Mengatasi Kecemasan Masa Depan dengan Tawakal dan Doa

Ilustrasi tangan berdoa (Foto: ChatGPT)
JAKARTA, KBKNews.id – Rasa cemas terhadap masa depan, ketakutan akan rezeki yang habis, serta kekhawatiran akan nasib anak-anak sering kali menghinggapi hati manusia. Ketakutan semacam ini wajar sebagai bentuk kelemahan sifat insani, namun tidak boleh dibiarkan menguasai diri hingga merusak akidah.
Seorang mukmin yang memahami hakikat keimanannya akan menyadari bahwa seluruh urusan kehidupan, termasuk ajal dan rezeki, berada sepenuhnya di dalam genggaman dan pengaturan Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.
Keyakinan utama yang harus ditanamkan dalam jiwa adalah bahwa jatah rezeki setiap makhluk telah dijamin dan tidak akan pernah tertukar atau habis sebelum waktunya. Tidak ada satu pun jiwa yang akan meninggalkan dunia ini melainkan setelah ia menyempurnakan seluruh jatah rezekinya. Hal ini sejalan dengan sebuah hadis sahih dari Rasulullah ﷺ:
“Tidaklah satu jiwa akan meninggal dunia hingga seluruh rezekinya telah sempurna.” (HR. Al-Bazzar).
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga telah menegaskan keberadaan rezeki makhluk-Nya secara pasti di dalam Al-Qur’an. Segala apa yang dibutuhkan manusia selama hidup di bumi telah dipersiapkan dan ditentukan dari langit. Manusia hanya diminta untuk bergerak menjemputnya tanpa perlu merasa cemas yang berlebihan. Hal ini tertuang dalam firman Allah Ta’ala:
“Dan di langit terdapat rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.” (QS. Adz-Dzariyat: 22).
Jika kita menengok kembali perjalanan hidup, Allah-lah yang telah mengurus, mencukupi, dan memberi makan sejak kita masih berupa bayi yang lemah. Manusia adalah makhluk dengan fase ketergantungan paling lama jika dibandingkan dengan hewan yang bisa langsung berdiri atau mencari makan sesaat setelah lahir. Melalui perantara kedua orang tua, Allah merawat kita dari ketidakberdayaan hingga tumbuh menjadi dewasa. Allah berfirman mengenai kasih sayang orang tua yang menjadi jalan pemeliharaan-Nya:
“Dan katakanlah, ‘Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku di waktu kecil.’” (QS. Al-Isra: 24).
Oleh karena itu, sangat keliru jika seseorang merasa khawatir berlebihan terhadap masa depan anak-anaknya seolah-olah dialah sang penjamin rezeki utama. Syaikh mengingatkan bahwa Zat yang telah mengurus kita di masa lalu adalah Zat yang sama yang akan mengurus anak-anak kita di masa depan. Kewajiban manusia hanyalah menempuh sebab-sebab yang syar’i untuk menjamin kehidupan yang layak bagi keluarga, sembari meyakini bahwa takdir, perlindungan, dan keselamatan mutlak ada di tangan Allah.
Ketenangan hati seorang mukmin juga bersumber dari keridhaan terhadap segala ketetapan takdir. Ketika musibah kecil terjadi, seperti kendaraan yang mogok atau rencana yang tertunda, seorang yang bertawakal akan berkata bahwa itu adalah pilihan terbaik yang Allah gariskan untuknya. Sifat senantiasa mengaitkan segala kejadian kepada Allah dan berprasangka baik bahwa di balik setiap takdir buruk tersembunyi kebaikan yang lebih besar merupakan bentuk ketertarikan hati yang murni kepada Sang Pencipta.
Dalam menghadapi takdir, doa memegang peranan yang sangat penting sebagai senjata umat Islam. Ada sebagian orang yang keliru dalam berdoa dengan mengucapkan, “Ya Allah, aku tidak meminta-Mu menolak takdir, tetapi aku meminta kelembutan di dalamnya.” Doa seperti ini dinilai salah dari sisi akidah. Syaikh Bin Baz rahimahullah menegaskan bahwa kita justru diperintahkan untuk memohon perlindungan dari takdir yang buruk, sebagaimana doa yang diajarkan oleh Nabi ﷺ:
“Dan palingkanlah dari kami keburukan apa yang telah Engkau takdirkan.” (HR. Ahmad).
Hubungan antara doa dan takdir adalah sebuah perpaduan yang indah dalam ajaran Islam, di mana doa yang dipanjatkan akan naik ke langit dan bertarung dengan takdir yang turun. Syaikh menjelaskan bahwa setiap orang yang berdoa pasti akan beruntung; adakalanya Allah langsung mengabulkannya di dunia, atau menjadikannya sebagai penghalang dari musibah, atau menyimpannya sebagai pahala abadi di akhirat.
Di hari kiamat kelak, seorang hamba akan melihat pahala yang begitu besar dari doa-doanya yang belum terkabul di dunia, hingga ia berharap andai saja dahulu tidak ada satu pun doanya yang disegerakan di dunia demi meraih balasan yang jauh lebih mulia di sisi Allah.
Artikel ini disarikan dari video ceramah Syaikh Muhammad bin Ramzan Al Hajiri di Yufid TV: https://www.youtube.com/watch?v=oY1DjuC5EC0.
Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here