
PRESIDEN China Xi Jinping prihatin atas terjadinya gejolak politik berkepanjangan di Hong Kong, namun berjanji akan memberikan dukungan tanpa batas kepada Kepala Eksekutif wilayah semi otonomi China itu, Carry Lam.
Gelombang unjuk rasa yang berlangsung sejak Juli lalu di wilayah administratif khusus China, Hong Kong membuat metropolis dan salah satu pusat bisnis utama serta unggulan destinasi wisata dunia itu nyaris lumpuh.
Aksi unjuk rasa berawal dari tuntutan warga agar RUU Ekstradisi yang memungkinkan pelaku perkara kriminalitas di Hong Kong dapat diadili di China daratan, bergeser menjadi upaya pelengseran Carry Lam (62) yang dikenal pro-Beijing.
Dukungan Beijing semakin kokoh sekembalinya Lam dari ibukota China tersebut, tercermin dari pernyataan Presiden Xi yang memuji dan mengapresiasi sikap bertanggung jawab dan keberanian yang ditunjukkan Lam memimpin Hong Kong di masa-masa sulit saat ini.
“Kami akan terus mendukung anda untuk memimpin wilayah administratif Hong Kong sesuai ketentuan hukum, “ tandasnya.
Sementara PM China Li Keqiang yang juga bertemu Lam dengan nada sama juga mengapresiasi kepemimpinan Lam yang sudah bekerja keras mempertahankan stabilitas politik di Hong Kong, walau ia juga meminta agar akar masalah penyebab konflik dan juga hambatan pembangunan ekonomi di wilayah itu dikaji.
Hong Kong yang mendapatkan hak-hak khusus berbeda dengan wilayah China daratan lainnya dikembalikan dari Inggeris pada 1997 dan diberlakukan formula “satu negara dua sistem” oleh rezim penguasa Beijing yang menjanjikan otonomi luas, kebebasan pers dan peradilan independen.
Namun kini, warga Hong Kong merasakan “keistimewaan ” itu sedikit demi sedikit dipreteli oleh petinggi Partai Komunis China di Beijing pasca kemenangan besar partai-partai pro demokrasi dalam pemilu lokal di Hong Kong yang berujung aksi demo dan vandalisme sehingga melumpuhkan salah satu kota tersibuk di dunia itu.
Hong Kong yang mengalami resesi ditandai anjloknya sektor pariwisata dan ritel akibat aksi-aksi unjuk rasa tanpa henti, dijanjikan akan dibantu Beijing dengan memasukkannya dalam program pembangunan ekonomi Teluk Besar meliputi Makao, Hong Kong dan Provinsi Guang Dong.
Penguasa Beijing agaknya mengambil kebijaksanaan ekstra hati-hati terkait isu Hong Kong, karena kondisinya memang “fragile” atau rentan sehingga menempatkannya bagai “buah si malakama”.
Sebagai negara dengan mesin perang raksasa, agaknya amat mudah bagi China untuk menumpas perlawanan warga Hong Kong, namun apa kata dan reaksi dunia nantinya? China juga sudah menyiagakan pasukannya di Shenzen, wilayah tetangga berjarak “sepelemparan baku” dari Hong Kong, namun sejauh ini hanya memantau dari kejauhan.
Waktu akan membuktikan, apakah warga Hong Kong masih bisa dikendalikan dari penguasa China daratan. (AFP/Reuters/ns)




