
YOGYAKARTA – Kepala BPPTKG Hanik Humaida mengatakan suplai magma Gunung Merapi saat ini masih dalam kategori rendah sehingga guguran yang terjadi tidak terlalu banyak dan apabila terjadi guguran awan panas jarak luncurnya tidak terlalu jauh.
Berdasarkan pemantauan BPPTKG, pertumbuhan kubah lava rata-rata terjadi sebanyak 3.000 meter kubik per hari dengan intensitas guguran yang masih rendah bila dibanding guguran yang terjadi saat erupsi Gunung Merapi pada 2006 dan 2010 yang bisa mencapai puluhan bahkan seratusan kali per hari.
“Dari pemantauan yang kami lakukan, juga tidak terlihat adanya deformasi. Deformasi nihil. Status gunung pun masih tetap waspada,” katanya.
BPPTKG menetapkan status waspada tersebut sejak 21 Mei 2018 usai terjadi beberapa kali letusan freatik dan meskipun sejak 29 Januari muncul awan panas guguran pertama disusul beberapa kejadian berikutnya, namun BPPTKG masih menetapkan status level II untuk Merapi hingga saat ini.
“Pada 29 Januari terjadi tiga kali awan panas guguran. Kejadian yang sama juga terjadi pada 7 dan 11 Februari dan kejadian awan panas guguran paling banyak terjadi pada 18 Februari dengan tujuh kali kejadian,” katanya.
Meskipun terjadi beberapa awan panas guguran, namun Hanik mengatakan, jarak luncurnya tergolong pendek dan masih dalam batas radius aman yang ditetapkan BPPTKG. “Luncuran terjauh adalah dua kilometer mengarah ke Sungai Gendol. Selanjutnya, terjadi beberapa kali guguran dengan jarak luncur beragam,” katanya, dilansir Antara.
Masyarakat diharapkan tidak panik dan tetap waspada. Potensi guguran masih ada sehingga warga atau wisatawan di alur Sungai Gendol dan sekitarnya harus tetap waspada, serta mengantisipasi potensi gangguan abu vulkanik serta mewaspadai bahaya lahar terutama saat hujan.




