Cerita Lara dari Pangalengan

0
165

Matahari mulai condong ke arah barat ketika Aep (50) tiba di depan rumahnya. Ia memarkirkan sepeda motornya di beranda, lalu meletakkan peralatan kerjanya. Belum sempat istirahat menghilangkan penat, suara gemuruh terdengar sangat keras. Teriakan ketakutan juga terdengar lantang. Aep terperanjat, tebing yang berada tak jauh dari rumahnya runtuh, menghantam dan meluluhlantahkan beberapa rumah yang berada di bawahnya.

Semua penduduk kampung yang berada di tengah-tengah perkebunan teh itu langsung berhamburan. Mereka berkumpul di lapangan dan mushalla di sisi utara kampung untuk menyelamatkan diri. Tak berselang lama, Aep baru sadar, rumah milik kakak tertuanya berada di kawasan tertimbun longsor. Ia pun berusaha mencari tahu, berharap kakaknya dapat menyelamatkan diri.

Namun takdir berkata lain, selang beberapa waktu, kakaknya ditemukan di balik timbunan longsor. suaminya yang tengah menggendong cucunya juga ditemukan tewas tak jauh dari jenazahnya. “Katanya kakak saya sudah sempat lari, tapi tersangkut kabel,” jelas Aep dengan suara yang agak parau.
Suasana Selasa siang itu terekam sangat jelas di kepala Aep. Siang hari yang cerah berubah gelap seketika. Selain mengeluarkan bunyi cukup keras, ledakan pipa gas milik PT Star Energy itu mengeluarkan asap yang cukup pekat seperti kabut. “Saya sampai sesak di dada,” ceritnya. Aep juga melihat dengan jelas bagaimana pipa itu jatuh menggelinding ke bawah setelah terjadi ledakan.

Aep menjelaskan, sebenarnya warga sudah berkali-kali memperingatkan perusahaan kalau tanah di sekitar pipa itu retak. Namun perusahaan selalu berkilah bahwa semuanya akan aman-aman saja. Aep tidak bisa memastikan apakah longsor terjadi lebih awal dibanding ledakan pipa, atau sebaliknya. Pasalnya selama ini warga juga kerap mendengar suara cukup keras dari pipa yang tidak terkubur tanah itu. Bunyi itu seperti letupan kaleng atau panci yang dipanaskan. “Pletak-pletak,” begitu bunyinya. Bahkan sepekan sebelumnya perusahaan tengah melakukan perbaikan pipa yang akhirnya meledak itu.

Warga Kampunng Cibitung belum lama ini juga telah membentuk “satgas” yang memantau keretakan tanah di sekitar pipa. Mereka secara bergiliran ronda setiap hari jika sewaktu-waktu ada perubahan yang berarti. “Ada pos di atas, kami sering jaga 3-4 orang,” kata.

Akhirnya, peristiwa yang ditakutkan selama ini terjadi juga. Sedikitnya 5 orang dinyatakan tewas dalam bncana longsor yang terjadi Selasa (5/5/2015) lalu. Sementara masih ada 6 orang lain yang diduga masih tertimbun tanah longsor, 8 orang luka berat, dan 130-an warga diungsikan dari rumah mereka.

Berbeda dengan pendapat warga, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menduga longsornya tanah di Kampung Cibitung karena adanya alih fungsi hutan menjadi perkebunan oleh masyarakat sekitar. Kondisi lahan di lokasi tersebut pun kritis. “Sangat jarang pepohonan di sana. Penggundulan semakin kritis,” kata Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Rida Mulyana di gedung Kementerian Energi, Rabu, (6/5/2015) sebagaimana dikutip tempo.co.

Dalam pengamatan kemanusiaan.id di lokasi, lahan di sekitar lokasi longsor memang banyak yang telah beralih fungsi. Lahan itu dijadikan kebun sayur seperti kol, dan tanaman akar pendek lainnya. Bagaimana pun, longsor yang terjadi telah melahirkan lara. Perlu ada upaya serius dari semua pihak agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.

Advertisement div class="td-visible-desktop">

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here