Covid-19 Muncul Lagi di 22 Negara

Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan, sudah 22 negara terkonfirmasi varian virus baru Covid-19 NB1.8.1 di 22 negara. (ilustrasi: pixabay).

COVID-19 yang menjadi pandemi global sejak  medio Desember 2019 sampai Juni 2023 , menewaskan 1,3 juta orang dan memapar 53,3 juta penduduk di 195 negara, dilaporkan muncul lagi di sejumlah negara dengan varian baru, namun di Indonesia penyebarannya relatif masih aman.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) Rabu lalu (29/5) mengungkapkan, kasus penyakit disebabkan infeksi virus SARS-CoV-2 itu  kembali naik di sejumlah wilayah di Pasifik Barat, daratan Eropa, Amerika hingga Asia Tenggara (Malaysia, Singapura, Thailand dan Vietnam).

Hingga 18 Mei 2025, sebanyak 518 sekuens varian baru virus NB.1.8.1 telah dikirimkan ke Global Initiative for Sharing all Influenza Data ( GISAID) dari 22 negara, mewakili 10,7 persen dari total sekuens global yang tersedia pada minggu epidemiologi ke-17 tahun 2025.

Meskipun tergolong rendah, angka prevalensi tersebut  meningkat signifikan dari 2,5 persen, empat minggu sebelumnya pada minggu epidemiologi ke-14, yakni periode 31 Maret-6 April 2025.

Vaksin COVID-19 yang saat ini sudah diaplikasikan di berbagai layanan kesehatan global  diperkirakan tetap efektif terhadap varian NB.1.8.1, baik untuk mencegah gejala maupun penyakit berat.

“NB.1.8.1 telah ditetapkan sebagai varian SARS-CoV-2 yang sedang dipantau (variant under monitoring/VUM), dengan proporsinya yang terus meningkat secara global, sementara varian LP.8.1 mulai mengalami penurunan,” demikian pernyataan resmi WHO, dikutip Minggu (1/6).

Meski terjadi peningkatan kasus dan rawat inap secara bersamaan di beberapa negara akibat varian NB.1.8.1, sejauh ini menunjukkan, varian tersebut tidak lebih  parah dibandingkan dengan varian lain yang pernah muncul

WHO mengungkapkan, NB.1.8.1 berasal dari varian rekombinan XDV.1.5.1 yang merupakan satu dari enam varian di bawah pengawasan (VUM)  yang dilacak oleh WHO, dan ditetapkan pada 23 Mei 2025.

Dibandingkan dengan varian dominan saat ini, LP.8.1, NB.1.8.1 memiliki mutasi tambahan pada protein spike, seperti T22N, F59S, G184S, A435S, V445H, dan T478I.

Dibandingkan dengan varian JN.1, NB.1.8.1 juga memiliki mutasi T22N, F59S, G184S, A435S, L455S, F456L, T478I, dan Q493E.

“Mutasi spike pada posisi 445 diketahui meningkatkan afinitas (kemiripan) pengikatan ke reseptor hACE2, yang dapat meningkatkan penularan varian ini.

Mutasi pada posisi 435 diketahui mengurangi efektivitas antibodi kelas 1 dan kelas 1/4. Sementara itu, mutasi pada posisi 478 diketahui dapat meningkatkan kemampuan varian ini menghindari antibodi kelas 1/2,” ungkap WHO.

“WHO dan Kelompok Penasihat Teknis tentang Komposisi Vaksin COVID-19 (TAG-CO-VAC) juga terus secara berkala

menilai dampak varian terhadap kinerja vaksin COVID-19 untuk memberikan informasi dalam pengambilan keputusan tentang pembaruan komposisi vaksin,” kata  WHO.

WHO juga memperpanjang Rekomendasi Tetap IHR untuk COVID-19 hingga 30 April 2026, guna mendukung negara anggota dalam mengelola risiko pandemi selama masa transisi ke pengendalian penyakit yang lebih luas.

Pengenaan masker wajah di ruang-ruang publik disarankan, begitu juga pola hidup tertib termasuk sering menggunakan hand sanitasi.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here