
TUBERCULOSIS (TBC) dicemaskan bakal jadi pembunuh manusia di bumi di masa mendatang sehingga diperlukan kolaborasi untuk bersama-sama memerangi penyakit yang menyerang organ pernafasan itu.
Hal itu tercermin dalam Pertemuan Tingkat Tinggi II Dewan Akselerator Vaksin Tuberculosa di Markas Badan Kesehatan Dunia PBB untuk HIV/AIDS (WHO UNAIDS) di Jenewa, Swiss, Selasa pekan lalu (28/5).
Pertemuan yang merupakan rangkaian kegiatan Majelis Kesehatan Dunia (WHA) dipimpin Kepala ilmuwan WHO Jeremi Farrar dan Menkes RI Budi Gunadi Sadikin.
Data WHO menyebutkkan, TBC adalah salah satu penyakit infeksi yang menjadi penyebab utama kematian di seluruh dunia, juga penyebab utama kematian orang dengan HIV serta menjadi kontributor utama resistensi antimikroba.
TBC menyebabkan kematian 1,13 juta dan 167-ribu kematian di antara orang yang hidup dengan HIV, dan diperkirakan, 10,6 juta orang terjangkit TBC di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah pada 2022.
Budi memaparkan, dalam sejarah, TBC telah membunuh lebih banyak rang ketimbang penykit menular lainnya yakni satu miliar kematia dalam 200 tahun terakhir. Setiap hari, lebih empat ribu orang lebih meninggal akibat TBC atau satu kematian setiap 20 detik.
Berdasarkan data global WHO, India menyumbang kasus kematian terbesar (26,6 persen) disusul Indonesia sepuluh persen dan China 7,1 persen. Di Indonesia, diestimasi ada sekitar satu juta pengidap TBC, 500.000 di antaranya atau separuhnya sudah terdeteksi.
“Anda bayangkan. Mereka berkeliling-keliling menyebarkan TBC, “ tutur Budi seraya menambahkan: “Bagi Indonesia, mengeliminasi TBC pada 2030 merupakan prioritas dan sejauh ini sudah dilakukan peringatan notifikasi terkait penyakit tersebut.
Jumlah penyintas, meningkat
Menkes RI mengungkapkan, jumlah penyintas TBC di Indonesia pada 2022 meningkat menjadi 700-ribu orang, lalu pada 2023 menjadi 800-ribu orang, sedangkan pada 2024 disasar sebanyak 900-ribu orang, sedangkan notifikasi kasus TBC pada 2023 (sebanyak 821.000 orang) adalah yang tertinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Namun demikian, ia menyebutkan, visi untuk mengakhiri TBC pada 2030 harus dibarengi upaya ambisius untuk mempercepat penelitian dan pengembangan vaksin TBC baru. “Vaksin benar-benar pengubah permainan,” ujarnya.
Ia mengakui, vaksin TBC yang dimiliki Indonesia sudah ketinggalan zaman. Sejauh ini hanya satu vaksin TBC yang disetujui selama seabad yakni vaksin BCG dengan efikasi atau tingkat kemanjuran berkisar 56 – 80 persen.
Kolaborasi dunia untuk membasmi TBC harus terus digalakkan termasuk pendanaannya, misalnya untuk pengadaan vaksin mau pun layanan pasien daripada digunakan untuk perang yang hanya menimbulkan malapetaka dan kehancuran. (Kompas/ns)




