Dasar Zakat Penghasilan Sesuai Ajaran Rasul

Ilustrasi. (Foto: Ist)

JAKARTA – Pada dasarnya, ulama membagi zakat menjadi dua jenis: zakat fitrah dan zakat harta (zakat mal). Zakat fitrah adalah zakat yang dikeluarkan oleh seorang muslim saat memasuki Syawal, biasanya setelah berpuasa. Ulama mengizinkan zakat fitrah dikeluarkan selama Ramadan.

Sementara itu, zakat harta mencakup berbagai jenis seperti zakat pertanian, zakat perdagangan, zakat perkebunan, zakat peternakan, zakat emas, perak, uang, dan termasuk zakat penghasilan. Dengan demikian, zakat penghasilan merupakan bagian dari zakat harta atau zakat mal.

Landasan zakat penghasilan berasal dari firman Allah SWT dalam QS Al-Baqarah ayat 267, yang memerintahkan untuk menafkahkan sebagian dari hasil usaha yang baik-baik dan tidak memberikan sesuatu yang buruk.

“Wahai orang-orang yang beriman! Belanjakanlah (pada jalan Allah) sebahagian dari hasil usaha kamu yang baik-baik, dan sebahagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu sengaja memilih yang buruk daripadanya (lalu kamu dermakan atau kamu jadikan pemberian zakat), padahal kamu sendiri tidak sekali-kali akan mengambil yang buruk itu (kalau diberikan kepada kamu), kecuali dengan memejamkan mata padanya. Dan ketahuilah, sesungguhnya Allah Maha Kaya, lagi sentiasa Terpuji.” (QS Al-Baqarah  267)

Beberapa ulama menafsirkan ayat ini sebagai perintah tentang sedekah, sementara yang lain menghubungkannya dengan zakat dan infak. Pendapat yang menggabungkan zakat dan sedekah dianggap lebih kuat karena melihat keumuman dari ayat tersebut.

Zakat penghasilan juga didasarkan pada qiyas (analogi). Para ulama yang mendukung zakat penghasilan mengqiyaskan zakat ini dengan zakat pertanian.

Mereka melihat kesamaan antara hasil kerja seorang pegawai yang menerima gaji dengan petani yang mendapatkan hasil panen.

Modal petani adalah tanah dan tenaganya, sementara modal pegawai adalah tempat kerja dan tenaga. Jenis harta yang diterima, baik berupa uang maupun barang, tidak mempengaruhi kewajiban zakat.

Untuk zakat penghasilan, nisab yang digunakan adalah setara dengan 653 kg beras. Misalnya, jika harga beras per kilogram adalah Rp6.000, maka nisab zakat penghasilan adalah Rp3.918.000, dan zakat yang harus dikeluarkan adalah 2,5%.

Jadi, penghasilan Rp1.000.000 belum mencapai nishab dan belum wajib zakat, tetapi tetap dianjurkan untuk bersedekah atau berinfak, meskipun jumlah dan waktunya tidak ditentukan secara khusus.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here