JAKARTA (KBK) – Sudah bukan rahasia umum lagi bila di jaman now seorang anak cenderung lebih sering berinteraksi dengan gawai ketimbang berkomunikasi dengan orang tuanya. Padahal, dibalik asiknya berselancar di dunia maya tak sedikit bahaya yang mengancam psikologi anak.
Mudahnya sang anak mengakses informasi yang serba instan juga turut mendorong menyusutnya kreativitas anak. Demikian paparan Psikolog sekaligus Pemerhati Perkambangan Anak Dina Nurhayati pada forum diskusi Cari Cara persembahan KEB Hana Bank dan Digdaya Dinamuka Publika, di Jakarta (13/4).
Di luar sifat serba instan, banyaknya iklan yang mengandung konten pornografi pada layar gawai saat mengakses dunia maya juga merupakan permasalahan serius karena lambat laun bisa mempengaruhi karakter anak.
“Anak itu cerdas, apa yang dia lihat, dengar dan rasakan semuanya akan terserap sempurna dan masuk ke alam bawah sadar mereka. Ini bisa membuat candu dan mengakibatkan kerusakan pada fungsi otak,” ujar Dinda
Efek negatif lainnya lanjut Dinda yakni rasa nasionalisasi anak yang terkikis akibat paparan budaya asing yang berseliweran di konten youtube. Tak berhenti di situ, radiasi layar gawai juga turut membuat kesehatan mata anak terganggu.
“Ada juga nilai positifnya ketika anak diberi gawai karena bisa melakukan komunikasi jarak jauh. Tapi acap kali kebablasan karena di rumah pun anak cenderung menggunakan gawai untuk berbagai kegiatan,” jelasnya.
Guna menyikapi anak yang terus menerima gempuran teknologi informasi Dinda menyarankan sebaiknya orang tua memberikan gawai pada anak saat berusia 12 tahun. Selain itu dibutuhkan pula peran orang tua untuk lebih aktif memegang kendali saat anak mengakses gawai. Bonding sangat diperlukan agar kedekatan emosional antara orang tua dan anak tidak terputus meski gawai telah hadir ditengah keluarga. Cara lainnya tambah Dinda, orang tua harus bisa menjadi artis atau idola anak.
“Kita bimbing anak yang kecanduan gawai dengan hal lain seperti kita ajak berdongeng dengan intonasi dan penekanan yang pas. Hadirkan suara-suara yang membuat anak nyaman. Dengan begitu anak akan mengidolakan orang tuanya,” kata Dinda.
Menambahkan paparan Dinda, Direktur Smart Action for Education Khusniyati Masykuroh menuturkan tak ada pilihan lain selain berdamai dengan keadaan untuk menyiasati kemajuan jaman yang serba digital. Khusniyati mengakui hadirnya gawai yang dibekali internet memang sangat mempermudah seorang anak mengakses komunikasi, informasi dan hiburan. Namun secanggih apa pun gawai, tidak bisa menggantikan kehadiran orang tua.
“Semua kontrol ada di orang tua. Tidak mungkin anak mendapatkan gawai kalau bukan dari orang tuanya,” jelas Khusniyati.
Khusniyati berujar jika dirunut dari awal bahaya yang mengancam anak ialah bukan pornografi atau main gim seharian, tapi kurangnya kesadaran orang tua terhadap konten yang diakses anak. Bisa jadi justru orang tua merupakan sumber dan penyebab penyebaran konten negatif.
Khusniyati membagikan lima tips internet baik supaya anak mampu memilah konten yang sesuai. Pertama adalah keep playing or stop, click or close, think before posting, saring before sharing dan terakhir wise while online. Kelima tips tersebut kata Khusniyati akan sangat menentukan karakter anak.
“Karakter itu berhubungan nilai moral baik atau buruk, sehingga mereka mampu memilih sendiri melakukan atau tidak lakukan. Dengan bimbingan dari orang tua melalui lima tips itu, anak akan memilah konten yang sesuai dengan usia mereka. Orang tua dalam bersosial media juga harus pintar karena bukan tidak mungkin sang anak akan menduplikasinya,” ujarnya.
Meski tak mudah namun Khusniyati yakin bila orang tua mampu menemukan potensi anak bukan tak mungkin karakter anak akan terbentuk. Menurut Khusniyati menghargai karya anak merupkan salah satu cara tepat untuk menggali karakter tersebut.
Consumer Acquisition Departement Head KEB Hana Bank Jhoni A Gumay mengatakan, sebaiknya kurangi penggunaan gawai pada anak saat malam hari. Sibukan anak dengan kegiatan yang mampu mengambangkan pola pikir dan mengasah motorik halus anak. Sejalan dengan problem di atas, KEB Hana Bank memiliki sejumlah program yang mampu meningkatkan kemampuan anak diluar peran gawai, salah satunya English Camp yang diadakan selama tiga hari dua malam.
“Di sini anak-anak tidak diizinkan membawa gawai. Anak akan mengikuti serangkaian outbond dan wajib menggunakan bahasa inggris,” paparnya.
Ada juga Hana kids day dimana anak akan dibawa tur keliling melihat pekerjaan ayahnya saat bekerjam kunjungan bankin anak dan bermain ke wahana permainan anak.





