MESKI hanya Toyota Kijang Inova 2010, para penumpang di dalamnya ada tiga wanita cantik mempesona. Mereka adalah Dewi Kunthi dari Mandura, Dewi Madrim dari Mandaraka, dan Dewi Gendari dari negeri Gendara. Mereka duduk bertiga di jok tengah. Sedangkan di samping sopir adalah Prabu Pandu, pemimpin nasional negeri Ngastina. Duduk di jok paling belakang nyenil sendirian, Haryo Suman adik lelaki Dewi Gendari.
Prabu Pandu raja paling mujur minggu-minggu ini. Sekian lama membujang, begitu dapat jodoh tiga sekaligus. Dia baru saja memenangkan sayembara di Mandura, sehingga menggondol Dewi Kunthi. Di jalan putri hadiah itu mau direbut oleh Salya dan Haryo Suman. Tapi Pandu berhasil mempertahankan, bahkan sebagai bonus Salyo menyerahkan Madrim adik kandungnya, sementara Haryo Suman memberikan kakak kandungnya, Dewi Gendari.
“Yang bener saja, masak saya langsung dapat tiga istri sekaligus. Apa nggak melanggar PP-10 nih?” kata Prabu Pandu kepada Haryo Suman yang sering disebut pula Sengkuni.
“Untuk raja selalu ada dispensasi, Sinuwun. Sebetulnya istri satu cukup, tapi jika mampu berbini tiga, kenapa tidak?” hibur Haryo Suman.
Tapi Pandu memang bukan lelaki yang serakah. Di kala “panen raya” dalam bidang perempuan, dia justru ingat kakak kandungnya, Destarata, yang hingga umur 40 tahun juga belum menikah. Maklumlah, secara pisik dia memang cacat permanen, yakni dalam bidang indra penglihatan. Jika Destarata dalam kondisi normal, sebagai putra sulung Abiyasa mustinya dialah yang memegang tampuk pemerintahan negeri Ngastina.
Setibanya di negeri Ngastina, Pandu segera menawarkan salah satu putri itu untuk dipersunting Destarata. Sebagai penghormatan, sang kakak dibebaskan memilih sendiri, siapa yang menjadi seleranya. Dua wanita yang tak terpilih, itulah yang kemudian akan diambil istri oleh Prabu Pandu. Awalnya Destarata menolak, tapi setelah dibujuk-bujuk Pandu, barulah dia bersedia menjatuhkan pilihannya.
“Aku ingin istri yang wreden (banyak anak), betah di rumah dan tidak doyan shoping.” Begitu Destarata menyampaikan kriterianya.
“Semoga saja dari tiga wanita itu ada yang klop.” Jawab prabu Pandu.
Dewi Kunthi, Gendari dan Madrim sangat terkejut demi mendengar bahwa salah satu dari mereka akan dihibahkan kepada Destarata. Ini benar-benar politik pencitraan. Jika wayangnya tampan macan pesinetron sejuta episode sih nggak masalah. Tapi Destarata ini penampilannya kan mirip pekerja panti pijat tuna netra, ke mana-mana juga bawa tongkat putih. Karenanya mereka kompak berdoa menurut kepercayaan masing-masing, jangan sampai menjadi pilihan Destarata.
Dalam kamar khusus full AC, fit and proper test calon istri itu berlangsung. Tak ada dialog di sana, kecuali langsung pada penggerayangan, termasuk daerah sensitif wanita. Saat memegang Kunthi, Destarata menafikannya, karena katanya hanya bakal beranak tiga. Begitu juga Dewi Madrim, hanya disenggol sepintas lantaran diprediksi berputra dua. Tapi saat menggerayangi Dewi Gendari, Destarata tak mau melepaskannya.
“Nhaaaa, ini calon istriku! Biar bau jelantah, tapi dia bakal punya anak seratus.”
“Ya Tuhaaan, kenapa saya mesti jadi istri lelaki buta. Aku tidak terima, ini pelecehan Pandu atas kaum Hawa. Aku bersumpah, anak keturunanku harus menjadi musuh anak-anak Pandu….!” ujar Dewi Gendari dengan penuh sumpah serapah. Dia sengaja pakai minyak rambut dari jelantah goreng telor dengan maksud diemohi oleh Destarata, eh malah jadi pilihan utama.
Demikianlah, Prabu Pandu kemudian mengawini Dewi Kunti dan Dewi Madrim. Sedangkan Destarata memperistri Gendari secara nikah bedolan. Biaya resminya hanya nol rupiah tapi karena keluarga raja harus bayar Rp 5 juta di samping transver bank ke rekening Kemenag Rp 600.000,-. Mahal sedikit tak apa, karena ini hari bahagia bagi Destarata. Bayangkan, dalam usia 40 tahun baru kali ini merasakan “sejatining priya”, menjadi suami. Begitu asyiknya, di bilik asmara sampai 4 jam; observasi selama 3 jam 55 menit, eksekusi 5 menit!
Setahun kemudian Dewi Kunthi telah melahirkan Bima (tapi bungkus – Red), lalu disusul Puntadewa. Sedangkan Gendari, hamil sudah jalan 2 tahun tapi tak juga bersalin. Saat di-USG dokter mengatakan, di dalam sana hanya ada sepotong daging ukuran besar, tidak dalam bentuk bayi. Mirip daging beku impor dari Australia.
“Apa itu daging sapi impor yang diselundupkan lewat perut istriku? Kurang ajar.” Maki Destarata.
“Maaf, dokter tak bisa menggiring dan menggoreng masalah medis ke politik.” Sahut Pak Dokter.
Begitu penasaran Destarata dan istrinya, dokter diperintahkan membuat tindakan medis berupa operasi Yulius Caesar. Hasilnya ternyata tak jauh beda, yang diangkat dari rahim Gendari hanyalah sepotong daging berat 5 kiloan dalam kondisi kembut-kembut (bergerak-gerak). Malu sekali Dewi Gendari, sehingga gumpalan daging itu dibanting ke ubin, pyarrrrrrr! Dan aneh bin ajaib, serpihan daging itu menjadi 100 bagian dan tetap juga kembut-kembut. Dengan cepat dokter mengamankan ke dalam 100 inkubator.
Sementara itu di kahyangan Jonggring Salaka kalangan dewa pada ngomel pada istri masing-masing. Masalahnya, belakangan masakan di dapur menjadi kurang sedep. Bahkan warung nasi uduk pun kini tak lagi menyediakan bawang dan berambang goreng. Kabarnya harga bawang impor meroket, dari Rp 25.000,- menjadi Rp 100.000,- perkg. Padahal sudah usai Lebaran. Gara-gara ini pula, bludreg Betara Brama kembali kambuh, karena dia tak lagi nyeplus bawang beberapa siung sehari.
“Kakang Narada, usut segera. Siapa yang bermain dalam soal bawang impor ini.” Perintah Betara Guru.
“Tata niaga impor bawang kan di tangan Betari Durga, coba nanti saya selidiki ke sana. Elekk…..elekkkkk” Jawab Patih Betara Narada.
Betara Narada segera turun ke ngercapada, menemui Betari Durga di Pasetran Gandamayit. Tak biasanya Narada blusukan sampai ke markas premannya dunia wayang itu. Sebenarnya dia takut ke sini, karena khawatir kunjungannya dipolitisir, dikira ambisi atau persiapan menuju 2019. Padahal Betara Narada sih, meski di banyak survei selalu diunggulkan, dia tak berminat menggantikan posisi Betara Guru.
Maka Betara Narada sungguh kaget demi di balik jendela nampak Haryo Suman dari negeri Ngastina sedang saling bisik dengan Betari Durga. Kurang ajar, namanya Sengkuni di perwayangan maupun di Indonesia sama saja.
“Tapi saya nggak enak. Betara Guru bisa marah bila alokasi bawang-brambang impor untuk kahyangan diselewengkan.” Kata Betari Durga.
“Jika para dewa mengeluh nasi uduk hambar tanpa bawang goreng, Eyang Betari seyogyanya berlagak pilon saja.” Ujar Haryo Suman sambil menyembah.
Diam-diam Betara Narada merekamnya dan segera dia balik bakul ke Jonggring Salaka. Semuanya sudah jelas; Betari Durga – Haryo Suman terlibat skandal bawang impor. Untuk setiap kilo bawang-brambang yang diselewengkan, Betari Durga dan Haryo Suman masing-masing dapat fee Rp 7.500,- Padahal alokasi bawang impor ke Jonggring Salaka setahunya 400 ton. Coba, itung sendiri.
Patih Sengkuni segera dipanggil ke Bale Marcakunda dan diperiksa langsung oleh Betara Guru. Dalam pemeriksaan terungkap, dia membutuhkan berton-ton bawang dan brambang ternyata untuk pupuk panulak sawan bagi 100 bayi keluarga Kurawa. Sebab dengan pupuk bawang impor tersebut, bayi-bayi putra Gendari yang tadinya hanya berupa serpihan daging, kini tumbuh menjadi bayi normal.
“Apapun alasannya, pengacau ekonomi harus diberi sanksi berat. Haryo Suman harus dicemplungkan ke Kawah Candradimuka.” Titah Betara Guru.
“Akuuur! Sengkuni dibiarkan hidup, akan selalu menjadi aktor kejahatan. Kerrjanya jadi provokator melulu, padahal usia sudah bau tanah.” Tambah Betara Narada.
Haryo Suman tinggal menghitung hari masuk Kawah Candradimuka, jadi areng! Tapi sebelum eksekusi berlangsung, mendadak sowan menghadap Betara Guru, Ketua Komnas Anak Arist Merdeka Sirait, didampingi Kak Seto. Mereka minta Haryo Suman diberi grasi, karena pengalihan bawang-brambang impor ke Ngastina itu semata-mata demi kelangsungan hidup 100 bayi Kurawa. Apapun alasannya, bayi selaku pewaris bangsa harus dilindungi. Ternyata Betara Guru luluh, dan bebaslah Haryo Suman. (Ki Guna Watoncarita)



