
CHINA seperti dilaporkan harian Inggeris the Independent, meluncurkan drone mata-mata yang memiliki ukuran dan bentuk mirip serangga nyamuk.
Drone tersebut dikembangkan dan dibuat oleh National University of Defence Technology (NUDT), universitas yang terafiliasi militer China.
“Robot mini mirip nyamuk ini yang sangat cocok untuk pengintaian, pengumpulan data, informasi dan misi khusus di medan perang,” ungkap mahasiswa NUDT itu memperagakan robot mini tersebut. Meski demikian, tidak disebutkan nama drone mata-mata berbentuk nyamuk tersebut.
Dilansir dari New York Post, Selasa (24/6), drone itu memiliki dua sayap seperti daun, tubuh ramping berwarna hitam, dan tiga kaki setipis rambut dan dilengkapi dengan kamera dan mikrofon berukuran ultra-mini. Menurut catatan, ukuran normal nyamuk, panjang 1,8 mm, lebar 2,5 mm dan berat sekitar 2,5 mg.
Fitur tersebut digunakan untuk menangkap gambar, suara, hingga sinyal elektronik dan dengan ukurannya yang sangat kecil, membuat drone ini hampir tidak terlihat dengan mata telanjang manusia.
Bahkan dari spesifikasinya tersebut, drone berbentuk nyamuk itu mampu terbang melewati sistem radar konvensional tanpa terdeteksi.
Tanggapan ahli Peneliti teknologi pertahanan, Sam Bresnick memperingatkan risiko keamanan serius yang dapat ditimbulkan oleh drone.
“Jika China mampu membuat drone seukuran nyamuk, kemungkinan besar mereka akan menggunakannya untuk berbagai tugas intelijen terutama di tempat-tempat yang sulit diakses oleh drone lebih besar,” ucap dia.
“Drone ini dapat digunakan untuk melacak individu atau mendengarkan percakapan,” lanjutnya.
Sementara peneliti pertahanan, Timothy Heath menilai, drone mikro dapat dieksploitasi oleh penjahat yang ingin mencuri informasi pribadi, termasuk kata sandi atau menyusup ke dalam bisnis.
Namun, dia mencatat bahwa ukuran perangkat yang kecil dapat membatasi jangkauan dan daya tahan operasionalnya.
Untuk memata-matai dalam jangka waktu yang lama, menurut dia, dayanya harus diisi ulang, dan menyebarkannya kembali sebagai tambahan untuk memilah-milah data yang terkumpul.
“Inilah sebabnya mengapa drone kurang bermnaat di medan perang, tetapi lebih untuk operasi misi khusus atau misi spionase,” tambahnya.
Teknologi militer terus berkembang sesuai potensi lawan sehingga setiap negara yang cinta damai, harus trtap menyiapkan dan mengasah mesin perangnya.
Si Vis pacem para Bellum! (NYT/Independent/ns)




