JAKARTA (KBK) – Guna membantu meringankan beban penduduk Palestina yang tengah dilanda krisis kemanusiaan, Dompet Dhuafa ajak masyarakat berdonasi dalam tajuk The Sound of Humanity ‘Palestina adalah kita’. Acara tersebut dihadiri oleh Syekh Aiman Abdul Qodir Almabruh warga negara Palestina dan sejumlah musisi Tanah Air antara lain Ihsan Tarore dan Is Payung Teduh.
“Tidak ada gunannya kalau kita hanya berkomentar di media sosial soal Palestina. Semoga dengan cara seperti ini saya bisa ikut andil meringankan beban masyarakat Plaestina,” ujar Is Payung Teduh yang melelang sejumlah barang koleksinya untuk membantu penduduk Palestina (4/8).
Sementara itu Almabruh mengatkan bahwa kondisi Palestina saat ini sangat mengenaskan, terus mengalami kezaliman dan kemunduran dari waktu ke waktu. Krisis kemanusiaan kian parah dan akses pendidikan pun dibatasi oleh rezim zionis. Selain itu komplek Al-Aqsa pun makin dibanjiri warga yahudi untuk beribadah.
“Rezim zionis telah mendata warga Palestina mana saja yang boleh masuk komple Al-Aqsa. Tidak sembarang warga Palestina boleh masuk,” kata Almabruh.
Direktur Mobilisasi ZIS Dompet Dhuafa Bambang Suherman menuturkan isu Palestina saat ini bukan lagi soal isu sektarian melainkan sudah menjadi isu kronis kemanusiaan. Siapa pun dengan latar belakang agama berbeda maka isu Palestina adalah masalah yang mesti diselesaikan bersama.
“Dari acara ini target besar Dompet Dhuafa adalah sosialisasi kepada masyarakat secara umum, terbuka dan meluas tentang dinamika yang ada di sana. Sebab sampai dengan hari ini masih banyak orang yang melihat ini sebagai isu sektarian. Untuk itu kami ingin memastikan bahwa dalam kesempatan ini kami ingin meluruskan hal itu,” ujar Bambang.
Dompet Dhuafa sendiri melihat isu kemanusiaan Palestina menjadi dua perspektif berbeda yakni isu Gaza dan Tepi Barat. Dengan memahami situasi yang ada lanjut Bambang maka Dompet Dhuafa mendesain sebuah program bantuan untuk meringankan beban Palestina.
Sampai saat ini Dompet Dhuafa menurunkan program dalam framework tagline foodbank. Bambang melihat untuk wilayah Gaza yang dilanda konflik dimana jalur suplai kerap terputus maka kebutuhan yang paling mendasar adalah kebutuhan pokok. Untuk itu Dompet Dhuafa mencoba memproduksi makanan di sana.
“kami buat peternakan kelinci di sana karena untuk membiakannya tidak perlu lahan yang luas tetapi bisa menyuplai daging yang besar.Satu ekor bisa hasilkan 3 kg daging. jadi jika saiu keluarga dapat 2 kilogram untuk sepekan maka dirasa cukup,” ucap Bambang.
Berikutnya Dompet Dhuafa juga memiliki program bidang energi guna memantu warga Gaza Palestina.
“kami berencana ingin mengembangkan energi solar system untuk gaza. Mudah-mudahan dari acara ini juga ada sesuatu yang bisa di inisiasi. Tapi untuk mewujudkan itu ada dua problem besar yakni problem bahan baku yang mesti kita hadirkan yang relatif cukup jauh, kedua problem izin untuk membawa perangkat tersebut masuk ke gaza,” tambah Bambang.
Sedangkan untuk isu Tepi Barat kini Dompet Dhuafa tengah mempersiapkan sebuah metode guna meningkatkan mutu pendidikan masyarakat tanpa harus sekolah formal dengan sistim berbasis komunitas.
“Yang sedang sama-sama kami godok adalah menciptakan model pendidikan berbasis komunitas dalam satu lingkungan yang terdiri dari beberapa apartement masuk satu sekolah. Hal tersebut diharapkan bisa mensuplai ilmu pengetahuan kepada anak-anak Palestina untuk survive di dunia kerja internasional,” jelasnya.





