Telah gugur pahlawanku
Tunai sudah janji bakti
Gugur satu tumbuh seribu
Tanah air jaya sakti
(Sepenggal lagu “Gugur Bunga”, Ismail Marzuki)
Lagu “Gugur Bunga” karya Ismail Marzuki sepantasnya kini juga disematkan untuk menghormati para amil zakat yang yang gugur ditengah pandemi Covid-19. Di tengah gelombang tinggi paparan virus Covid-19 yang kini melonjak tajam jumlahnya, para amil pun banyak yang terpapar, bahkan sebagiannya meninggal dunia karena tubuhnya tak lagi sanggup bertahan.
Lagu Gugur Bunga, walau terasa pilu dan penuh kesedihan, sejatinya terasa dalam nuansa penghormatannya. Kalau Ismail Marzuki menciptakan lagu ini dan kemudian ditujukan dalam rangkaian panjang peristiwa kemerdekaan 17 Agustus 1945 hingg penyerahan kedaulatan pada akhir 1949. Bagi para amil, setidaknya lagu yang sama, kita tujukan untuk para amil dan pegiat kemanusiaan yang terus berjuang tak kenal lelah membantu menangani dampak buruk pandemi ini.
Amil Zakat di Tengah Pandemi
Amil zakat sesungguhnya manusia biasa. Ditengah terpaan pandemi Covid-19 yang masih terus menerpa bangsa ini, para amil tetap bekerja, melakukan layanan terbaiknya untuk sesama. Konsekunsinya, sejumlah amil terpapar virus, dan sebagiannya meninggal dunia.
Sebagaimana kita tahu, paska libur lebaran dan pelonggaran kebijakan penanganan Covid-19, Data Satgas Covid-19 tingkat nasional mencatat adanya penambahan 13.737 kasus Covid-19 dalam 24 jam terakhir. Penambahan kasus itu tersebar di 33 provinsi. Dengan demikian, hingga Minggu (20/6/2021), total kasus Covid-19 di Tanah Air berjumlah 1.989.909 kasus.
Data tertinggi menurut Satgas, tertinggi ada di DKI Jakarta dengan 5.582 kasus, disusul Jawa Tengah sebanyak 2.195 kasus dan Jawa Barat dengan 2.009 kasus. Kemudian, ada penambahan 371 kasus kematian akibat Covid-19. Dengan demikian, pasien Covid-19 meninggal dunia jadi 54.662 orang.
Sayangnya, setelah setahun lebih pandemi Covid-19 melanda Indonesia, belum ada data amil zakat yang secara rutin di update, baik yang terpapar, masuk rumah sakit, hingga meninggal dunia. Di saat yang sama, data kematian Tim medis demikian rapi ter-update, bahkan ada pula Pusara Digital yang sengaja dibuat untuk mengenang sejawat yang gugur. Dalam Pusara Digital tadi, didalamnya ada data cukup lengkap mengenai daftar nama, profesi, dan biografi para nakes yang telah gugur.
Angka kematian para amil memang tak setinggi Tim Medis di negeri ini. Namun, keberadaan para amil zakat cukup penting adanya bagi para dhuafa, juga muzaki yang selama ini dilayani para amil. Mereka adalah sama-sama pahlawan, setidaknya seperti kata lagu Gugur Bunga, mereka semua “Pahlawan Hati”.
Siapakah kini plipur lara
Nan setia dan perwira
Siapakah kini pahlawan hati
Pembela bangsa sejati
Menjaga Pahlawan Hati
Amil zakat sebagai “Pahlawan Hati” tentu sangat dinanti, baik oleh muzaki apalagi mustahik di negeri ini. Agar para pahlawan dan pejuang ini senantiasa sehat dan terus bisa berkiprah maksimal, mari selalu kita doakan agar mereka kuat, sehat dan selamat dalam menunaikan tugasnya yang mulia.
Kita juga harus membantu dan mengingatkan agar para amil ini tak mudah Lelah dan gampang menyerah. Mereka juga kita dorong agar mematuhi protokol kesehatan selama bertugas dan tetap waspada dimanapun berada.
Kehilangan amil zakat, walau satu orang pun, adalah kerugian bagi dunia zakat Indonesia. Selain akan berkurangnya sumber daya manusia (SDM) di dunia zakat, juga akan berkurang para penggerak dan pejuang kesejahteraan mustahik di negeri ini. Amil adalah juga instrument penting untuk membantu mustahik tetap survive dalam kehidupan-nya, termasuk di tengah pandemi yang belum jelas akan berakhir kapan.
Mari kita terus bekerja di tengah dunia zakat Indonesia. Bekerja ditengah kepungan pandemi yang belum sirna dan berjuang memperbaiki nasib para dhuafa hingga mereka sejahtera dan hidup mulia.
Sukses untuk amil Indonesia, sukses untuk semua.
Kerja sama-sama, keren sama-sama.
#Ditulis di selatan Kota Semarang, Senin, 21 Juni 2021




