FLKPI, Dompet Dhuafa dan LPAI Ajak Anak Peduli Rohingya Lewat Aksi Telapak Tangan Cinta

JAKARTA (KBK) – Kekerasan yang terus menimpa anak-anak Rohingya di Negara Myanmar mendorong Forum Lintas Komunitas Pendongen Indonesia (FLKPI), Dompet Dhuafa dan Lembaga Pecinta Perlindungan Anak (LPAI) gelar aksi simpatik Telapak Tangan Cinta untuk Rohingya.

Penggagas Aksi Telapak Tangan Cinta untuk Rohingya dari FLKPI Dwi Cahyadi menuturkan kekerasan yang terjadi pada anak-anak di Rohingya sudah pada taraf yang menghawatirkan. Diperlukan bimbingan yang masif untuk membantu anak-anak di sana mengelola dan megendalikan rasa emosi. Di luar itu ia pun mengajak anak-anak Indonesia untuk menyikapinya dengan persepsi yang positif.

“Dengan kemajuan teknlogi anak-anak Indonesia dapat dengan mudah mengakses gambar yang memuat kekerasan itu. Bila anak tidak diedukasi akan bahaya, oleh karena itu kami ajak mereka untuk menyalurkan ekspresinya melalui telapak tangan cinta untuk Rohingya,” ujar Dwi saat Press conference Telapak Tangan Cinta untuk Rohingya di Jakarta (22/9).

Dwi menambahkan pengungkapan ekspresi melalui telapak tangan merupakan sarana merespon sebuah konflik dengan cara yang positif. Gerakan Telapak Tangan Cinta untuk Rohingya juga mengajarkan anak-anak untuk bersikap yang benar melihat konflik yang tengah terjadi.

“Ini bisa menjadi sarana dan saluran ekspresi bagi anak-anak,” ucap Dwi.

Dari gerakan tersebut setidaknya telah terkumpul tanda telapak tangan berwarna-warni di atas kain putih dari anak-anak di seluruh penjuru Indonesia yang bentangannya mencapai 1 kilo meter.

Sekjen LPAI Henny Hermanoe mengatakan gagasan sejuta Telapak Tangan Cinta untuk Rohingya merupakan sebuah tindakan yang sangat luar biasa. Gagasan ini memberikan anak-anak sebuah wadah untuk berekspresi kepada Rohingya. Selain itu rasa empati anak-anak juga dapat terbangun dari gerakan Telapak Tangan Cinta untuk Rohingya.

“Nalar mereka sederhana, keterbatasan pembendaharaan kata anak-anak juga tidak banyak. Tapi anak harus diajak untuk berempati dan peduli, caranya dengan berpekspresi tanpa kata. Ini tindakan yang sangat tepat,” kata Henny.

Dikatakan Henny telapak tangan merupakan simbol persahabatan dan warna-warni menggambarkan harapan. Ini bisa menjadi bentuk komunikasi bahwa anak rohingya tidak sendiri karena masih ada anak-anak dari Indonesia yang mensuport.

Sedangkan kain putih dimaknai Henny sebagai sebuah ketulusan.Dengan ketulusan seorang anak akan dapat dengan mudah memaknai dan menumbuhkan cinta kepada anak-anak Rohingya.

GM Resource Mobilization Dompet Dhuafa Bambang Suherman menambahkan, apa yang telah dilakukan FLKPI dengan aksi Telapak Tangan Cinta untuk Rohingya merupakan aspek hilir dari serangkaian bantuan untuk warga Rohingya.

Gerakan Telapak Tangan Cinta dikatakan Bambang merupakan gerakan untuk menyatakan rasa cinta yang tulus, sehat dan positif.

“Dibalik semua isu kemanusiaan yang ada di Myanmar adalah rasa kemanusiaan. Dibalik kemanusiaan ada rasa cinta. Kegiatan ini menjadi wadah untuk mengelola cinta tersebut dengan sangat baik khusus anak-anak,” ujar Bambang.

Rasa cinta tersebut tambah Bambang harus menjadi ruang tanggung jawab orang tua, jangan sampai pemaknaan sejarah yang salah justru tertanam dalam otak anak.

“Fungsi Dompet Dhuafa berikutnya adalah memastikan supaya tersampaikan kepada anak-anak Rohingya,” jelasnya.

Advertisement