JAKARTA, KBKNEWS.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melakukan operasi modifikasi cuaca di sejumlah wilayah sebagai langkah antisipasi menghadapi musim kemarau yang beriringan dengan fenomena El Nino.
Upaya tersebut dilakukan untuk menjaga ketersediaan air, terutama pasokan air ke waduk yang berperan penting dalam memenuhi kebutuhan air baku, pertanian, hingga pembangkit listrik tenaga air (PLTA).
Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto mengatakan, berkurangnya curah hujan akibat El Nino berpotensi menurunkan pasokan air yang masuk ke sejumlah waduk di Indonesia.
“BMKG bekerja sama dengan para pemangku kepentingan, pengelola waduk, Kementerian Pekerjaan Umum, dan sebagainya melaksanakan operasi modifikasi cuaca untuk menambah pasokan air waduk,” ujar Tri.
Operasi modifikasi cuaca telah dilakukan di sejumlah wilayah, termasuk daerah tangkapan air yang menopang sektor energi seperti Danau Toba di Sumatera Utara dan Danau Poso di Sulawesi Tengah.
Saat ini, operasi juga dilakukan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum, Jawa Barat. Langkah tersebut ditujukan untuk menjaga pasokan energi, air, serta kebutuhan sektor pertanian.
Selain menjaga ketersediaan air, operasi modifikasi cuaca juga menjadi salah satu upaya mitigasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kondisi kemarau yang lebih kering dapat membuat lahan gambut kehilangan kelembapan. Ketika pasokan air ke kubah gambut menurun sementara penguapan tetap berlangsung, lahan menjadi lebih mudah terbakar.
Karena itu, modifikasi cuaca dilakukan dengan metode pembasahan lahan gambut agar tetap basah dan tidak mudah terbakar.
Langkah BMKG tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto dalam rapat terbatas di Istana Merdeka pada 28 Juli 2026. Pemerintah diminta mengantisipasi dampak kemarau yang beriringan dengan El Nino, termasuk menjaga ketersediaan air serta mencegah karhutla.
Untuk pencegahan karhutla, terdapat enam provinsi yang menjadi fokus utama operasi modifikasi cuaca, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
BMKG menyatakan El Nino yang mulai aktif pada Juni 2026 telah memasuki fase kuat dan masih berpotensi meningkat menjadi sangat kuat. Fenomena tersebut diperkirakan berlangsung sekitar 9–12 bulan atau hingga Mei 2027.
Meski demikian, berlangsungnya El Nino tidak berarti Indonesia akan mengalami musim kemarau sepanjang periode tersebut.
Pada Agustus hingga September 2026, curah hujan diperkirakan berada pada kategori rendah hingga sangat rendah di sejumlah wilayah. Kondisi ini meningkatkan risiko kekeringan.
Sementara itu, musim hujan diperkirakan mulai berlangsung pada pertengahan Oktober 2026. Dengan masuknya musim hujan, pengaruh El Nino terhadap pola hujan di Indonesia diperkirakan semakin berkurang.
Melalui operasi modifikasi cuaca, pemerintah berupaya mengurangi risiko kekeringan sekaligus menjaga ketersediaan air dan mencegah meluasnya kebakaran hutan serta lahan di tengah penguatan El Nino.





