GADA RUJAKPOLO MURCA

Pendita Durna - Patih Sengkuni sepakat menggelar lomba berburu. Hadiahnya bukan lagi sepeda tapi mobil dan rumah tapak.

SETELAH harga beras rajalele di pasaran wayang luar kotak anjlok sampai Rp 850.000,- perkwintal, kerajaan Gilingwesi benar-benar dilanda resesi ekonomi. Maklum beras rajalele merupakan penghasilan dan makanan pokok dunia wayang. Pengencangan ikat pinggang dilakukan di mana-mana. Gaji pegawai negeri diturunkan 25 persen, kendaraan dinas pejabat tinggi juga diganti. Prabu Rajapustaka yang biasanya naik turun Baby Benz 300 E, kini cuma pakai Toyota Kijang. Patih Gadamustika dan Pecatanda pun harus puas pakai Dihatsu Sigra untuk sowanan ke kerajaan.

“Kita harus beri contoh hidup prihatin,” begitu kata Prabu Rajapustaka yang tinggal di Jalan Balai Pustaka, Rawamangun itu.

“Prihatin sih prihatin, tapi pejabat kok naik Ostin,” keluh patih Gadamustika di luar forum resmi.

Sementara Prabu Rajapustaka dan segenap hulubalangnya berusaha keras perbaiki perekonomian negara, tengah malam  dia  bermimpi  bahwa  kerajaan  Gilingwesi   akan makmur apabila tersiram darah Pendita Durna dan Patih Sengkuni,   tokoh-tokoh penting dari Ngastina. Tanpa tumbal    (korban) semacam itu,  kesulitan ekonomi akan tetap berkepanjangan meskipun penggalakan pajak di berbagai sektor dilakukan (tax amnesty).

“Hidup atau mati, Pandita Durna dan Patih Sengkuni harus diekstradisi. Cuma itu persyaratan agar Gilingwesi bisa tinggal gedebog (landasan kaum wayang)…!” perintah Prabu Rajapustaka kepada kedua patihnya.

“Setuju-setuju. Mereka memang wayang paling nyinyir sedunia, matiin saja biar aman.” Tambah patih Pecatanda.

Patih Pecatanda dan Gadamustika segera googling di internet, mencari tahu lebih detil kebiasaan Durna – Sengkuni itu. Ternyata, setiap pertengahan Juni, kedua tokoh berbahaya itu selalu menggelar lomba berburu di hutan.

Dengan ditemani Tumenggung Nagakuning, patih Pecatanda – Gadamustika berangkat ke sasaran. Mereka memang ahli terbang solo. Hanya modal sampur (selendang) yang dikepak-kepakkan, keduanya berhasil melesat ke angkasa rnenuju Ngastina. Sikonnya tepat sekali, kalender waktu di Giling­wesi memang menunjuk pada pertengahan bulan Juni 2018.

Mbah Google tidak bohong. Di hutan Roban daerah Pekalongan, Patih Sengkuni dan Pandita Durna sedang memimpin Lomba Berburu Berhadiah. Prajurit-prajurit Ngastina bersuka ria memperebutkan hadiah berupa rumah dan mobil itu. Hadiah sengaja ditingkatkan karena hadiah sepeda sambil main tebak-tebakan sudah tidak dilirik peserta.

“Dimas Sengkuni harus waspada. Para peserta boleh menembak binatang apa saja, termasuk ular pyton. Yang dilarang hanyalah babi ngepet,  sebab itu binatang langka yang dilindungi,” pesan Pandita Durna.

“Yang nembak babi ngepet biar diuntal ular pyton.” Kata Patih Sengkuni.

Sebelum lomba berburu itu selesai, tiba-tiba Patih Pecatanda dan Gadamustika meluncur ke bawah. Dahan dan ranting banyak yang patah kena tabrak keduanya. Tanpa tanya ini itu, mereka terus saja menangkap Patih Sengkuni dan Pandita Durna.

“Lho, Iho, lho, tangkap orang jangan sembarangan, Mana surat penangkapan dari polisi dan apa salah kami?” protes Pandita Durna.

“Misalnya koruptor, KPK juga tak pernah manggil saya,” bela Patih Sengkuni. yang sudah panik duluan.

Boleh saja keduanya berdalih, utusan Gilingwesi itu tak mau peduli. Sengkuni dan Durna diringkus. Prajurit Ngastina mencoba membela, tapi berhasil dikalahkan sehingga terpaksa Aswatama cuma bisa melihat patih dan bapaknya diculik musuh. Dia buru-buru menghentikan perlombaan dan pulang mengadu pada Prabu Duryudana.

“Mereka nggak minta uang tebusan, kan? Tenang saja Aswatama, coba kau minta bantuan di Ngamarta, biar mereka saja yang membebaskannya,” ujar Prabu Duryuda­na santai.

Sementara Aswatama naik bis malam ke Amarta, di pertapaan Wukiretawu Bagawan Abiyasa sedang menerima tamu Harjuna, cucunya sendiri. Setelah menyerahkan oleh-oleh teh gula kopi dan bit: putra penenggak Pandawa itu menceritakan keprihatinan keluarga Amarta sehubungan dengan hilangnya seluruh senjata ampuh milik mereka. Prabu Kresna dari Dwarawati yang juga merangkap Gubemur Lembaga Lemhawas (Lembaga Ketahanan Wayang Sekotak) kehilangan Cakra dan Kembang Cangkok Wijayakesuma. Prabu Yudistira kehilangan Jamus Kalimasada, Prabu Baladewa kehilangan senjata Nenggala, Gatutkaca kehilangan keris Kalanadah, Werkudara kehilangan gada Rujakpolo dan Harjuna sendiri kini tak punya lagi panah

Sarotama.

“Terpaksa saya untuk cari bajing harus pakai ketapel, Eyang,” kata Harjuna sendu.

“Harjuna cucuku, sepanjang perizinan senjata-senjata itu lengkap, kau tak usah gusar. Asal kalian banyak berderma dan taat bayar pajak, pusaka-pusaka itu nanti akan kembali. Percayalah….!” hibur Bagawan Abiyasa.

Sepulang dari Eyang Bagawan, Harjuna berusaha mematuhi saran-sarannya secara patuh dan konsekuen. Di tengah perjalanan kebetulan dia melihat Patih Sengkuni dan Pandita Duma yang terikat tangannya, sementara kedua penculiknya masih asyik jajan di Warung Pojok daerah Indramayu.

Meskipun sebenarnya Durna dan Sengkuni tak bisa dilihat oleh mata biasa akibat pengaruh aji panglimunan Patih Gadamustika, bagi Harjuna itu no problem. Sebab dia memiliki minyak Jayengkaton yang bisa membantu melihat lelembut dan orang yang menghilang.

“Nah Harjuna, tolongin gue dong! Kita-kita mau diektradisi ke Gilingwesi, nih. Cepat Harjuna, cepaaat!” rintih Durna dan Sengkuni.

Di saat Harjuna mau melepas ikatan pada tangan kedua tawanan itu. Patih Gadamustika dan Pecatanda memergoki. Acara makan-makan terhenti. Dengan mulut masih penuh nasi mereka mencoba mencegah perbuatan Harjuna. Perkelahian pun terjadi satu lawan dua.

Tapi di saat Harjuna sudah hampir mengalahkan musuh-musuhnya, tiba-tiba menyembul dari bumi Tumenggung Nagakuning dan menyemburkan bisa. Harjuna pingsan seketika dan para penculik berhasil lolos membawa lari Pandita Durna dan Sengkuni.

Para punakwan (pembantu) Harjuna yang tidak punya minyak Jayengkaton kecuali PPO, dengan sendirinya tak melihat sama sekali adegan perkelahian itu. Mereka cuma melihat Harjuna mbanyaki seperti orang yang breakdance dan tiba-tiba pingsan. Karena segala pengobatan darurat tak mempan, buru-buru Petruk pergi lagi untuk mencari Puskesmas.

“Cepat ya Petruk. Kalau pak dokter memberikan resep, minta saja yang obat generik. Maklum kantong bapak lagi cekak nih,” pesam Semar wanti-wanti.

“Makanya, ikut BPJS Kesehatan, biar semuanya gratis.”

Ketika perjalanan Petruk menyusup perkampungan di Wukir Mirundaretna dia melihat dua raksasa saling bunuh. Tapi asal yang satu terbunuh; diberi ramuan daun Widaramulya langsung hidup kembali. Begitulah selalu, sehingga membuat Petruk terkagum-kagum dan ingin minta daun itu beberapa lembar.

“Kalau boleh, saya pengin punya daun-daun misterius itu.” Mohon Petruk.

“Boleh, tapi hati-hati menyimpannya. Kalau ketahuan polisi kau bisa dituduh menyimpan daun ganja, bentuknya mirip sih,” ujar kedua raksasa itu.

Daun Widaramulya memang hebat. Begitu Harjuna minum ramuan daun tersebut, langsung sadar dan sehat kembali. Dua bungkus nasi uduk berlaukkan kepala ayam goreng, ludes dimakannya. Setelah merasa badannya vit kembali, Harjuna berangkat kembali untuk mencoba membebaskan Durna dan Sengkuni yang sudah jadi tahanan politik di Gilingwesi. Untuk mengejar waktu mereka naik pesawat dari Cirebon, langsung mendarat di Halim PK.

“Truk, hati-hati. Kalau ketahuan petugas pabean, daun manjur itu bisa disita, lho!” pesan Harjuna Iagi.

Tiba di Gilingwesi, Harjuna segera mencari tahu di mana Pandita Durna dan Sengkuni ditahan. Ada yang bilang di Rutan Guntur. Tapi ketika dicek di sana, ternyata bukan di sana karena keduanya bukan koruptor. Baru setelah muter-muter seharian pakai Ojek Online, Sengkuni dan Durna ditemukan di ruang tahanan khusus di Mako Brimob, Depok. Keduanya pun dikeluarkan dari sel dengan kunci palsu.

“Terima kasih Harjuna, kau bisa membebaskan kami berdua,” kata Durna sendu.

“Betul, Paman Durna. Untung kami ketemu orang baik, lalu ditunjukkannya ke sini,” kata Harjuna sambil menghaturkan sembah.

Sayang, kegembiraan tak berlangsung lama. Patih Ga­damustika dan Pecatanda melihat pelepasan tahanan tanpa seizin Kejaksaan itu. Tading ulang antara Harjuna dan kedua patih Gilingwesi pun berlangsung tanpa sponsor. Berulangkali Harjuna tewas, tapi berkat ramuan daun Widaramulya, Gadamustika dan Pecatanda keteter. Kedua­nya mundur dan melapor kepada raja Rajapustaka.

Dengan aman Pandita Durna dan Sengkuni bisa dibawa kembali ke Amarta oleh Harjuna. Aswatama yang baru saja melapor tentang hilangnya tokoh handal Ngastina kepada Prabu Puntadewa, segera memeluk tubuh ayahnya, Pandita Duma. Dia kembali menangis tersedu-sedu.

“Nggak usah nangis kau Asmawatama. Untung ada Harjuna, kalau nggak bapakmu pasti sudah dikarungin di Gilingwesi,” ujar Patih Sengkuni.

Prabu Puntadewa, Prabu Baladewa, Prabu Kresna, dan segenap keluarga Pandawa sangat bahagia dengan terbebasnya Durna – Sengkuni dari penculikan tanpa uang tebusan.

Tapi belum sempat memikirkan langkah selanjutnya untuk mencari kembali pusaka-pusaka kerajaan yang hilang, diterima laporan Satpol PP lewat HP bahwa Prabu Rajapustaka beserta hulubalangnya menyerbu Ngamarta. Batara Kresna yang cepat tanggap segera memerintahkan untuk melawannya satu persatu. Bahkan biasanya raja Dwarawati yang senangnya perintah doang, kali ini ikut pula duel melawan musuh.

Perkelahian seru sekali. Bagawan Kusumasidik yang melawan Kresna, akhirnva menjelma jadi senjata Cakra dan kembang Cangkok Wijayakesuma. Begitu juga Nagakuning berhasil dikalahkali Prabu Baladewa dan berubah wujud sebagai Nenggala pusaka miliknya. Giliran Prabu Puntadewa, meskipun perangnya ogah-ogahan dia berhasil mengalahkan Prabu Rajapustaka sehingga berubah menjadi Jamus Kalimasada: Patih Gadamustika setelah digasak oleh Werkudara menjelma menjadi.gada Rujakpolo, sementara patih Pecatanda menjelma jadi panah Sarotama setelah dibinasakan oleh Harjuna. Begitu juga Gatutkaca berhasil menemukan kembali keris Kala Nadahnya setelah membinasakan Tumenggeng Tadahnyawa. (Ki Guna Watoncarita)