TEHERAN – Presiden Iran Hassan Rouhani menyerukan tindakan cepat untuk melarang “pembunuhan demi kehormatan” setelah kematian seorang gadis Iran berusia 14 tahun, yang diduga dihabisi ayahnya sendiri. Kejadian tersebut sempat memicu protes nasional melalui media sosial.
Rouhani mendesak kabinetnya segera bertindak setelah Romina Ashrafi diduga dibunuh oleh ayahnya karena melarikan diri dengan pacarnya, Bahamn Khavari, 34 tahun, di Talesh, 320km (198 mil) barat laut Teheran.
Reza Ashrafi, yang sekarang ditahan, dituduh menggunakan sabit pertanian untuk memenggalnya anak gadisnya disaat dia tidur.
Shahnaz Sajjadi, seorang pembantu presiden urusan hak asasi manusia, Rabu (27/5/2020) mengatakan kepada situs berita khabaronline.ir:
“Kita harus merevisi gagasan bahwa rumah adalah tempat yang aman untuk anak-anak dan perempuan. Kejahatan yang terjadi terhadap perempuan di masyarakat lebih sedikit daripada kejahatan yang terjadi di rumah. ”
Dalam masyarakat tradisional di Timur Tengah, termasuk Iran, kesalahan biasanya dituduhkan kepada seorang gadis yang melarikan diri dengan seorang pria karena dianggap telah merusak kehormatan keluarganya.
Romina ditemukan lima hari setelah meninggalkan rumah dengan kekasihnya. Ia diamankan di kantor polisi. Ayahnya membawanya kembali ke rumah meskipun gadis itu mengatakan kepada polisi bahwa dia takut akan reaksi keras dari ayahnya.
Dikutip dari The Guardian, pada hari Rabu, surat kabar nasional memberitakan kisah kematiannya. Romina telah dibunuh dan muncul trending tagar di media sosial #RominaAshrafi, sebagian besar warganet mengutuk pembunuhan itu.





