BRIN Ungkap Banyak Terjadi Penurunan Tanah di Pantura Jawa dan Cekungan Bandung

Ilustrasi Tanah Amblas di ruas Jalan Cantilan-Gunung Pancir Bandung/ Galamedia News

JAKARTA – Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN Dwi Sarah mengatakan fenomena penurunan tanah terjadi di banyak daerah terutama kawasan Pantai Utara Jawa dan Cekungan Bandung. 

Misalnya, di Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah, penurunan tanah menimbulkan kerusakan drainase, rumah turun dan miring hingga banjir pasang rutin.

Tanah yang berada di daerah selatan Pekalongan cenderung lebih kuat dan semakin ke utara engineering properties semakin rendah. Fenomena itu termanifestasikan juga dalam berbagai kerusakan yang terjadi di permukaan.

Sedangkan, fenomena tanah ambles di Semarang dan Demak terlihat dari barat ke timur. Penurunan semakin tinggi ke arah timur.

“Ini juga selaras dengan penampang geologi di bawah permukaannya yang menunjukkan di daerah timur mulai dari Kaligawe, Terboyo hingga ke Demak. Ini didominasi oleh endapan lempung dan lanau yang cukup tebal dengan sisipan tipis lapisan pasir halus,” papar Sarah.

Berdasarkan hasil riset, Sarah mengatakan Semarang dan Demak tersusun oleh endapan yang belum lama menjadi daratan, sehingga diduga masih ada potensi-potensi kompaksi alamiah.

Kompaksi alamiah di Demak bisa mencapai maksimal 2 sentimeter per tahun. Sedangkan, kompaksi alamiah di Semarang hampir tidak ada kurang dari 1 sentimeter per tahun karena lebih intensifnya faktor antropogenik yang terjadi di wilayah tersebut.

Di Cekungan Bandung yang tersusun dari endapan danau, titik pusat penurunan muka tanah ada di Kopo, Dayeuhkolot, dan juga Gedebage. Fenomena penurunan tanah di Gedebage telah menimbulkan berbagai kerusakan bangunan dan infrastruktur.

 Sarah menuturkan bahwa penurunan tanah di permukaan merupakan manifestasi dari pergerakan material bawah permukaan yang menjadi silent disaster.

Kondisi bawah permukaan Pantai Utara Jawa tersusun oleh endapan aluvial kuarter dan Cekungan Bandung tersusun oleh endapan danau kuarter yang rentan terhadap amblesan tanah dan menyebabkan laju amblesan cukup tinggi antara 1 sampai lebih dari 10 sentimeter per tahun.

“Bahaya penurunan tanah merupakan masalah multidimensi membuka banyak peluang riset,” pungkas Sarah.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here