Diusir Presiden Trump, Zelenskyy didukung Eropa

Eropa agaknya bakal mengambil peran lebih besar untuk mendukung Ukraina setelah Presiden AS Donald Trump dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy bersitegang dalam pertemuan mereka di Gedung Putih, AS Jumat (27/2) lalu.

Berdebat sengit bahkan sempat diusir oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat berdialog di Gedung Putih, Jmat (27/2)  Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy memperoleh dukungan dari mitra-mitranya di Eropa.

“Saya harap anda paham, semua yang hadir di meja ini mendukung anda dan seluruh rakyat Ukraina,” ujar PM Inggeris Kei Starmer dalam pertemuan di London, Minggu (2/3) bersama sejumlah pemimpin Eropa lainnya seperti yang dilaporkan AFP.

Selain Starmer, hadir dalam pertemuan itu a.l PM Italia, Georgia Meloni, PM Kanada Justin Trudeau, Presiden Prancis Emanuel Macron, Sekjen NATO Mark Rute dan sejumlah pemimpin negara Uni Eropa atau anggota NATO lainnya.

“Kita perlu menyepakati langkah-langkah apa yang dihasilkan dari pertemuan ini untuk mewujudkan perdamaian melalui kekuatan demi kepentingan semua orang,” sambung Starmer.

Hal ini sangat kontras dengan pertemuan Zelenskyy yang panas dengan Presiden Trump di Ruang Oval, Gedung Putih, Jumat (28/2). Saat itu Zelenskyy ditegur  oleh Presiden Trump dan dituduh tidak “siap” berdamai dengan Rusia.

Trump gusar prakarsanya untuk membawa Pesiden Rusia Vladimir Putin dan Zelenskyy ke meja peruningan tidak ditanggapi oleh Zelenskyy yang berharap AS terus mendukungnya agara bisa mengusir tentara Rusia, tidak melalui upaya diplomasi.

Zelenkyy sendiri di berbagai kesempatan, menuding Trump lebih mementingkan untuk menyenangkan Putin ketimbang mendukung Ukraina dari tekanan mesin perang raksasa Rusia.

Sementara PM Italia, Giorgia Meloni, ikut hadir dalam pertemuan di London. Dia menekankan pentingnya menjaga hubungan yang baik antara sesama negara-negara di Eropa.

“Sangatlah penting bagi kita untuk menghindari risiko perpecahan di Barat dan saya pikir dalam hal ini, Inggris dan Italia dapat memainkan peran penting dalam membangun jembatan,” kata Meloni seperti dilansir AFP.

“Pertemuan tersebut memberikan kesempatan untuk menegaskan kembali dukungan Italia bagi Ukraina dan rakyatnya, serta komitmen untuk membangun perdamaian yang adil dan abadi, menjamin masa depan kedaulatan, keamanan dan kebebasan Ukraina,” tulis keterangan pemerintah Italia.

Suasana persahabatan dan dukungan bagi Ukaina dalam pertemuan London itu bertolak belakang dengan pertemuan antara Presiden Zelensky dan Presiden Trump di Gedung Putih, Minggu, Jumat lalu (27/2).

Trump yang didamping Wapres JD Vance bahkan menyebut Zelenskyy tidak pernah berterima kasih atas dukungan politik dan militer besar-bearan yagg digelontorkan AS selama ini.

Bantuan besar besaran

Menurut catatan, lebih dari 69,2 miliar dollar AS (sekitar Rp1.200 triliun) bantuan militer dikucurkan oleh AS sejak Invasi Rusia ke Ukraina pada 24 Feb. 2024.

“Anda, bahkan sekali pun tidak mengucapkan terima kasih untuk itu, “ seru Vance yang juga mengiritik Zelenskyy karena secara terbuka menyerang Trump di depan awak media yang meliput pertemuan itu.

“Dengan segala hormat, saya fikir, anda tidak sopan untuk datang ke Ruang Oval, mempermasalahan hal ini di depan media, “ tururnya mengacu pada upaya advokasi diplomatik Trump dengan Rusia.

“Anda seharusnya berterima kasih pada Trump yang telah berusaha mengakhiri konflik antara Rusia dan Ukraina yang sudah berjalan tiga tahun, “ bentak Vance.

Trump bahkan menyebutkan, tanpa dukungan AS, Ukraina hanya bisa bertahan seminggu dari gempuran Rusia, namun Zelenskyy malah menimpali dengan ledekan: “Cuma (bertahan) tiga hari saja mungkin”.

Trump sejak awal agaknya memang memancing kejengkelan Zelenskyy yang menyindirnya: “Tumben anda berpakaian rapi, “ melihat penampilan presiden Ukraina tersebut mengenakan “sweater army look”berwarna gelap, padahal Zelenskyy sejak perang di negaranya melawan Rusia memang tidak pernah mengenakan pakain jas dalam pertemuaan kenegaraan sekali pun.

Sebelum melangkah ke Gedung Oval untuk bertemu dengan Trump dan Vance pun, wartawan AS juga menanyakan, kenapa dia tidak mengnakan pakaian resmi (jas dan dasi) di gedung yang menjadi simbul tertinggi di AS itu.

Jawaban Zelenskyy: “Saya akan mengenakan jas setelah perang selesai.  Mungkin lebih mahal atau lebih murah dari yang anda pakai. Lihat saja nanti, “ tuturnya.

Tak pelak lagi, “insiden” dalam pertemuan itu menempatkan relasi antara AS dan Ukraina melorot ke titik terendah.

Sebaliknya tak hanya dukungan moril, PM Inggeris juga memberikan bantuan senilai 2,84 miliar dollar AS (sekitar Rp46,6 triliun) kepada Ukraina untuk memproduksi persenjataan di dalam negerinya.

Konstelasi geopolitik terkait perang di Ukraina bergeser, dan peran Eropa mendukung Ukraina bakal lebih besar, setelah pendukung utamanya, AS di bawah Trump  tersinggung berat oleh  ulah Zelenskyy. (AFP/ns)

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here