CHINA baru saja meluncurkan kapal induk pertama buatan dalam negeri, menyusul kapal induk sebelumnya, Liaoning buatan setengah jadi Ukraina yang diteruskan pembangunannya dan kini sudah masuk jajaran armada negara tirai bambu itu.
Walau pembuatan kapal induk baru itu sudah terpantau citra satelit negara Barat, pemerintah China secara resmi baru akan mengumumkannya secara resmi pada peringatan HUT Angkatan Bersenjata Rakyat China (PLA) ke-90 awal Agustus nanti.
Kapal induk baru yang mulai dibangun sejak 2015 itu nantinya baru bisa dioperasikan oleh armada AL China sekitar 2020 karena diperlukan waktu relatif panjang untuk mengisi perlengkapan teknologi dan persenjataannya.
Berbeda dengan kapal-kapal induk AS yang digerakkan dengan tenaga nuklir, kapal induk China berbahan bakar konvensional dengan bobot 50.000 ton, mampu mengangkut 25 pesawat tempur J-15 Shenyang buatan dalam negeri, duplikasi pesawat tempur berbasis di kapal induk, Sukhoi SU-33 Rusia.
Sebagai perbandingan, kapal induk AS USS Carl Vinson dan USS Ronald Reagan 97.000 ton) yang saat ini sudah merapat ke Samudera Pasifik Barat guna mengantisipasi konflik di Semenanjung Korea, mampu mengangkut 60 pesawat tempur (F-16 Fighting Falcon, F-18 Hornet atau F-22 Raptor).
Kekuatan armada laut China terus dibangun, tidak saja untuk mempertahankan diri seperti yang sering disampaikan oleh pejabat pertahanannya, tetapi agaknya juga untuk unjuk gigi di perairan Laut China Selatan yang dipersengketakan Taiwan dan empat negara ASEAN (Brunei, Malaysia, Filippina dan Vietnam).
Tidak hanya terus membangun armada lautnya, China juga memodenisasikan kekuatan militernya di seluruh matra, termasuk angkatan udaranya yang semula mengandalkan teknologi Uni Soviet.
Ambisi China menguasai dirgantara, tercermin dari kehadiran pesawat tempur berkemampuan siluman (stealth) J-20 Chengdu atau Black Eagle buatannya yang baru-baru ini dipublikasikan.
Pesawat-pesawat tempur buatan China yang sampai dekade tahun 1970-an masih berupa “copy paste” peninggalan Uni Soviet seperti berbagai seri dan varian pesawat MiG atau Sukhoi, kini sudah didisain dan dibangun sendiri.
Chengdu atau Rajawali Hitam J-20 yang mulai diujicoba pada tahun 1990-an bahkan disasar untuk mampu bersaing, mengimbangi bahkan menandingi keandalan pesawat-pesawat tempur generasi kelima buatan AS seperti F-22 Raptor dan F-35 JSF yang sampai saat ini pun masih dioperasikan secara terbatas atau Sukhoi SU-50 buatan Rusia.
Dengan mesin jet ganda, J-20 memiliki jarak jelajah hingga 3.400 Km, terbang pada ketinggian 18 Km, kecepatan 2.100 Km per jam dan mampu mengangkut sepuluh berbagai konvigurasi rudal.
China juga sedang membangun rudal balistik anti kapal induk Dongfeng DF21 berdaya jelajah 3.000 Km. Rudal jenis ini berpotensi menjadi ancaman bagi armada kapal AS yang lalu-lalang di Laut Cina Selatan.
Tekad China menjadi raksasa dunia sebagai produsen alutsista termasuk pesawat tempur, baik untuk memperkuat mesin perangnya maupun untuk ekspor, tidak terbantahkan, tercermin dari besarnya anggaran belanja militernya.
Anggaran pertahanan China pada 2016 tercatat 151,4 milyar dollar AS (sekitar Rp2.000 triliun). Bandingkan dengan anggaran pertahanan RI sebesar Rp103 triliun.
Di sektor penerbangan sipil China juga mengepakkan sayapnya dengan memproduksi pesawat angkut komersil C-919 berkapasitas 168 penumpang yang diharapkan mampu bersaing dengan pesawat Airbus A320 atau Boeing 737-800 buatan AS.
Kekuatan militer memang perlu dibangun sesuai dengan adagium lama “Si vis pacem para bellum” Kalau mau damai, siap-siaplah perang”





