Covid-19 Ciptaan Manusia?

Covid-19 diciptakan oleh AS atau China? Padahal jumlah korban di AS tertinggi di dunia, dan China yang pertama jadi korbannya. Keduanya juga menggelontorkan milyaran, bahkan AS sampai 2 triliun dollar untuk menangani penyebaran virus tersebut. Alih-alih saling cari kambing hitam, ayo bersatu bahu-membahu melawan penyebarannya!

JIKA di tanah air, pandemi Covid-19 diramaikan oleh isu politisasi bansos oleh sejumlah kepala daerah yang akan maju lagi pada pilkada, AS dan China saling tuding terkait asal-muasal virus tersebut.

China menuding tentara AS yang melawat ke Wuhan, China lah yang pertama  menyebarkan virus corona galur baru atau dikenal sebagai SARS-Cov2 (Covid-19)  sehingga mengawali outbreak di ibukota Prov. Hubei tersebut, lalu menyebar ke 214 negara di lintas benua.

Sebaliknya, Presiden AS Donald Trump mencurigai China yang dengan sengaja mengembangkan virus Covid-19 dari Institut Virologi Wuhan di China sehingga kemudian mewabah menjadi musibah manusia sejagat.

Virus apa saja termasuk Covid-19 menyerang korban tanpa pilih-pilih, tak peduli bangsa sendiri atau bangsa lain, sesama atau dari kelompok  berbeda ideologi, lintas agama dan keyakinan, sehingga mustahil rasanya, ada orang atau para pihak sengaja memproduksinya.

Di AS misalnya,sampai 5 Mei tercatat hampir 68.000 korban meninggal dari sekitar 1,2 juta orang warganya yang terinfeksi Covis-19 atau tertinggi di dunia, baik jumlah yang meninggal mau pun terpapar.

Apa masuk akal, jika tak satu pun keluarga korban, pers, parlemen (anggota Senat maupun Kongres), pakar-pakar virologi, epidemiologi dan pakar-pakar disiplin ilmu lainya tidak ada yang protes jika orang yang menciptakan vitus tersebut ada di negara mereka?

Angka kematian akibat Covid-19 di negara sekutu-sekutu AS di Eropa juga yang tertinggi,  seperti Itali (sekitar 28.300 orang), Inggeris (hampir mencapai 28.000 orang) dan Spanyol (hampir 25.000 orang).

Janggal pula rasanya , tidak ada yang protes terhadap  AS jika mereka mengetahui, orang-orang di negara sekutu mereka (AS) ternyata yang membuat Covid-19. Masuk akalkah, jika tidak satu pun dari mereka yang mengetahuinya?

Jika China dalangnya, sama tidak masuk akal, karena negara tirai bambu itu juga tunggang-langgang menjadi “tuan rumah” pertama yang disambangi Covid-19 dengan 4.000 korban tewas dan sekitar 100.000 terpapar.

Melumpuhkan Dunia

Selain merenggut hampir 252.000 nyawa dan memapar 3,6 juta warga dunia, roda-roda ekonomi dan kegiatan usaha lumpuh, belum lagi dana yang digelontorkan untuk menangani Covid-19 termasuk menemukan vaksinnya, tidak tanggung-tanggung nilainya.

China, menurut catatan, menggelontorkan anggaran sekitar 16 milyar dollar AS (atau setara Ro240 triliun) untuk penanganan Covid-19, sementara AS mengalokasikan 2 triliun dollar AS (sekitar Rp30.000 triliun) atau sekitar 14 kali APBN RI tahun 2020.

Koordinator Teknis Covid-19 Badan Kesehatan Dunia (WHO) Maria van Kerkhove juga menampik teori bahwa virus yang menjadai pandemi global itu adalah rekayasa manusia.

Yang benar, menurut dia, penularan Covid-19 pertama kalinya terjadi dari satwa ke satwa, sehingga yang harus dicari adalah satwa pertama yang menjadi transisi penularan ke manusia.

Kantor Urusan Intelijen Nasional AS (ODNI) dalam pernyataannya (30/4)juga tidak mempercayai,  Covid-19 buatan manusia atau hasil modifikasi atau rekayasa genetik, bahkan mereka mencemaskan, analisa tersebut bisa menciptakan distorsi yang bisa dimanfaatkan untuk tujuan politik.

Jadi, ketimbang saling memolitisasi atau gaduh mencari kambing hitam, mending AS dan China dan negara-negara lainnya bahu membahu memerangi Covid-19, musuh bersama kita semua, umat manusia. (Berbagai sumber/NS)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement