JAKARTA – Kemenangan Donald Trump atas Hillary Clinton sebagai Presiden Amerika Serikat membuat Ketua Center for Dialogue and Cooperation Among Civilizations (CDCC) Din Syamsuddin berharap Trump tidak akan mewujudkan pernyataan-pernyataan rasialnya semasa kampanye.
Kemenangan Donald Trump, kandidat presiden dari kubu Republik, memang sangat mengejutkan banyak pihak. Donald Trump dikenal sangat kontroversial dalam kampanye-kampanyenya karena kerap membawa isu rasial.
Donald Trump, orang terkaya nomor 324 sejagat versi majalah Forbes 2016, pernah menyatakan akan memperketat penegakan undang-undang imigrasi dengan berencana membangun tembok di perbatasan Meksiko, untuk mencegah imigran gelap asal negara tetangga itu.
Setelah serangan teror di Paris November tahun lalu yang menewaskan 130 orang dan melukai 368 orang lainnya, Donald Trump menyerukan larangan sementara bagi imigran muslim ke Amerika Serikat. Namun, Trump kemudian mengoreksi pernyataannya, larangan tersebut hanya bagi imigran muslim dari negara-negara lumbung teroris.
Sikap anti muslim inilah yang memicu kekhawatiran banyak negara muslim di dunia, termasuk Indonesia. (Baca juga: Pilpres AS:Muslim Amerika Akan Tetap Bertahan)
Din Syamsumddin, berkomentar hal itu merupakan hak rakyat Amerika dan Indonesia tidak memiliki kewenangan untuk mengintervensi hasil pemilihan itu.
Namun ia tidak memungkiri terpilihnya Trump sebagai Presiden Amerika Serikat dapat menimbulkan masalah baru antara Amerika dan dunia Islam yang mulai membaik semasa kepemimpinan Presiden Barack Obama.
“Kalau saya ditanya baik atau tidak, saya berada di tubuh umat Islam dan dunia Islam, memang ini (terpilihnya Donald Trump) bisa menimbulkan masalah baru antara Amerika dengan dunia Islam, selama ini ada masalah sejak Presiden George W. Bush mengadakan perang terhadap teror, dan agak sedikit membaik ketika Presiden Obama naik, sehingga anti-Amerika cukup kurang,” ungkap Din, Rabu (9/11/2016), dilansir VOA Indonesia.
Din juga menilai kepemimpinan Donald Trump akan lebih parah dibandingkan dengan masa Presiden George W. Bush. Alasannya, menurut Din, sebelum terpilih sebagai presiden saja Donald Trump sudah menyampaikan pernyataan-pernyataan negatif, sinis soal imigran, termasuk pendatang muslim.
Tetapi Din berharap setelah menjadi presiden, Donald Trump tidak akan mewujudkan pernyataan-pernyataan rasialnya semasa berkampanye.
“Setelah saya menjabat salah satu presiden dari World Conference of Religions for Peace (WCRP) yang berpusat di New York, mungkin akan kita diskusikan bagaimana tampilnya Amerika yang sekarang masih sebagai adidaya, jangan menimbulkan masalah besar bagi dunia, bagi peradaban dunia sebenarnya sudah rusak,” tambah Din.
Donald Trump, 70 tahun, akan menjadi penghuni Gedung Putih, kediaman resmi presiden Amerika selanjutnya setelah meraup lebih dari 270 suara elektoral, meninggalkan jauh lawannya, Hillary Clinton, calon presiden dari Partai Demokrat yang hanya memperoleh 228 suara elektoral.





