JONGGOL – Teriakan canda dan tawa menyeruak di dalam gedung bekas puskesmas. Meski gerimis turun hampir merata, namun puluhan bocah usia 7 – 14 tahun tampak meriung dalam gedung tua tersebut.
Sambil berdiri Rudi (10) tak henti-hentinya bersorak, Â bersama 20 anak-anak lainnya bocah kelas 4 SD itu juga memeragakan pelbagai cara berkendara yang aman, baik dan benar.
Disebelahnya ada Abdul Hakim (11), ia seperti kebingungan, Â wajahnya datar, sesekali ia mencoba mengikuti gaya Rudi namun salah. Tak pelak anak-anak lain pun tertawa lepas akibat ulah Abdul.
Keceriaan itu rupanya dipicu oleh aksi Kakeko, kakak pengajar dari program Pusat Sumber Belajar Keliling Dompet Dhuafa (PSBK DD). Usai belajar berlalu lintas, kegiatan pun dilanjutkan dengan nonton bareng film animasi syarat nilai kejujuran.
Itulah dia kegiatan minggu pagi di taman baca Jonggol, Â Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Dirintis sejak 4 maret 2016, kini taman baca tersebut mengalami kemajuan. Menurut Faisal Rahman alias Adeng taman baca tersebut mula-mula berdiri dari aksi sosial Brandalun Jonggol (Brandal Alun-alun).
Awalnya taman baca hadir tiap jumat, Â sabtu dan minggu berdiri di pinggir jalan bersanding dengan alun-alun. Seiring berjalannya waktu kehadiran taman baca mendapat respon positif dari warga dan pada akhir januari pindah masuk ke dalam gedung bekas puskesmas Jonggol.
“Awalnya kami buka di pinggir jalan,  setelah makin ramai kami nego penjaga puskesmas supaya gedungnya bisa difungsikan sebagai taman baca.  Alhamdulilah respon dari kecamatan juga positif, ” ucap anggota Brandalun itu kepada KBK, Minggu (12/2).
Saat ini setidaknya taman baca telah memiliki ratusan buku aneka judul. Adeng menilai budaya membaca atau literasi anak-anak Jonggol sangat minim. Â Ditambah pendidikan anak yang jarang sampai perguruan tinggi membuat Adeng bersama Brandalun masih harus terus memfokuskan diri menularkan budaya membaca kepada anak-anak.
“Buku itu sumber pengetahuan. Â Sekarang anak-anak banyam yang main internet, Â itu bahaya. Â Banyak berita hoax di sana. Kalau di buku tidak demikian. Â Oleh karena itu kami sengaja tidak pasang wifi di sini,” ujar Adeng.
Eko Sriyanto pengajar dari Lembaga Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa mengungkapkan kegiatan model taman baca sudah sepatutnya terus ditumbuhkan di setiap kota. Pasalnya pendidikan literasi dikatakan Eko masih sangat minim diajarkan kepada anak-anak. Untuk itu dalam bingkai program ‘Tebar 1000 Senyum untuk Jonggol’ Dompet Dhuafa melalui Lembaga Makmal Pendidikan merasa penting untuk ikut andil supaya pendidikan literasi dapat dirasakan oleh semua pihak.
“Kami ingin membangun prespektif positif terhadap permainan anak. Kegiatannya ada story telling, Â nonton film dan kerajinan tangan. Kami juga berikan donasi buku,” ujar Eko.
Eko berharap hadirnya taman baca dapat menjadi wadah bagi anak-anak dalam mengembangkan minat baca. Kegiatan tersebut juga dihadiri oleh berbagai komunitas antara lain Honda Vario Club dan Ertiga Club yang ikut melakukan donasi buku.





