SINDIKAT video mesum yang melibatkan anak-anak ABG dengan wanita dewasa, beberapa hari lalu terbongkar di Bandung. Hubungan asmara antara wanita dewasa dengan lawan lelaki jauh lebih muda, bahasanya sekarang disebut: brondong. Jika menengok ke legenda Damarwulan, ditemukan juga kisah semacam itu. Saat ratu Kencana Wungu menjadi raja Majapahit, Damarwulan masih dalam kandungan. Berati ketika sang raja dinikahi selisih usianya paling tidak 20-40 tahun. Apakah Raden Damarwulan memang lelaki brondong?
Bagi kalangan masyarakat Jawa (Jateng-Jatim-DIY) yang kini berusia 60 tahun ke atas, pasti kenal bahkan ngelotok tentang kisah legenda Damarwulan. “Ilmu” Damarwulan itu diperoleh dari Pak Guru ketika sekolah di SR, atau dari nonton ketoprak yang dipentaskan dari kampung ke kampung, juga dari bacaar cerita rakyat yang bertebaran di majalah Bahasa Jawa seperti: Panjebar Semangat, Jaya Baya, Waspada, Mekarsari dan Djaka Lodang.
Legenda Damarwulan memang mengasyikkan, terutama ketika membaca lewat “Lajang Damarwoelan” karya D. van Hinloopen Labberton, seorang guru pengajar bahasa Jawa dan bahasa Melayu (1905). Buku itu aslinya dalam Bahasa Belanda, kemudian diterjemahkan dalam Bahasa Jawa. Dalam bentuk prosa, buku itu tebalnya menjadi lebih dari 300 halaman. Dan ketika disalin dalam bentuk tembang untuk keperluan joged Langendriya Mandraswara, tebal buku tinggal 135 halaman.
“Lajang Damarwoelan” edisi prosa, begitu lengkap isinya; dari Damarwulan lahir di Paluhamba, sampai menjadi raja Majapahit. Bahkan dikisahkan juga tentang Patih Logender yang memberontak dibantu raja seberang Wandan-Anggris. Sedangkan dalam bentuk langendriyan karya RM Tandakesuma dari Mangkunegaran, hanya dikisahkaan saat Damarwulan lahir, ngenger (jadi pembantu) Patih Logender, ditugaskan rau Kencana Wungu membunuh Menakjingga, sampai kemudian menjadi raja Majapahit.
Baik yang dalam bentuk prosa maupun tembang, ditemukan juga sejumlah adegan lucu. Misalnya tentang Layangseta yang dilempar kecohan (tempat ludah orang makan sirih) oleh Andjasmara, hingga mukanya penuh dubang (ludah merah). Juga saat Nayagenggong ditarik dari sumur mati, Sabdapalon yang berada dibawahnya kejatuhan tinja, karena mendadak Nayagenggong buang air besar.
Ada juga tentang Menakjingga yang sakti, ditusuk pakai keris apapun tidak mempan. “Silakan tusuk seluruh tubuhku, takkan melukainya. Asal saja bukan kamu tusuk pas bagian mata!” sesumban dan sekaligys pesan Menakjingga. Tahu sang musuh membongkar rahasia sendiri, Damarwulan pun langsung menusuk sebelah mata Menakjingga. Raja Blambangan itupun naik pitam.
Tapi di samping lucu, banyak juga adegan janggal dalam kisah Damarwulan. Mengapa ratu Kencana Wungu tidak tahu bahwa Damarwulan sudah berada di kepatihan bahkan diambil menantu Patih Logendar, dijodohkan dengan Anjasmara. Memangnya saat mantu Patih Logender tak mengundang raja sesembahannya. Apa nggak kelewatan itu?
Lalu jalan penghubung Blambangan – Majapahit (Trowulan sekarang) apakah hanya satu, tak ada jalan lain? Ketika Damarwulan pulang menggotong kepala Menakjingga dari Blambangan, kok bisa ketemu Layangseta-Kumitir di Probolinggo. Paling tak masuk akal, saat Damarwulan dalam kandungan ibu umur 3 bulan, ratu Kencana Wungu sudah jadi raja Majapahit. Berarti usia dia paling tidak 20 tahun. Ketika kemudian Damarwulan menikahi Kencana Wungu, setidaknya juga sudah berusia 20 tahunan. Berarti 20 tahun beristrikan wanita usia 40 tahun, berondong dong!
Tapi namanya juga dongeng, yang merupakan kepanjangan kata dipaido mengengeng (disalahkan juga tak peduli). Janggal atau tak masuk akal kisah itu, tak perlu diperdebatkan. Buang-buang energi dan emosi belaka. (Cantrik Metaram).





