
DIDERA pandemi Covid-19 sekitar 2,5 tahun sejak terdeteksi di Wuhan, China, medio 2019, Indonesia dan sejumlah negara harus bersiap-siap menghadapi lonjakan harga pangan.
Rantai pasokan pangan, kata Menteri Keuangan Sri Mulyani (6/7), terdistorsi imbas perang Rusia – Ukraina dan ketidakpastian ekonomi global, memicu kenaikan harga dan pada gilirannya, inflasi di dalam negeri.
Peringatan menkeu tersebut disampaikan dalam seminar Securitization Sumnit 2022 dengan bertemakan “Unlocking Securitization Role in Developing Sustainable Finance” secara hibrida di Jakarta, (6/7).
Menurut dia, Perang Rusia – Ukraina yang berlangsung sejak 24 Feb. membuat rantai pangan dan pupuk terganggu, sehingga sejumlah negara sudah mengalami kenaikan harga pangan ecara signifkan.
“Di Indonesia, inflasi akibat kenaikan harga pangan masih terkendali akibat produksi yang masih berjalan baik,” ujarnya.
Namun demikian, menurut Sri Mulyani, di tengah stabilitas produksi dan pergerakan harga komoditas pangan dalam negeri , pemerintah tetap mewaspadai inflasi tahunan yang pada semester I, 2022 sudah mencapai 3,6 persen.
Demi menjaga agar tingkat inflasi 2022 sesuai target (3,5 – 3,45 persen), pemerintah akan tetap menjaga momentum pemulihan ekonomi domestik yang sangat kuat, dengan perkiraan pertumbuhan ekonomi 2022 antara 4,9 sampai 5,4 persen.
Mesin pertumbuhan ekonomi yang didorong yakni dari sisi konsumsi rumahtangga, investasi dengan ragam ekspansi kapasitas, dan juga di sektor eksternal, sementara APBN bergeser menjadi instrumen untuk menjaga tingkat konsumen dn investasi.
Untuk menjaga tingkat konsumsi, pemerintah mengalokasikan Rp 104,8 triliun guna membayar konsumsi BBM dan listrik pada semester I – 2022 yang realisasinya setara 35,7 persen dari pagu anggaran 2022 sebesar Rp293,5 triliun.
Harga-harga Mulai Naik
Kenaikan harga-harga pangan mulai terasa seperti yang dicatat Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (6/7), misalnya harga daging sapi kelas 1 di tingkat nasional Rp138-ribu atau naik dari Rp137.700 per Kg pada (30/6).
Harga Cabai rawit merah Rp97.250 atau naik dari Rp95.300 dan bawang merah ukuran sedang Rp60.750 dari Rp60.250.
Sementara Peneliti dari Institute for Development of Econmics and Finance (Indef) Rusli Abdullah memperirakan, jika situasi tidak berubah, tidak mustahil, inflasi 2022 bisa mencapai lima persen.
Indef merekomendasikan peningkatan poduktivitas pangan dalam negeri melalui pemberian insentif pada petani, meningkatkan penggunaan produk dalam negeri, mempercepat hilirisasi sumber daya alam dan realisasi kerjasama perdagangan dengan negara non tradisional.
Agaknya bangsa Indonesia masih harus tetap prihatin dan mengetatkan ikat pinggang di penghujung transisi pandemi Covid-19 menuju endemi saat ini.
Yang penting, segenap elemen bangsa haus kompak menghadapi kesulitan bersama-sama, dan jangan ada yang bermain di air keruh atau cuma nyinyir menyaksikan dari jauh. (Kompas/ns).




