Derita Warga Ghouta Timur

Warga Ghouta timur sejak Sabtu (24/3), mulai mengungsi setelah ada kesepakatan antara rezim Suriah, Rusia dan pemberontak. Tampak Tentara Rusia sedang membagikan bantuan pada pengungsi.

RIBUAN warga Goutha timur, Suriah yang lolos dari maut akibat terjebak di tengah pertempuran antara pasukan pemerintah Suriah dan Rusia melawan pemberontak mulai diungsikan dari wilayah itu ke tempat aman sejak Sabtu lalu (24/3).

Paling tidak sekitar 7.000 orang terdiri dari warga sipil dan keluarga pemberontak di Ghouta timur, kota Arbin, Zamalka dan distrik Johar yang semula mempertahankan wilayah tersebut ikut mengungsi sejak Sabtu lalu dengan puluhan bus dan ambulan yang disiapkan lembaga kemanusiaan internasional.

Hingga Minggu waktu setempat, masih tampak sejumlah pengungsi yang membawa buntalan pakaian dan perlengkapan seperlunya yang sedang berkemas dan menanti kedatangan bus-bus di sepanjang sisi jalan di kota Arbin.

Wilayah Ghouta Timur yang dipertahankan oleh kelompok pemberontak Faylaq al-Rahman digempur habis-habisan dengan artileri berat pasukan rezim Bashar al-Assad didukung bombardemen dari udara oleh pesawat-pesawat tempur Rusia sejak 18 Februari lalu.

Serangan massif yang dilancarkan terhadap 90 persen wilayah yang berada di bawah kontrol kelompok pemberontak tersebut, berdasarkan laporan Lembaga Pengawas Hak Azasi Manusia di Suriah (SOHR) menewaskan 10.000 orang, dan menciptakan 107.000 pengungsi.

Rusia bersama rezim al-Assad mulai membuka jalur negosiasi dengan kelompok-kelompok perlawanan utama seperti Ahrar al-Sam yang sudah bersedia meninggalkan kota Harasta, mencapai kesepakatan dengan kelompok Faylaq al-Rahman dan sedang dalam perundingan dengan kelompok terbesar di Ghouta timur yakni Jaish al-Islam.

Sebenarnya pihak Rusia menjamin keamanan keluarga pemberontak yang ingin tetap tinggal di kota Arbin atau Zamalka yang dikuasai rezim Suriah, namun trauma mendalam agaknya membuat mereka enggan hidup berdampingan dengan kelompok pro-pemerintah yang telah membantai atau menyengsarakan keluarga dan kerabat mereka.

Lagipula, selain tidak yakin atas jaminan keamanan yang diberikan Rusia, warga sipil di kedua kota tersebut juga disarankan oleh pengawas HAM mengungsi ke kota-kota lain yang lebih aman.

Perang Suriah yang bermula dari revolusi massa menentang rezim Hafez al-Assad , kemudian diteruskan puteranya, Bashar al-Assad yang berkuasa puluhan tahun, meluas setelah kekuatan regional (Iran dan Turki) serta global (AS dan negara Barat lainnya dan Rusia) melibatkan diri.

Diperkirakan lebih setengah juta orang tewas, sebagian besar warga sipil sejak perang berkecamuk pada 2011, jutaan lainnya mengungsi ke negara tetangga atau bertarung nyawa di lautan lepas menyeberangi daratan Eropa.

Di front lainnya, pasukan Turki yang sedang melancarkan Operasi militer Ranting Zaitun ke wilayah Afrin, Suriah utara sejak 20 Januari lalu untuk memerangi milisi Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG) sedang bergerak ke kota lainnya Manbij.

Entah sampai kapan derita rakyat Suriah berujung.
(AFP/Reuters/NS)

Advertisement