China Kembangkan Drone Tiru Perlaku Burung  

China terus mengembangkan drone yang mengaplikaiskan perilaku burung untuk tujuan pengintaian, infiltrasi mau pun drone serang (ilustrasi detik.com)

PARA insinyur di salah satu universitas terkemuka di China sedang mengembangkan drone dengan meniru perilaku burung pemangsa dan mangsa di alam sesungguhnya.

China secara aktif mengembangkan dan telah menggunakan drone biomimetic (meniru makhluk hidup) yang berbentuk serta berperilaku layaknya burung asli. Drone ini sering disebut sebagai ornithopter dan dirancang untuk tujuan pengawasan, pengintaian, dan potensi militer karena kemampuan mereka untuk menghindari deteksi radar dan visual.

Media The Wall Street Journal (WSJ) seperti dilansir Kompas.com (26/1) melaporkan, penelitian tersebut terinspirasi dari cara elang memilih target paling rentan, sehingga drone diprogram untuk memilih dan menghancurkan pesawat musuh yang paling disasar.

Drone penyerang diprogram meniru perilaku burung elang,  sedangkan drone yang diserang atau target sasaran meniru pelaku burung merpati). Kedua jenis drone dibuat untuk  uji simulasi.

Sebagaimana dilansir WSJ, dalam uji simulasi lima lawan lima, drone elang berhasil menghancurkan seluruh drone merpati hanya dalam waktu 5,3 detik.

Tidak dirinci, atau mungkin dirahasiakan, apa saja perilaku elang yang perlu diaplikasikan sehingga memenangi duel udara dalam simulasi tersebut.

Riset itu mengantarkan para peneliti di China memperoleh paten pada April 2024 menjadi salah satu dari ratusan hak cipta yang dihasilkan China dalam neberapa tahun terakhir ini.

Perkembangan tersebut mencerminkan intensitas persaingan Amerika Serikat (AS) dan China dalam pemanfaatan kecerdasan buatan di sektor militer, yang kerap disebut sebagai perang dingin akal imitasi (AI).

Kebutuhan AI terkait militer

Dalam kompetisi itu, penerapan AI untuk kebutuhan militer menjadi salah satu bidang paling agresif sekaligus paling berisiko karena mendorong penyerahan peran tempur yang semakin besar kepada rekayasa teknologi.

Dokumen paten, tender pengadaan pemerintah, dan makalah riset yang ditelaah The WSJ menunjukkan, Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) sangat fokus mengembangkan AI untuk mengoperasikan drone swarm (kelompok drone kecil terkoordinasi), robot anjing, dan sistem otonom lainnya.

Tujuan utamanya adalah menciptakan kemampuan menyerang atau bertahan secara masif dengan intervensi manusia seminimal mungkin.

Sejumlah teoritikus militer China menulis pada Oktober 2024 bahwa era AI akan melahirkan pola peperangan baru yang digerakkan oleh algoritma.

“Dengan sistem tak berawak sebagai kekuatan tempur utama dan operasi swarm sebagai mode pertempuran dominan,” tulis mereka.

Mereka menyamakan potensi AI dengan mesiu, teknologi yang ditemukan di China tetapi diyakini lebih efektif dimanfaatkan pihak lain dalam sejarah militer.

Combat proven

Drone telah membuktikan peran sentralnya di medan perang Ukraina, tempat strategi dan teknologi berkembang pesat akibat tekanan konflik nyata.

Drone swarm dapat difungsikan sebagai umpan untuk menguras amunisi musuh, alat pengintaian, hingga senjata bunuh diri yang menghancurkan pasukan dan kendaraan tempur lawan.

Penggabungan AI dengan robot memberi keuntungan besar bagi China karena industri manufakturnya mampu memproduksi lebih dari satu juta drone murah setiap tahun.

AS dengan rantai pasok teknologi yang lebih lemah, hanya mampu memproduksi puluhan ribu drone dengan harga jauh lebih mahal.

Keunggulan itu dipamerkan media pemerintah China pada

2024 melalui sistem Swarm 1, peluncur berbasis truk yang mampu menembakkan hingga 48 drone sayap tetap sekaligus.

Truk-truk tersebut dilaporkan mampu meluncurkan hingga 200 drone yang dapat terpecah dan menjalankan misi terkoordinasi seperti pengintaian, serang, dan pengecoh.

Drone induk Jiutian yang dirancang membawa dan melepaskan swarm drone kecil juga menyelesaikan uji terbang perdana pada Desember, menurut media pemerintah.

PLA sebelumnya menampilkan “serigala robot”, versi bersenjata dari robot anjing, dalam parade militer pada September 2025.

Produsennya, China South Industries Group, mengatakan pihaknya tengah mengembangkan integrasi antara kawanan serigala robot dan drone guna  menciptakan model baru pertempuran kolaboratif yang efisien.

Teknologi militer terus berpacu, mengacu pada apa yang dilakukan potensi lawan, sehingga tidak ada waktu  bagi militer profesional untuk disambi-sambi dengan kegiatan lain.

Si Vis Pacem para Belum! Yang ingin damai harus siap berperang. (the Wall Street Journal/Kompas.com/ns)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here