JAKARTA – Sekitar 140 juta penduduk Indonesia hidup dengan biaya kurang dari Rp 20.000 per hari dan 19,4 juta penduduk menderita gizi buruk. Selain itu, dua juta anak di bawah usia satu tahun belum menerima imunisasi lengkap serta angka kematian ibu mencapai 305 kematian per 100.000 kelahiran hidup.
Hal tersebut disampaikan Direktur Badan Program Pembangunan PBB (UNDP) Indonesia, Christophe Bahuet terkait laporan indeks pembangunan manusia (IPM) tahun 2016.
“Deprivasi (kekurangan, Red) lain juga terlihat dari akses ke layanan dasar, di mana hampir lima juta anak tidak bersekolah. Anak-anak di Papua memiliki tingkat drop out tertinggi,” katanya.
Dikatakan, IPM diukur berdasarkan pendapatan per kapita, kesehatan, dan pendidikan di Indonesia dan mengalami peningkatan pesat selama 25 tahun terakhir. IPM Indonesia pada 2015 tercatat 0,689 dan berada di peringkat 113 dari 188 negara di dunia. Indonesia merupakan salah satu negara dengan peningkatan IPM terbaik di kawasan Asia Pasifik.
Meskipun IPM maju pesat, UNDP menyatakan capaian tersebut tidak menggambarkan situasi yang sebenarnya terjadi dalam masyarakat yang biasanya jauh lebih kompleks. Di setiap negara, termasuk Indonesia, ada kelompok-kelompok yang tertinggal dari kelompok lain akibat berbagai faktor. Salah satunya adalah kesenjangan gender dan kurangnya pemberdayaan perempuan.
Agar pembangunan manusia menjangkau setiap penduduk, UNDP mengusulkan empat strategi di tingkat nasional dan daerah, yakni kebijakan umum untuk menjangkau kelompok tertinggal, langkah-langkah spesifik untuk kelompok dengan kebutuhan khusus, dalam hal ini perempuan. Selanjutnya, memastikan ketahanan dalam pembangunan manusia dan memberdayakan kelompok tertinggal.
“Sebenarnya banyak di antara strategi tersebut yang sudah terefleksikan dalam Nawacita melalui kebijakan publik yang diterapkan pemerintah, tetapi implementasi kebijakan-kebijakan tersebut dari tingkat pusat hingga daerah masih harus ditingkatkan lagi,” katanya, mengutip beritasatu, Kamis (23/3/2017).




