JAKARTA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta menyatakan akan menggunakan teknologi modifikasi cuaca (TMC) pada puncak musim kemarau untuk mengurangi polutan udara.
Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta Isnawa Adji menjelaskan, untuk saat ini pihaknya masih berkoordinasi dengan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Badan Nasional Penanggulangan Bencana Daerah (BNPB) dan TNI AU.
Ia menjelaskan bahwa untuk saat ini hujan masih mengguyur wilayah DKI Jakarta sehingga bisa mengurangi polutan udara yang akhir-akhir ini menyebabkan polusi.
“Jakarta sesekali masih diguyur hujan, hal ini bagus untuk mengurangi polutan udara Jakarta,” ujarnya.
Isnawa menambahkan bahwa TMC tidak hanya dilakukan ketika musim kemarau saja, namun apabila ada potensi cuaca ekstrem yang menyebabkan bencana hidrometeorologi juga digunakan.
“Ketika ada potensi bencana hidrometeorologi seperti angin kencang, hujan ekstrem, potensi dampaknya seperti longsor, pohon tumbang sampai dengan banjir (juga dilakukan TMC),” katanya.
Sebeumnya, kualitas udara di Jakarta pada Selasa pagi menduduki peringkat nomor satu sebagai kota dengan udara terburuk di dunia.
Berdasarkan data situs pemantau kualitas udara IQAir pada pukul 07.00 WIB, Indeks Kualitas Udara (AQI) di Jakarta berada di urutan pertama dengan angka 179 atau masuk dalam kategori tidak sehat.





