
PERANG melawan pandemi Covid-19 bisa berlangsung lama, mungkin saja sampai 2022, walau vaksin sudah ditemukan, masih banyak faktor lain yang membuat pandemi tak dapat dipastikan kapan berakhir.
Hal itu tercermin dari proyeksi hasil studi tim Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) dan Bappenas yang disampaikan dalam diskusi di Jakarta (Kompas, 24/10).
Proyeksi tersebut, kata Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat dan Kebudayaan Bappenas Subandi Sardjoko, merupakan hasil studi akademik sebagai masukan bagi penyusunan kebijakan dan pemberian layanan kesehatan.
Menurut Epidemiolog FKM UI Iwan Ariawan, timnya menyiapkan tiga skenario yang diproyeksikan berdasarkan model epidemi yakni yang sekarang dilakukan, intervensi lebih ketat (positif) atau lebih longgar lagi (negatif).
Jika skenario pertama (PSBB Transisi dengan sejumlah kelonggaran) yang diberlakukan saat ini diteruskan, Covid-19 bakal belum terkendali sampai akhir 2021. Wabah baru sampai puncaknya pada kuartal I dengan tambahan jumlah orang terpapar 40.000 per hari.
Jumlah penambahan kasus baru bisa ditekan menjadi 25.000 per hari jika diterapkan skenario kedua melalui peningkatan tes, pelacakan dan isolasi serta cakupan protokol kesehatan lebih luas.
Sebaliknya, penerapan skenario ke-3 yang lebih longgar, bisa meningkatkan penambahan harian menjadi 60.000 kasus pada puncak wabah nanti.
Jumlah korban tewas akibat Covid-19, lanjutnya, jika menggunakan skenario pertama diperkirakan 420.000 orang pada puncaknya, sekitar 100.000 orang pada skenario kedua dan tentu lebih banyak lagi jika pada skenario ketiga (lebih longgar).
Angka Penyebaran Masih Tinggi
Menurut catatan, penambahan kasus harian tertingi terjadi pada 25 September lalu dengan 4.823 kasus, dan sampai 23 Okt, tercatat 381.910 orang terpapar (penambahan kasus harian 4.369), yang meninggal 13.077 (penambahan harian 118 orang) dan sembuh 365.100 orang (penambahan 4.094 orang).
Ancaman lonjakan Covid-19 di depan mata di tengah kerumunan massa yang potensial bakal terjadi pada masa kampanye pilkada sejak 26 September hingga hari pencoblosan, 9 Desember, libur panjang (29 Nov. sampai 1 Desember) dan aksi-aksi demo penolakan UU Cipta Kerja.
Terkait mobilitas warga, perlu diperhatikan data Quebic Dana Anak-anak PBB (Unicef) yang menyebutkan, dengan proporsi penduduk di rumah di atas 40 persen, tidak ditemukan penambahan kasus baru paparan Covid-19, bahkan cenderung turun 500 kasus per hari.
Sebaliknya, jika proporsi jumlah penduduk di rumah di bawah 40 persen, terdapat penambahan 500 kasus kasus baru dari setiap penambahan satu persen penduduk yang berada di luar rumah.
Itu sebabnya, Mendagri Tito Karnavian menerbitkan Surat Edaran No. 440/5876/SJ tentang Antisipasi Penyebaran Covid-19 pada Libur dan Cuti Bersama 2020 yang isinya a.l. meminta kepala daerah mengingatkan warganya menghindari berpergian pada pekan depan.
Covid-19 masih ada di sekitar kita. Patuhi protokol kesehatan demi keselamatan diri, keluarga dan orang lain.



