“Susan, Susan, Susan, kalau gede mau jadi apa?”
“Aku kepingin pinter biar jadi dokter….”
Tiba-tiba penggalan lirik lagu yang dibawakan Ria Enes dan boneka Susan berputar senyap di telinga saya. Pada awal 1990-an, lagu itu sangat populer di kalangan anak-anak.
Tidak heran bila cita-cita menjadi dokter sangat diminati anak-anak pada masa itu. Untung saja Boneka Susan menjawab ingin menjadi dokter. Saya tidak bisa membayangkan jika pada saat itu Susan menjawab dirinya ingin menjadi koruptor atau provokator.
Lagu edukatif seperti itu sayangnya saat ini langka ditemui. Lagu anak tergerus oleh arus K-Pop. Selain musik K-Pop atau yang berasal dari Barat, sinetron di layar kaca tidak kalah berbahayanya dalam membentuk pola pikir anak-anak.
Kebiasaan orang dewasa untuk bertanya kepada anak-anak, “Nak, kamu kalau sudah besar, mau jadi apa?” Sejak kecil, dari mulai guru PAUD, guru TK, guru SD, orangtua, paman, bibi, dan orang-orang dewasa di sekitar anak akan mengajukan pertanyaan serupa. Menariknya, anak-anak pun akan menjawab sesuai dengan kondisi yang sedang terjadi. Berubah-ubah terus sampai kelak mereka menemukan yang benar-benar mereka ingin wujudkan. Sebagian dari mereka menjawab, “jadi dokter!”, “insinyur!”, “artis!”, sampai “aku mau jadi presiden!”
Memiliki cita-cita seperti itu bagaikan memelihara pelita dalam hidup, hingga hidup pemiliknya akan terus memiliki arah dan tujuan yang jelas. Namun, bagaimana nasib sebagian besar anak-anak buruh migran Indonesia seperti yang saya temui di Siantan, Pontianak Utara, Kalimantan Barat?
Anak-anak itu sebagian besar berlatar keluarga pemulung dan pembantu rumah tangga. Saat yang sama, tayangan yang mereka tonton belum menjadi tuntunan. Ketika anak-anak itu ditanya tentang cita-cita, mereka akan menjawab spontan, “Saya mau jadi pembantu”. Beragam memang alasan mereka. Ada yang ingin menjadi pembantu di Malaysia agar cepat kaya. Yang mau jadi pemulung juga beralasan serupa: agar bisa dapat uang. Intinya, mereka bertekad untuk menjadi orang-orang yang mereka lihat di sekeliling mereka.
Keadaan di Siantan bukan mustahil untuk diubah. Bekerja sama dengan pihak pemerintah daerah setempat dan dosen-dosen di Pontianak, guru-guru muda dari Sekolah Guru Indonesia mencoba menjadi pelita kecil dalam kehidupan anak-anak Siantan. Program yang dilakukan adalah memberikan program ekstrakulikuler Bahasa Inggris, IPA, dan Matematika selama tiga bulan dengan menyisipkan nilai-nilai semangat hidup untuk terus memperbaiki kualitas hidup. Pengajarannya pun dilakukan dengan menyenangkan seraya memberikan perhatian yang dibutuhkan.
“Saya mau jadi guru!”
Kata itu diucapkan seorang siswa perempuan, sebut saja bernama Siti. Padahal, sewaktu di awal program, ia bercita-cita ingin menjadi pembantu.
Kita bisa melihat dalam pengalaman Siti, betapa peranan pendidikan dalam kehidupan seseorang sangatlah penting. Betapa proses pendidikan sangatlah memengaruhi pola pikir anak Indonesia. Siapa faktor penentunya? Tentu saja sang guru! Jika di sekolah seorang guru bisa menemukenali bakat siswa, kesenangan siswa, serta mengajarkan siswa dengan beragam cara, sekolah pun akan menjadi hal yang dinantikan bukan ditunggu hari liburnya.
Tidaklah berlebihan rasanya jika setiap guru Indonesia semestinya senantiasa memastikan setiap cita-cita anak didiknya. Memastikan para siswanya memiliki tujuan hidup, memiliki motivasi yang akan terus menjadi pelecut semangatnya. Jika mulai redup, sang guru terus membimbingnya tanpa surut. Guru Indonesia, jadilah inspirasi cita-cita siswa anda! * Irhamni Rahman/ Pegiat Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa





