
GELOMBANG aksi unjukrasa massa di sejumlah kota membuat pemerintah China akhirnya mencabut karantina (lockdown) yang semula diberlakukan di sejumlah kota dalam dua pekan terakhir ini untuk menekan laju lonjakan Covid-19.
Selain unjuk rasa yang berlangsung di 17 kota besar termasuk ibukota Beijing, kota niaga Guangzhou dan Shanghai, lonjakan Covid-19 varian Omicron yang walau cepat menular namun berisiko rendah, juga menjadi pertimbangan pemerintah melonggarkan prokes.
“Gejala infeksi akibat penularan Covid-19 oleh varian virus Omicron lebih ringan dan tidak menyebabkan kematian, sehingga pemerintah melonggarkan prokes dan mengizinkan masyarakat melakukan kegiatan kembali, “ ujar Wakil PM China Sun Chunlan (1/12).
Data terakhir (Rabu, 30/11) tercatat 36-ribu kasus aktif di seluruh China, dimana prevalensi harian di ketiga kota besar (Beijing, Guagzhou dan Shanghai) cukup tinggi yakni di atas 1.000 kasus.
Sun juga menyebutkan, setelah tiga tahun sejak kasus Covid-19 pertama kali terdeteksi di kota Wuhan, pertengahan Desember 2019, sistem layanan kesehatan sudah mampu bertahan, sementara vaksinasi sudah menjangkau 90 persen dari total 1,4 miliar penduduk.
Otoritas kesehatan setempat dilaporkan juga akan mengijinkan isolsi mandiri bagi korban Covid-19 yang tanpa gejala atau bergejala ringan, sedangkan sebelumnya seluruh warga yang positif harus dirawat di RS.
Kebijakan “Zero Covid-19” dalam upaya segera mengakhiri penyakit akibat virus SARS-CoV-2 yang diberlakukan China, Australia dan beberapa negara Uni Eropa itu juga ditentang warga mereka.
Kebijakan memberlakukan karantina walau hanya terdapat satu kasus Covid-19 di sisi lain membuat kegiatan masyarakat terutama di sektor usaha menjadi lumpuh, padahal publik sudah jenuh dibatasi selama tiga tahun pandemi.
Pemerintah China sendiri terbilang sukses dalam penanganan Covid-19, tercermin dengan jumlah kematian hanya 5.200 orang dari 1,4 miliar penduduknya (sejak awal pandemi medio Des. 2019 sampai akhir Nov. ’22).
Bandingkan dengan Amerika Serikat dengan korban tewas lebih satu juta orang, India 530-ribu orang atau Perancis 158,9 ribu orang.
Namun di sisi lain, maraknya aksi unjuk rasa di China yang semula tabu dilakukan menjadi fenomena baru, munculnya geliat demokratisasi di negeri yang selama ini dijalankan rezim dengan tangan besi.




