Bisnis Start Up Harus Bisa Maksimalkan Digital Marketing

JAKARTA (KBK) – Berkembangnya pelaku bisnis start up di tanah air mesti dibarengi dengan sustainable business yang cakap. Tanpa sentuhan inovasi, sebuah start up mungkin hanya bersifat hit and run dalam waktu singkat. Di era pesatnya perkembangan teknologi saat ini digital marketing merupakan terobosan jitu guna menciptakan iklim pertumbuhan yang positif. Hal tersebut mengemuka dalam forum cari cara bertajuk Netter Preneur Digital Marketing persembahan KEB Hana Bank dan Dompet Dhuafa di Jakarta (14/3).

Deputy Chairman for Financial Access Badan Ekonomi Kreatif Indonesia, Fajar Hutomo mengatakan berbicara start up di tanah air bukan lagi bagaimana menciptakan sebuah start up melainkan menumbuhkan skill up. Seorang pelaku start up wajib memiliki kapasitas untuk mengeksekusi sebuah ide dan mampu memberikan warna demi keberlanjutan bisnis.

“Ide itu murah, yang mahal adalah eksekusinya. Dibutuhkan founder bermental kecoak yang bila diinjak tidak mati tetapi malah bangkit dan berlari,” ujar Fajar dalam forum cari Cara.

sulitnya mencari permodalan juga disoroti Fajar sebagai kendala besar bagi pelaku usaha start up, khususnya bisnis start up yang dicipatkan oleh kalangan mahasiswa.

“Di sini dibutuhkan angel investor untuk mengembangkan ide-ide yang muncul. Angel investor saat ini bentuknya beragam salah satunya dengan wakaf produktif,” jelas Fajar.

Kecepatan internet dalam mengubah selera pasar juga tak boleh dianggap remeh karena bila lengah, sebuah produk start up akan cepat tergilas oleh perubahan yang terus bergerak. Merunut catatan Bekraf saat ini setidaknya ada 16 sub sektor start up kreatif di Indonesia yang pergerakannya sangat signifikan karena dalam perkembangannya mampu menyumbang Rp 990 Triliun untuk PDB per tahun 2017.

Sub sektor pertama lanjut Fajar adalah start up di bidang kuliner, diikuti fesyen, kerajinan daerah, industri perfilman dan start up berbasis aplikasi di urutan ke lima. Lima besar start up tersebut dikatakan Fajar sangat berpotensi menggerakan pasar di tengah kelesuan ekonomi.

“Khusus start up perfilman memiliki efek subliminal yang luar biasa karena dapat menentukan gerak atau tidaknya konsumen untuk mengonsumsi produk,” paparnya.

menimpali paparan Fajar, Founder Asia Corpora, Silih Agung Wasesa berpandangan bahwa bisnis start up di Indonesia tengah terjebak pada fase berkembang. Yakni setelah pelaku start up melahirkan sebuah produk, produk tersebut tidak dikembangkan dengan baik. Akibatnya produk hanya bersifat sesaat lalu dilupakan atau ditinggalkan oleh konsumen.

“Contohnya seperti produsen keripik pedas yang kemarin lagi tren, pelaku usaha ayam bakar dan kudapan kebab yang sempat booming. Sekarang semua itu sudah tidak lagi terdengar nyaring,” ujar Silih.

Supaya sebuah start up dapat terus berkelanjutan, Silih memberikan rumus simple yaitu saat lima tahun bisnis berjalan, cukup 20 persen profit yang diambil. Sisanya dikembalikan ke customer dengan membangun infarstruktur usaha.

“Bila sebuah pelaku start up sudah menggaji dirinya sendiri makan itu akan gagal. Mentalnya harus diubah, bukan lagi masalah desain atau logo tetapi basis yang paling mendasar adalah bagaimana kita bisa mendatangkan uang,” kata Silih.

Silih berujar perkembangan digital marketing juga harus dimanfaatkan dengan cara menghitung trafic customer. Dengan cara tersebut sekarang keuntungan bukan lagi di dapat dari selisih harga jual tetapi dari trafic.

“Misalkan kita buat cafe. Sehari cafe kita didatangi oleh banyak customer lalu mereka berlama-lama di cafe kita. Nah itu traficnya tinggi. Bila ada produk minuman masuk, kita tinggal hitung keuntungan dari trafic. Produk minuman itu mau bayar berapa ke kita,” jelas Silih.

Former CEO Sunday Digital.com Ardhariksa Zukhruf.K mengatakan ada 8 juta start up berbasis UMKM namun dari jumlah tersebut hanya 1 juta UMKM yang sudah memanfaatkan digital marketing untuk memasarkan produk. Bila dikerucutkan lagi 48 persen diantaranya baru sebatas memiliki web site, 18 persen sudah aktif di media sosial dan hanya 8 persen yang telah melengkapinya dengan metode pembayaran payment.

Ardhariksa menekankan sebagai langkah awal start up harus memiliki ekosistem sendiri, kemudian market yang telah terbentuk dari ekosistem harus dikelola dengan baik dengan cara memberikan inovasi dan sentuhan kreatifitas.

“Seorang start up itu harus memikirkan cara memperkenalkan brading, memiliki target dan pola pikir yang visioner. Bisnis yang penting mental. Bila kita hanya mengambil barang lalu di jual lagi, itu sama saja kita adalah sales,” tutur Ardhariksa.

Dari paparan ketiga narasumber di atas terkait start up digital marketing, Head of Digital Marketing @pasarwarga Umar Ali Faris menggaris bawahi bahwa ada scalability dan sustainableity dalam pengelolaan bisnis start up. Menurutnya tak sedikit start up yang gagal di tahun pertama karena sejumah faktor, salah satunya cara promosi yang tidak tepat dan produk yang di produksi tidak sesuai dengan permintaan pasar.

“Bila start up telah memiliki segmen, maka kita tinggal maksimalkan segmen tersebut dengan mengkonversinya menjadi pasar. Kita harus bisa menangkap kebutuhan pasar dengan terus berinovasi dengan memanfaatkan digital marketing,” tutupnya.

Advertisement