
WALAU Demam Berdarah Dengue (DBD) di tanah air belum mewabah, jumlah korbannya masih relatif sedikit, langkah pencegahan harus dilakukan sedini mungkin mengingatĀ penyebaran penyakit akibat virus sangat cepat.
Menurut para ahli kesehatan, DBD menyebar akibat cuaca ekstrim yakni musim hujan tidak teratur sebagai dampak El Nino danĀ naiknya suhu udara sehingga ideal bagi pertumbuhan nyamuk.
DBD yang merebak di Bangladesh sehingga menjadi wabah terparah sejak awal tahun 2023, sejauh ini sudah menewaskan 1.006 orang termasuk 112 anak dan balita berasal dari 200-ribuanĀ kasus terkonfirmasi .
Mengutip data dari Ditjen Pelayanan Kesehatan Bangladesh (DGHS), selama Agustus lalu ada 342 kematian yang meningkat pada September dengan 396 kematian dari 80.000 pasien yag dirawat di sejumlah RS.
Yang menggembirakan, dari 206.288 kasus DBD yang terkonfirmasi sepanjang 2023, sebanyak 195.925 korban sembuh atau tingkat kesembuhannya mencapai 95 persen.
Sebaliknya, menurut mantan Direktur Pegendalian Penyakit DGHS dr. Nazir Ahmed, angka kematian akibat DBD sepanjang tahun ini lebih tinggi dibandingkan angka akumulasi kematian sejak tahun 2000 saat pencatatan korban DBD mulai dihitung.
Dibandingkan angka kematian tahun sebelumnya (2002) sebanyak 281 orang, berarti kematian sepanjang tahun 2023 (sampai Sept.) lebih empat kali lipatnya.
Di Indonesia sendiri, menurut data Kemenkes, tercatat 35.694 kasus sepanjang 2023 (sampai Mei) dengan 270 kematian, terbesar di Jawa Tengah (68), disusul Jawa Barat (48) dan Jawa Timur (27).
Sedangkan pada 2022, tercatat 1.236 kematian dimana mayoritas (63 persen) dialami anak berusia 0 sampai 14 tahun.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) juga mengingatkan, selain DBD, penyakit lainnya akibat virus yang ditularkan nyamuk seperti chikungunya, demam kuning dan zika perlu diwaspadai karena penyebarannya sangat cepat di tengah perubahan iklim.




