
PARA koruptor di negeri ini lebih jeli dan lihai ketimbang aparat keamanan, apalagi dibandingkan dengan unit-unit pengawasan di instansi atau Lembaga seperti inpektorat atau satuan pengawas internal lainnya.
Buktinya, nyaris apa saja, bahkan dengan nilai mencengangkan, sampai triliunan rupiah, luput dari pencegahan, dan sering setelah beberapa tahun baru ketahuan, terkadang secara kebetulan.
Contohya, Kadivprovpam Irjenpol Ferdy Sambo yang kasusnya baru terkuak setelah terjadi pembunuhan terhadap bawahannya, Brgadir Yoshua, atau bos Kantor Pajak Jaksel Rafael Alun Trisambodo yang diduga menilap triliunan pajak setelah kasus penganiaan oleh anaknya, Mario Dandy terhadap David Ozora mencuat di media.
Kasus teranyar terkait 34 Dana Pensiun di BUMN atau 70 persen bermasalah diungkapkan oleh Menteri BUMN Erick Thohir dalam jumpa pers terkait perkara pengelolaan dana pensiun di perusahaan plat merah itu di Kejagung, Jakarta (3/10).
“Ini sangat mengecewakan, pegawai BUMN yang sudah bekerja puluhan tahun, hari tuanya dirampok oleh pengelola yang biadab, “ ujarnya.
Untuk itu, BUMN menggandeng Kejaksaan Agung, Badan Pengawas Keuangan Pembangunan (BPKP) untuk melakukan audit secara bertahap, diawali empat dana pensiun (PT Eksploitasi dan Industri Hutan, PT Angkasa Pura I, PT Rajawali Nusantara Indonesia dan PT Perkebunan Nusantara.
Ketua BPKP M. Yusuf Ateh yang hadir dalam acara itu mengungkapkan, dari 10 persen temuan hasil audit terhadap kempat perusahaan BUMN dari total transaksi Rp1.125 triliun terdapat kerugian negara sekitar Rp300 miliar.
Sedangkan menurut catatan OJK, total aset dana pensiun BUMN pada 2022 sebesar Rp126 triliun, sedangakan rata-rata kecukupan dana (RKD) untuk program manfaat pasti berada di kisaran 93 persen, di bawah batas RKD 100 persen.
Kasus megakorupsi oleh pengelola dana pensiun perusahaan BUMN yang jumlahnya signifikan menyangkut PT Asabri yang merugikan negara sampai Rp 5,4 triliun dan PT Jiwasraya Rp16,8 triliun
Praktek korupsi di negeri ini sudah sangat akut, ibarat kanker sudah masuk stadium empat, terang benderang, vulgar dan brutal, sehingga agaknya diperlukan sosok pemimpin “setengah dewa atau malaikat” yang bisa membasminya.




