Di Antara Kepak Sayap

Nana Sudiana, Sekjend FOZ dan Direktur IZI. (Dok. Pri)

Soal kepak sayap memang sedang jadi trending topic. Namun kita tidak sedang bicara seseorang. Kita justru bicara amal jama’i di gerakan zakat Indonesia.

Gerakan zakat, walau tak ada dalam nomenklatur formal, apalagi dalam definisi jabatan publik tetap dikenal luas, terutama bagi para aktivis yang melihat dunia dengan cara mereka sendiri.

Para aktivis, tak pernah merasa tua, dan tak nyaman menikmati jabatan dan puja-puji. Baik atas kiprah, dedikasi serta kesungguhan mereka berbuat untuk manusia lainnya. Mereka kadang punya kamus kebenaran-nya sendiri dan juga parameter sukses sendiri. Bagi mereka bila sudah menyangkut idealisme yang mereka yakini, apapun dikerjakan walau sesulit apapun.

Dunia zakat memang tak dipenuhi seluruhnya oleh tipikal para aktivis. Sebagian adalah para pekerja dan buruh yang bergelut dengan target dan KPI lembaga. Bagi mereka kesenangan-nya bisa berlibur dan merdeka dari tugas. Apalagi tugas yang berat dan panjang waktunya.

Mantra Penunggang Angin
Potensi zakat di Indonesia tidaklah kecil. Dalam Zakat Outlook 2021, disebutkan bahwa pada tahun 2020, total potensi zakat di Indonesia Rp 327,6 Triliun. Potensi ini terdiri dari potensi zakat pertanian 19,79 T,  zakat peternakan 9,51 T,  zakat uang 58,76 T,  zakat penghasilan dan jasa 139,07 T, dan  zakat perusahaan 144,5 T.

Saat yang sama, jumlah organisasi pengelola zakat yang telah dikeluarkan ijin-nya tercatat totalnya ada 572 organisasi atau lembaga. Mereka ini terdiri Baznas dan LAZ. Rincian untuk Baznas, 1 Baznas RI, 34 Baznas Propinsi dan 456 Baznas kabupaten/kota. Sedangkan rincian Lembaga Amil Zakat (LAZ)  : 26 LAZ tingkat nasional, 18 LAZ tingkat Propinsi dan 37 LAZ tingkat kab/kota.

Dari jumlah organisasi pengelola zakat yang sudah menyelesaikan proses perijinan-nya, tercatat jumlah amil yang ada sesuai catatan Kementrian Agama secara total berjumlah 7.369 amil zakat. Mereka terbagi dalam amil Baznas semua tingkatan sejumlah 5.153 amil dan amil LAZ semua level sejumlah  2.216 amil zakat.
 
Tentu dari jumlah amil sebanyak itu (apalagi bila ditambah yang belum berijin) pastilah tipikal aktivis di dunia zakat lebih sedikit jumlahnya. Namun jangan salah, dari yang sedikit ini kini justru sebagian besar mereka berada dalam posisi-posisi kunci di sejumlah lembaga pengelola zakat.

Para penunggang angin seringkali diidentikan dengan orang yang tidak konsisten dan mampu memanfaatkan situasi. Faktanya, ada kesamaan tujuan dari para penunggang angin ini dengan aktivis gerakan zakat. Mereka sanggup berjuang dengan seluruh kemampuan yang dimilikinya demi untuk mencapai cita-cita dan tujuan yang ingin diraihnya. Para aktivis zakat ingin memerdekakan mustahik dan memuliakan mereka menjadi manusia yang bermartabat dan berkedudukan sama dengan manusia lainnya.

Para aktivis zakat, dimana dan kapanpun mereka berada kehadirannya tak pernah sia-sia. Ia layaknya “Butterfly Effects”(efek kupu-kupu) yang walau kecil akan mengubah sejarah. Istilah “butterfly effect” sendiri dalah istilah yang mewakili sebuah keputusan kecil yang tampaknya tidak berarti namun dapat mengubah laku sejarah di masa depan.

Istilah efek kupu-kupu sendiri pertama kali dipakai oleh Edward Norton Lorenz yang merujuk pada sebuah pemikiran bahwa kepakan sayap kupu-kupu di hutan belantara Brasil, secara teoritis dapat memicu tornado di Texas beberapa bulan kemudian.

Hari ini gerakan zakat mungkin dipandang kecil dan rapuh. Namun jangan salah, di masa depan bisa saja sejumlah politikus penting dan berpengaruh, pengisi mimbar-mimbar ilmu pengetahuan, keagamaan serta para ekonom handal justru dilahirkan dari gerakan zakat.

Problematika Gerakan
Namanya gerakan, pastilah dinamis. Berjalan-nya pun tak selalu logis dan linear. Apalagi di industri zakat yang di sana-sini ibarat rumah, masih banyak bolongnya dan memerlukan tangan-tangan terampil untuk menutupinya. 

Problem-nya ternyata jauh lebih kompleks dari sekedar sebuah rumah tadi. Di gerakan zakat, yang kata dasarnya “gerak” kadang arahnya tak beraturan. Masing-masing pelakunya digerakan angin yang bisa saja berbeda, belum lagi kekuatan dan intensitasnya. 

Orang-orang kunci yang berada dalam gerakan zakat, bisa tiba-tiba terhempas angin, baik di lingkungan internal mereka sendiri atau angin puyuh yang tiba-tiba menghebat jadi tornado. Namannya juga gerakan, sebagian-nya mungkin diterbangkan angin, naik posisi ke tempat yang lebih tinggi. 

Yang tak tertiup angin, bisa jadi awet di posisi semula, atau lebih tragis, jatuh tanpa persiapan memadai. Tak lagi jadi amil dan digeser ke posisi tak relevan lagi dengan kedudukan amil sebelumnya. Apakah kalau sudah begini ada yang salah? Jawabannya tentu saja tidak. Semua bisa saja terjadi, dan mungkin terjadi.

Para amil yang sedang semangat-semangat-nya membangun banyak karya dan jejaring. Gedebuk. Tiba-tiba jatuh dan pamitan pergi. Pergi dari group atau sebagian diam-diam left tanpa permisi. Sekali lagi, namanya gerakan tak mudah diprediksi. 

Amil-amil yang mengaku amil muda, apakah mereka juga aman? Tentu saja jawaban-nya tidak. Para amil ini unik, kehebatan-nya hanya berada di selembar kertas yang bernama surat keputusan. Bila isi suratnya menyatakan ia dihentikan, atau dipindahkan ke posisi lain di luar amil. Maka otomatis wajah-nya tak lagi sama. 

Ambisi para amil untuk berbuat yang terbaik bagi lembaganya tak menjamin seorang amil akan awet dan tahan lama. Apalagi kalau ia berkinerja kurang optimal. Tentu akan semakin cepat selesai sebagai amil dan tak lama akan menggantung name tag nya yang berlogo lembaga zakat. Tak peduli hatinya yang masih meronta dan masih ingin beramal bersama para amil lainnya.

Ujian Keikhlasan Amil
Bagi amil yang sudah lama. Bahkan yang telah melewati satu atau dua dekade di dunia zakat, godaan dan problem kehidupannya pun tak sedikit tekanannya. Mereka yang dengan beragam alasan mau pensiun sendiri atau dipensiunkan seringkali tergoda ingin menikmati kenyamanan dan rehat dari sibuknya melayani umat dan memperbaikinya. 

Dalam sebuah kisah seorang ahli pembuat bangunan di sebuah kerajaan, kita bisa bercermin pada alur ceritanya. Seorang ahli membuat bangunan apa saja secara indah dan kokoh dipercaya raja untuk membangun banyak bangunan penting di kerajaan, termasuk kompleks perumahan untuk para pejabat kerajaan serta rakyat biasa.

Bertahun-tahun ahli bangunan ini bekerja, siang malam kadang tak henti. Ia selalu punya obsesi ingin membangun gedung atau bangunan secara indah dan kokoh. Lama kelamaan, seiring umurnya yang kian senja, si ahli bangunan ini ingin istirahat dan menikmati masa tuanya.

Ia lalu datang pada raja dan mengajukan pengunduran diri dan berencana berhenti bekerja pada sang raja. Raja walau sedih karena akan kehilangan orang terbaiknya, namun ia sadar ia tak bisa menahan orang ini ia lalu berkata : “Sebelum aku beri ijin engkau untuk berhenti kerja padaku, saya tugaskan kamu membuat rumah yang paling indah, kokoh dan terbuat dari bahan-bahan pilihan”.

Mendengar permintaan terakhir Sang Raja, si ahli bangunan ini tak bisa berkata lain, kecuali ia pun mengiakannya. Tetapi kali ini dengan rasa terpaksa dan berat hati si ahli bangunan  menyanggupi permintaan Sang Raja.  Dalam hati ia berkata : “Ya tidak apa-apalah, karena ini untuk yang terakhir kalinya sebelum akhirnya pensiun”. Dengan berat hati, mengerutu atau penuh dengan sungut-sungut si ahli bangunan mengerjakannya.

Dengan dibantu sejumlah tukang, sang ahli bangunan merasa ia harus secepatnya menyelesaikan pekerjaan ini agar ia segera bebas dan bisa keluar dari pekerjaannya yang kini sudah membosankan dirinya. Dengan apa adanya, juga dengan sekedarnya, akhirnya bangunan itu jadi.

Tak disangka, dihari terakhir bangunan itu selesai dan diresmikan Sang Raja. Tiba-tiba Raja menyampaikan : ” Wahai engkau ahli bangunan yang telah banyak berjasa pada kerajaan ini, sebagai wujud rasa terima kasih kami, maka dengan ini saya serahkan bangunan ini sebagai hadiah dari kerajaan ini”.

Kata Sang Raja lagi : “Ini adalah rumahmu, hadiah dariku untukmu, semoga kamu dan keluargamu hidup bahagia!”.

Gubrak. Si ahli bangunan langsung lemas tak berdaya, katanya : “Nasib……Nasib. Kalau tahu begini akhirnya, kemarin-kemarin pasti saya akan kerjakan dengan seluruh kemampuan terbaik yang dimiliki, juga dengan bahan-bahan terbaik di seluruh yang ada di kota ini”.

Akhirnya…
Sebagian kita kadang dilanda prustasi dalam bekerja dan menjalani kehidupan sebagai seorang amil. Begitu sering berubah. Parahnya alasan dinamis seringkali digunakan untuk mempermanis. 

Sejumlah amil yang sudah mengabdi bertahun-tahun ingin pensiun dan menikmati masa tua dengan tenang. Para senior dan orang-orang lama sering pula merasa ia telah mewariskan kebaikan, telah begitu banyak melakukan pekerjaan serta membimbing orang lain agar bisa bekerja dengan baik.

Dari semua yang sudah kita kerjakan untuk orang lain, untuk mustahik, untuk muzaki serta untuk umat dan bangsa ini, kadang menimbulkan sejumlah pertanyaan. Pertanyaannya adalah, seberapa banyakkah kita sudah mengerjakan semuanya itu dengan cara-cara terbaik yang kita miliki, dengan segenap hati, tanpa sungut-sungut, tanpa berat hati atau keterpaksaan? 

Kisah di atas mengajarkan kepada kita sebagai seorang amil zakat, bahwa selama masih ada waktu, kerjakanlah segala sesuatu dengan sungguh-sungguh, buatlah inovasi terbaik, yang mendatangkan kebaikan bagi muzaki dan mustahik yang kita kelola. Kerjakan semua tugas dan mandat yang ada  dengan hati yang tulus, dengan cara-cara yang hebat yang telah Allah berikan kepada kita.

Ini semua disebabkan karena ada saatnya di mana kita tidak dapat melakukannya apapun lagi, yakni ketika maut menjemput kita kelak. 
Sekali lagi, lakukanlah semua pekerjaan mulia yang dipercayakan Allah SWT kepada kita, dan kerjakanlah semuanya dengan hati yang ikhlas, yaitu seolah-olah hari ini adalah hari terakhir kita beramal untuk-Nya.

Akhirnya, hidup kita bisa lama atau sebentar, tapi menjaga nilai-nilai kebaikan yang kita miliki ssbagai amil adalah keniscayaan. Dengan nilai-nilai ini kita memiliki makna dan perbedaan, juga bobot terhadap apa yang kita lakukan dalam kehidupan. 

Lainnya, sebagai amil, mari kita jaga kompetensi. Pelihara terus dengan baik. Rawat dan kembangkan hingga ia maksimal dan menjadi kekuatan untuk melakukan perubahan. Ada banyak PR di gerakan zakat hingga detik ini. Dan hanya orang-orang yang punya kesabaran baja dan kekuatan bekerja dengan kompetensi terbaiknya yang akan sustein dan melaju ke masa depan. 

Tanpa ilmu, kompetensi dan koneksi jaringan strategis yang kita miliki maka perubahan yang kita lakukan bisa jadi penting, namun ia hanya akan menjadi pelengkap penderita saja. Menjadi penggenap dari yang ada, dan justru akan memperberat akselerasi pertumbuhan lembaga.

#Diinspirasi dari obrolan santai PH FOZ dan Associate Expert FOZ, sambil menikmati deru roda kereta api Jakarta-Semarang, Jum’at malam-Sabtu pagi (00.53), 20 Agustus 2021

Advertisement