada. Makanya pukulun, saya usul semua bidadari kahyangan pakai jilbab dan bergamis.” kata Bethari Widowati dalam sidang di Bale Marcakunda.

”Ah, macem-macem kamu. Itu bakal banyak memakan tekstil, tahu. Dan kebijakan di kahyangan, yang pakai gamis hanya kalangan dewa, khususnya Betara Yamadipati.” tangkis Bethara Guru.

Usulan Bethari Widowati ternyata malah dipending, dengan alasan belum masuk skala prioritas. Tentu saja Widowati sangat kecewa. Bagaimana harus meyakinkan kahyangan, sehingga usulan itu bisa diterima? Tiba-tiba dia ingat para kaum buruh di Indonesia. Esuk paginya dia segera mengerahkan ribuan bidadari berdemo, demi menekan pemerintah. Ingin sebetulnya Widowati menutup akses ke jalan tol, sayangnya di Jonggring Salaka belum ada tol.

Tak hanya bidadari, makhluk ngercapada juga dikerahkan Widowati ke lapangan Repat Kepanasan untuk memperkuat demo itu. Mereka mau saja, wong dapat nasi bungkus dan dijemput pakai Metromini. Dan mereka pun berbaur dengan para bidadari, berbondong-bondong bawa spanduk. Untuk membedakan bidadari asli dan yang tiruan mudah saja, karena kaki bidadari ngercapada  masih ngambah lemah (menyentuh lantai).

”Demi menyelamatkan para bidadari, wajib jilbab jadi kebutuhan mendesak,” pekik pendemo.

”Jangan manjakan mata keranjang para dewa,” kecam pendemo yang lain.

Menyaksikan demo di Repat Kepanasan, Bethara Guru risau juga dibuatnya, begitu pula Patih Narada. Demikian serius para bidadari itu, saat berdemo mereka  sudah pakai jilbab dengan model yang aneka rupa. Ada yang cantik mirip Ineke Kusherawati, ada pula yang berjilbab mirip bis surat di pagar rumah. Bahkan ada pula yang dilipat-lipat macam sarang kepinding.

Akhirnya Bethari Widowati yang mengenakan jilbab dan Dewi Supraba yang berpakaian seronok seperti biasanya, dipanggil ke Balai Marcakunda. Bethara Guru ingin tahu lebih lanjut, apa maksud tuntutan jilbab para bidadari itu.

”Kalau model Supraba ini, memang bikin otak wayang ngercapada ngeres melulu,” kata Patih Narada sambil memelototi Supraba. Seneng sebetulnya dia.

”Jadi kalian serius dengan tuntutan wajib jilbab bidadari itu?” kata Bethara Guru.

”Serius pukulun, ini kan demi masa depan kami.” jawab Bethari Widowati.

Akhirnya lewat Perpu Bethara Guru memutuskan bahwa proyek e-Jilbab dimulai Desember 2013, dengan anggaran Rp 590 miliar ditanggung Jonggring Salaka. Para bidadari diwajibkan ukur jilbab dan gamisnya melalui kelurahan masing-masing. Agar lebih akurat, para bidadari diwajibkan foto seluruh badan. Menurut target, enam bulan kemudian wajib jilbab dan gamis sudah berlaku efektif bagi para bidadari.

Cuma faktanya, hingga tahun baru 2016 tiba, janji Bethara Guru belum juga ada realisasinya. Masalahnya, terjadi manipulasi pengadaan dan penganggaran barang, antara kontraktor dan pejabat kahyangan. Gamis itu mestinya dari bahan katun, diganti dengan blaco. Begitu pula jilbab, bestek seharusnya kain satin, diganti katun. Yang sudah dibagikan pun banyak salah ukur. Bidadari ceking terima ukuran XL, yang gembrot malah dapat gamis ukuran S. Akibatnya seperti brongsongan gori (nangka).

”Betari Durga harus diusut, dia pimpro e-Jilbab,” kata Betari Widowati saat melapor kepada SBG.

”Iya, iya, sabar. Dia kan sudah dicekal, tapi mau kita periksa, mendadak vertigo.” jawab SBG.

SBG benar-benar malu mendengar kabar proyek e-Jilbab dikorupsi Betari Durga. Politisi dari Pasetran Gandamayit ini memang terlalu banyak kasus yang membelitnya. Tapi selama ini dia selalu bisa lolos dari jeratan hukum, karena Betari Durga dicurigai memiliki ajian ”Welut Putih”. Walhasil, sepanjang masih ada air Aqua di kantongnya, dipastikan Betari Durga terlepas dari krisis.

Patih Narada menjemput Betari Durga ke Pasetran Gandamayit. Pepatah lama mengatakan, sepandai-pandai tupai melompat, sekali waktu jatuh juga. Dan begitulah yang terjadi atas Betari Durga, sejumlah bukti menunjukkan bahwa dia terima suap dari kontraktor, agar proyek jatuh padanya. Maka kali ini, setelah dipanggil ke sidang Bale Marcakundha, Betari Durga dinyatakan sebagai terdakwa dan langsung ditahan.

”Setelah Betari Durga ditahan, siapa pimpinan Pasetran Gandamayit?” tanya pers.

”Oo, nggak ada perubahan. Sepanjang belum inkracht, Betari Durga tetap menjadi pimpinan kami,” kata Jaramaya-Jarameya, ajudan Betari Durga, kompak.

Begitulah, meski Betari Durga sudah ditahan karena terlibat korupsi proek e-Jilbab, dia tetap memimpin Pasetran Gandamayit. Tapi kalangan dewa di Jonggring Salaka sama sekali tak ada yang protes, lantaran Betari Durga terkenal suka nyawer kepada dewa siapapun dan cap apapun. (Ki Guna Watoncarita)

 

 

 

 

 

Advertisement