
JAKARTA – (KBKNEWS) – KEPALA Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani mengatakan, Indonesia saat ini sudah masuk ke dalam kategori fenomena El Nino yang berdampak terjadinya kekeringan di sana-sini.
“Untuk saat ini kondisinya sudah masuk ke El Nino kuat,” ujar Faisal usai bertemu Presiden Prabowo Subianto di Istana, Jakarta, Selasa (28/7) malam.
Menurut catatan, Pulau Jawa menjadi wilayah paling rawan krisis air pada 2026 ini. Misalnya, Waduk Pejompongan dan Ciawi yang debit airnya turun sampai 45 persen bakal mengancam 500-ribu rumah tangga.
Di Jawa Barat, curah hujan di bawah normal, sementara Sungai Citarum tercemar limbah industri, sehingga sejumlah wilayah di Pantai Utara bakal kekeringan selama periode Juni sampai September.
Di Jawa Tengah, pemda setempat menyiapkan 123 juta liter air untuk musim kemarau.
Dampak El Nino mulai terasa di wilayah Solo Raya, Boyolali, Sukoharjo, dan Sragen. Bahkan di Kab. Sragen, penduduk harus mencari sumber mata air yang jaraknya beberapa kilometer dari rumah mereka.
Produksi padi di Jawa Timur diperkirakan anjlok 15 persen karena sebagian sentra produksi padi mengalami kekeringan.
Selain dampak el-Nino, kekurangan pasokan air juga diakibatkan ekstraksi air tanah yang berlebihan, pencemaran, nfrasruktur yang sudah tua (kebocoran pipa di kota-kota besar sampai 40 persen) dan hilangnya 320 rbu Ha hutan resapan selama lima tahun terakhir ini.
Menurut Faisal, El Nino bisa terjadi akibat suhu di permukaan laut di Samudra Pasifik mengalami kenaikan hingga 0,5 derajat lebih tinggi.
Dia memaparkan, jika kondisi itu sudah tercapai, maka Indonesia masuk dalam kategori El Nino aktif.
Fokus ketersedian air dan Karhutla
Selanjutnya, Faisal menyebutkan, fokus BMKG untuk menghadapi El Nino adalah melalui ketersediaan air melalui waduk-waduk, serta antisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Dia mengatakan, ada enam provinsi yang selama ini menjadi fokus utama, yakni Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
“Pengisian waduk antara lain dengan modifikasi cuaca akan dilakukan untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan melalui pembasaan dari lahan-lahan yang mudah terbakar, ” tutur Faisal.
Dampak El Nino mulai terasa di wilayah Solo Raya, Boyolali, Sukoharjo, dan Sragen. Bahkan di Kab. Sragen, penduduk harus mencari sumber air yang jaraknya beberapa kilometer dari rumah mereka.
Sementara itu Menko Infrastruktur dan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyebut pemerintah tidak boleh lengah dalam menghadapi El Nino, mengingat derajatnya bisa terus meningkat.
Dia menyebut, selain ketersediaan air bersih, juga ada isu kebakaran hutan dan lahan yang harus menjadi fokus pemerintah.
“Potensi El Nino yang juga mungkin menghadirkan bencana di negeri kita. Kita harus menyiapkan diri sebaik mungkin agar El Nino yang berhimpit dengan kemarau tidak terlalu berdampak negatif pada penduduk , termasuk mengganggu sektor pangan dan ekonomi secara keseluruhan,” ujar AHY.
Seluruh instansi terkait dan masyrakat hendaknya sudah bersiap-siap mengantisipasi dan melakukan tindakan mitigasi guna menekan risiko El Nino kuat tahun ini. (BMKG/kmpas.com/ns)




