
JAKARTA, KBKNews.id – Serangan militer intensif Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran kini telah meluas menjadi krisis regional yang dampaknya dirasakan secara global. Komoditas minyak melonjak hingga pasokan pangan terganggu.
Konflik ini telah menyeret setidaknya 14 negara, mengganggu stabilitas pasar energi dunia, dan menimbulkan pertanyaan serius mengenai tujuan akhir serta biaya manusia dari perang ini.
Jurnalis New York Times, Eric Schimdt seperti dilansir Rabu (11/3/2026), menjelaskan situasi di lapangan, strategi kedua belah pihak, dan dampak luas dari konflik yang sedang berlangsung ini.
Warga Sipil Ketakutan
Dampak langsung perang paling dirasakan oleh warga sipil di seluruh wilayah tersebut. Serangan dahsyat terasa di Lebanon. Seorang warga di dekat Beirut menceritakan keharusan terbangun di dini hari akibat suara rudal dan bom yang terus-menerus menghantam lingkungan mereka.
Sementara di Uni Emirat Arab (UEA), sejumlah keluarga terpaksa berlindung di ruang bawah tanah setelah mendengar ledakan dari sistem pencegat rudal.
Dampak Serangan
Eric Schmidt menjelaskan bahwa dalam 10 hari pertama, militer AS dan Israel telah menghantam lebih dari 4.000 target di Iran. Fokus utamanya adalah melumpuhkan kemampuan pertahanan dan ofensif Iran.
AS mengklaim telah menghancurkan rudal darat-ke-udara untuk memberikan kebebasan gerak bagi jet tempur AS dan Israel. Selain itu. Serangan itu menargetkan gudang rudal jarak jauh yang dianggap paling berbahaya.
Pentagon juga mengklaim telah menenggelamkan sebagian besar kapal utama Angkatan Laut Iran (sekitar 42 kapal) untuk mencegah gangguan terhadap perdagangan di Teluk Persia. Serangan itu berusaha menghancurkan pabrik dan persediaan drone Iran yang terkenal efektif (dan juga digunakan Rusia di Ukraina).
Pentagon memperkirakan serangan tersebut berhasil mengurangi jumlah rudal yang diluncurkan Iran sebesar 90% pada hari pertama, dan drone sebesar 83%. Namun, Schmidt menekankan bahwa Iran masih memiliki sekitar 50% armada rudal dan persediaan drone yang besar. Ini menciptakan situasi seberapa cepat Iran dapat meluncurkan sisa senjatanya untuk menimbulkan kerusakan maksimal, melawan seberapa cepat AS-Israel dapat melumpuhkan kemampuan tersebut.
Keretakan Hubungan AS dan Israel
Schmidt menyoroti adanya keretakan awal antara AS dan Israel. Israel menyerang sekitar 30 depot minyak Iran. Meskipun AS setuju depot minyak adalah target militer, tapi Presiden Trump berang karena dampak ekonominya.
Schmidt mengonfirmasi laporan bahwa sekitar 1.300 warga sipil Iran tewas. Salah satu insiden paling tragis adalah serangan terhadap pangkalan angkatan laut Iran yang bersebelahan dengan sekolah dasar, menewaskan 175 orang. Meskipun AS mengklaim menggunakan senjata presisi untuk meminimalisir korban sipil, Schmidt menyebut insiden sekolah tersebut kemungkinan besar adalah kesalahan intelijen.
Ketahanan Rezim Iran
Salah satu tujuan Trump adalah penggulingan rezim. Namun, Schmidt mengungkapkan fakta mengejutkan penilaian intelijen AS sebelum perang menyatakan bahwa serangan udara saja tidak akan mampu menumbangkan Iran.
Setelah sepuluh hari, perang ini tampaknya akan berlangsung lama. Rezim Iran tidak tumbang, dan Trump menuntut pemerintah Iran menyerah total.




