JAKARTA (KBK) – Loket antrian untuk pasien pengguna Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) di Rumah Sakit Persahabatan (RSP), Jakarta Timur pagi itu terlihat lengang. Dari 30 bangku di ruang tunggu, hanya 13 kursi yang diduduki pasien. Salah satunya ialah Rimun (55) warga Desa Telaga Murni, Cikarang Barat yang kala itu tengah menunggu kakak kandungnya Aca (58) berobat.
Aca di rujuk ke RSP karena menderita sakit di bagian paru-paru sehingga mesti dilakukan tindakan pengambilan dahak. Menurut Rimun kini pelayanan BPJS sudah jauh lebih baik meski ia pernah menelan pil pahit dari pelayanan berbasis jaminan sosial tersebut.
Di ruang tunggu, Rimun berkisah pada akhir 2015 lalu dirinya menderita usus sobek yang memerlukan tindakan operasi bedah. Namun Rimun selalu dipingpong pelbagai rumah sakit di daerah Cikarang dengan alasan kamar rawat inap penuh, selain itu cara pengurusannya juga dianggap Rimun masih tidak praktis.
“Setiap mau berobat saya di oper-oper mulu, padahal setiap bulan saya sudah bayar empat puluh lima ribu ke BPJS. Lebih baik nabung di Bank karena uangnya kalau tidak terpakai bisa diambil,” keluh Rimun kepada KBK, Senin (24/10/16).
Dengan terpaksa akhirnya pria yang sehari-hari berprovesi sebagai tukang ojek itu memilih jalur pelayanan pribadi dan harus meminjam uang tunai sebesar Rp 23 juta untuk biaya operasi. Selain itu menurut Rimun kelemahan BPJS ialah biaya obat tak semuanya ditanggung.
“Proses BPJS itu lancar kalau di klinik, kalau sudah di rujuk ke rumah sakit besar suka susah prosesnya,” kata ayah dua anak itu yang kini tidak menggunakan BPJS lagi jika berobat.
Rimun menambahkan, di pingpong rumah sakit karena menggunakan BPJS juga terjadi pada kakak iparnya Nden (45). Rimun mengaku ketika itu Nden ditolak 2 rumah sakit dengan alasan tidak ada ruang rawat inap kosong, padahal kondisi Nden saat itu terus memburuk akibat peranakannya yang turun.
“Setelah ditolak dua rumah saki akhirnya kakak ipar saya diterima di rumah sakit daerah Cibitung, masuk jam 12 malam. Terus diperiksa katanya hasilnya keluar jam 4 pagi tetapi sebelum jam 4 pagi kakak ipar saya sudah tidak kuat dan akhirnya meninggal dunia,” kata Rimun.
Rimun berharap kejadian yang menimpa keluarganya tidak terulang kembali kepada siapa pun pengguna BPJS lainnya. Ia percaya saat ini pelayanan BPJS sudah jauh lebih baik namun Rimun mengaku masih enggan mengaktifkan kembali BPJS-nya.





