PERANG selalu menimbulkan malapetaka dan penderitaan bagi rakyat banyak, tetapi menjadi “mainan” mengasyikkan bagi sekelompok elit yang haus kekuasaan, sehingga setiap prakasa dan upaya untuk menghentikannya kandas di tengah jalan.
Cahaya perdamaian yang muncul di Suriah, meredup kembali setelah rezim Bashar al-Assad menolak prakasa PBB untuk memberlakukan gencatan senjata dan memberikan otonomi di wilayah konflik di negara itu, di Aleppo Timur (21/11).
Alasannya, seperti biasa yang disampaikan sebelumnya, pemerintah Suriah sebagai negara berdaulat, menolak setiap upaya campurtangan pihak luar, juga tidak menghendaki jika wilayah Aleppo Timur berada di bawah cengkeraman kelompok pemberontak yang memerangi pemerintah .
PBB dalam laporannya baru-baru ini mengungkapkan, sekitar satu juta penduduk Suriah saat ini terjebak di tengah wilayah konflik di negara itu, baik di kota-kota yang dikuasai pasukan rezim al-Assad, di bawah cengkeraman kelompok pemberontak maupun pasukan Negara Islam Irak-Suriah (NIIS). Tidak bisa disangkal, pihak-pihak yang bertikai memanfaatkan warga sipil menjadi “tameng hidup” jika terdesak serangan pihak lawannya.
Di wilayah Aleppo timur saja, nyawa sekitar 275.000 penduduknya terancam akibat intensitas serangan udara jet-jet tempur Rusia dan gempuran artileri pasukan al-Assad terhadap sekitar 6.000 pasukan pemberontak yang mempertahankannya. Warga juga tidak memperoleh akses layanan medis akibat luluh lantaknya rumah-rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya di wilayah itu.
Konflik Suriah yang sudah berlangsung sejak lima tahun lalu terjadi akibat perebutan pengaruh atau konspirasi politik, baik di tingkat sektarian (antara lain kubu sekte Sunni melawan Syiah), di tingkat nasional (rezim al-Assad melawan kelompok perlawanan), perebutan pengaruh dan kepentingan regional (antara Arab Saudi, Turki di satu pihak dan Iran, Irak dan Kurdi di pihak lain) maupun di level global (AS-Rusia).
Koalisi Internasional pimpinan AS di satu pihak dan koalisi Rusia, Iran,Irak di pihak lain, sebenarnya berada satu front menghadapi musuh bersama, NIIS. Bedanya, koalisi Barat tidak menghendaki keterlibatan rezim Al-Assad yang dianggap otoriter dan bertanggungjawab dalam pembantaian terhadap lawan-lawan politiknya. Sebaliknya Rusia mati-matian mempertahankan Al-Assad, sekutu lamanya.
Kubu anti pemerintah Suriah dan koalisi Barat di bawah Amerika Serikat juga menuduh Rusia telah mencuri-curi kesempatan dengan menyerang kubu anti al-Assad, tidak fokus memerangi NIIS.
Sejauh ini sudah sekitar dua juta warga Suriah hengkang dari negaranya, menyabung nyawa menyeberangi Laut Mediteranea atau melintasi daratan Turki menuju benua Eropa, sekitar 12 juta orang kehilangan mata pencaharian, dan diperkirakan lebih 300.000 orang tewas terjebak di berbagai wilayah konflik.
Perdamaian di Suriah tampaknya masih “jauh panggang daripada api”, jika masing-masing kubu, para “pemain” dunia, regional dan yang paling menentukan, kelompok elit negeri itu, masih saja mengedepankan kekuasaan ketimbang memikirkan nasib jutaan rakyat yang dijadikan tumbal ambisi dan kepentingan mereka. (Oleh: Nanang Sunarto)





