Covid-19: Pembelajaran dari India

Ritual atau pesta keagamaan seperti festival penyucian diri Kuhm Mela di Sungai Gangga, Negara Bagian Uttarakhand , India yang diikuti ribuan orang ikut memicu lonjakan Covid-19.

LONJAKAN kasus baru Covid-19 akibat pengabaian terhadap protokol kesehatan di tengah helat, prosesi keagamaan atau aktivitas politikĀ  melibatkan massa dalam jumlah besar perlu diantisipasi.

Di India misalnya, terjadi peningkatan signifikan kasus orang terpapar Covid-19, Rabu (14/4) yakni 184.372 orang setelah ribuan orang berkerumun untuk mengikuti upacara Kumh Mela di negara bagian Uttarakhand sehari sebelumnya.

Dalam acara itu, ribuan massa pemeluk agama Hindu selain berkerumun, tidak menjaga jarak danĀ  tidak mengenakan masker, memadati Sungai Gangga untuk menyucikan diri atau ritual mandi.

Selain ritual keagamaan tersebut, di sejumlah negara bagian di India beberapa waktu lalu juga digelar pemilu lokal yang mengundang konsentrasi massa.

Menurut catatan, dari hampir mendekati 137 juta orang yang terkonfirmasi positif Covid-19 di seluruh dunia, India menempati posisi kedua sekitar 13,5 juta orang setelah AS (31,5 juta orang).

Lonjakan kasus Covid-19 juga terjadi di Thailand setelah kerumunan massa yang pada acara tahun baru setempat yang disebut Sonkran, begitu pula Brazil pasca Karnaval Rio de Janeiro yang kesohor dan dihadiri ribuan wisatawan manca negara.

Di Indonesia sendiri, lonjakan ksus paparan Covid-19 juga terjadi setelah libur panjang perayaan keagamaan, sekolah atau lainnya.

Data dari hasil Sidang Kabinet pada 7 April lalu yang diolah Litbang Kompas menyebutkan, pada libur panjang Idul Fitri 2020 (24 dan 25 Mei) terjadi 93 persen kenaikan kasus Covid-19, pada libur Agustus 119 persen, libur Oktober 95 persen dan Natal & Tahun Baru 78 persen.

Sehingga untuk mencegah terulangnya hal itu, pemerintah memberlakukan larangan mudik lebaran 1442H mulai tanggal 6 sampai 17 Mei nantiĀ  terhadap ASN, TNI, Polri, karyawan BUMN dan swasta serta unsur masyarakat lainnya.

Untuk menegakkan aturan tersebut, pemerintah melakukan pos-pos penyekatan yang diawasi selama 24 jam oleh petugas yang bekerja selama tiga shift di 313 titik pintu keluar masuk arus mudik mulai dari Lampung, Pulau Jawa Sampai Bali.

Menahan diri untuk tidak mudik lebaran tahun ini, perlu demi kemaslahatan dan keselamatan diri, keluarga dan bangsa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement