Gairah Keislaman Masyarakat Kota

Ilustrasi / Taufan YN

Azan Magrib baru saja dikumandangkan saat empat orang menuruni mobil sport utility vehicle  (SUV) berwarna putih. Dua orang dewasa dan dua anak ini kemudian bergegas menapaki anak tangga masjid besar di dekatTaman Mini Indonesia Indah. Di tangan mereka terjinjing barang bawaan, mulai dari tas berukuran sedang, bungkusan plastik, hingga bantal.

Empat orang ini kemudian menuju salah satu sudut beranda masjid. Membuka bungkusan plastik, dan kemudian menyantap kudapan. Saat iqomat terdengar, mereka segera mengambil wudu, dan kemudian menyusul jamaah lainnya di lantai dua untuk melaksanakan shalat berjamaah.

Arman (38), demikian nama pria dewasa itu, mengaku akan mengikuti iktikaf di masjid tersebut selepas Isya. Sudah menjadi kebiasaan dan rutinitas ia dan keluarganya mengikuti iktikaf di malam-malam akhir Ramadhan. “Kebetulan anak-anak sudah libur sekolah, kegiatan seperti ini sudah jadi agenda rutin setiap tahun,” ujar pria yang menjabat direktur di salah satu perusahaan di Jakarta ini.

Menurut Arman, kegiatan iktikaf di masjid pada bulan Ramadhan ibarat liburan keluarga—orang menyebutnya wisata rohani. Kelebihannya, selain membangun keakraban, juga menambah kualitas keimanan dan ibadah Ramadhan. “Sekalian kita mendidik anak untuk selalu dekat dengan agama,” tambahnya.

Arman adalah salah satu potret masyarakat muslim kota. Sementara iktikaf merupakan gambaran gairah keberagamaan di kota. Setiap 10 malam terakhir Ramadhan, masjid-masjid besar di kota seperti Masjid At Tin, Masjid Agung Sunda Kelapa, Masjid Agung Al Azhar, Masjid Baitul Ihsan Bank Indonesia, Masjid Pondok Indah, rutin menggelar kegiatan iktikaf.

Manajemen masjid pun secara khusus menggelar beragam acara penunjang selama “periode” iktikaf. Mulai dari kajian keislaman, shalat tahajud berjamaah (qiyamul lail), muhasabah, hingga sahur bersama. Tiap sudut masjid penuh sesak. Karena sebagian besar jamaah membawa serta keluarga. Tak hanya itu, mereka juga membawa peralatan tidur “lengkap”, mulai dari matras, selimut, hingga bantal. Tak hanya orang tua, balita pun kerap diajak serta.

Kegiatan iktikaf di masjid-masjid memang menjadi tren dalam (setidaknya) sepuluh tahun terakhir. Hebatnya, kegiatan ini justru digandrungi masyarakat kota, khususnya kelas menengah ke atas. Lihat saja, di pelataran parkir masjid-masjid besar yang disebutkan di atas, selalu penuh dengan kendaraan roda empat dengan beragam merek dan jenisnya.

Iktikaf hanyalah salah satu indikator religiusitas masyarakat kota yang semakin bergairah. Selain itu, kita bisa melihat dari trend hijab, film-film islami, bank syariah, filantropi Islam, wisata rohani, dan yang lainnya.

Tipologi dan Karakter Muslim Kota

Indonesia merupakan negara dengan populasi muslim terbesar di dunia. Sensus terakhir menunjukkan, ada 87,7 persen penduduk Muslim di Indonesia. Itu artinya ada sekira 207 juta jiwa penganut Islam di negeri ini.

Di saat bersamaan, pertumbuhan populasi masyarakat kota juga terus meningkat. Di Indonesia, pertumbuhannya mencapai 4.2% per-tahun. Angka ini melebihi China dan India sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar didunia. Tingkat pertumbuhan yang tinggi ini, menjadikan populasi masyarakat kota melebihi jumlah penduduk desa. Bahkan,  Badan Pusat Statistik (BPS) memprediksi, pada tahun 2035 pupulasi Indonesia yang tinggal di perkotaan mencapai 66,6%.

Hasanuddin Ali dkk, dalam hasil penelitiannya “ The Portrait of Urban Moslem: Gairah Religiusitas Masyarakat Kota” mengemukakan, ada perbedaan yang sangat mendasar antara Muslim desa yang cenderung tradisional dan statis dengan muslim kota yang cenderung dinamis.

Masyarakat desa adalah masyarakat agraris, dimana kehidupan mereka ditopang oleh alam. Struktur sosial masyarakat desa cenderung homogen, mereka adalah masyarakat yang monokultur, memegang teguh tradisi dan nilai-nilai sakral sehingga cenderung tertutup pada pemikiran-pemikiran baru. Kehidupan keberagamaan masyarakat desa sangat mudah diprediksi.

“Ini berbeda dengan kehidupan keagamaan masyarakat kota, yang multikultur. Masyarakat kota adalah masyarakat yang terbuka, mereka cenderung terbuka terhadap segala aspek pemikiran termasuk pemikiran tentang keagamaan. Masyarakat kota lebih rasional, karena memang latar belakang pendidikannya lebih beragam baik latar belakang pendidikan agama mapun umum,” jelasnya.

Alvara Research Center yang digawangi Hasanuddin membagi karateristik muslim kota menjadi empat kuadran. Pengelompokan ini didasarkan pada variabel ritual keagamaan yang dilakukan muslim kota dan pandangan keagamaan.

Keempat kuadran itu adalah:

Muslim kultural-moderat adalah mereka yang melakukan ritual tradisi lokal keagamaan dan mendukung sistem demokrasi. Mereka meyakini bahwa Islam adalah agama yang cinta damai sehingga  mereka tidak setuju penegakan amar ma’ruf nahi mungkar dengan cara-cara kekerasan.

Muslim kultural-konservatif adalah kelompok muslim yang melakukan ritual keagamaan tradisi lokal. Namun demikian, mereka setuju dengan formalisasi ajaran agama dalam kehidupan bernegara. Baik melalui perda-perda syariah maupun aturan lainnya.

Muslim puritan-moderat merupakan tipologi muslim yang melakukan ritual keagamaan Islam “murni” (tidak tahlilan, tidak qunut saat sholat subuh, tidak ziarah kemakam ulama dll). Namun demikian, mereka juga tidak setuju tindakan kekerasan dalam amar ma’ruf nahi mungkar serta tindakan kekerasan lainnya.

Adapun muslim puritan-konservatif adalah mereka melakukan ritual keagamaan Islam “murni”, dan mendukung penegakan amar ma’ruf nahimungkar degan cara kekerasan.

Tipologi ini merupakan hasil kajian dan riset Alvara yang dilakukan pada Maret-April 2015 lalu. Beberapa poin penting yang ingin dijawab dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana kedekatan muslim kota dengan ormas, bagaimana ritual keagamaan mereka, serta pandangan muslim kota terhadap relasi agama dan negara.  Sebanyak 1.786 responden dari 8 kota besar terlibat dalam penelitian ini.

Hasanuddin juga menilai, masyarakat kota biasanya lebih suka sesuatu yang simbolik. Karena itu simbol-simbol agama yang menunjukkan kesalehan banyak kita lihat di muslim kota. Simbol-simbol agama itu berkorelasi dengan konsumerisme dikalangan muslim kota, kesadaran terhadap produk halal meningkat. “Gerai dan toko pakaian muslim dan hijab merebak bak cendawan di musim hujan. Acara-acara TV juga dibanjiri berbagai hal yang berbau “islami”,” terangnya melalui situs pribadinya, hasanuddinali.com.

Selain itu, Hasanuddin menyoroti pola pergeseran demografi dan geografi penduduk Indonesia, yang juga terkait dengan karakteristik masyarakat muslim kota. Berbekal data BPS, ia menghitung dan memprediksi tahun 2020, dengan asumsi 56.7% penduduk Indonesia berada di kota, jumlah umat Islam yang tinggal di kota hampir 137 juta jiwa, sementara yang tinggal di desa 104 juta jiwa. Trend ini akan terus berlanjut, penduduk yang tinggal di kota – termasuk umat Islam – akan semakin membesar.

“Wajah Islam Indonesia kedepan akan sangat ditentukan bagaimana orang kota memahami dan menghayati agamanya,” tukasnya.

Kesalehan Sosial

Gairah keislaman masyarakat kota ini tentu saja harus ditanggapi secara positif. Namun demikian harus ada upaya penggiringan, bagaimana kesalehan personal yang meningkat ini juga diiringi dengan kesalehan sosial.

Kesalehan sosial adalah sikap dan perilaku setiap individu terhadap lingkungan sekitarnya yang didasarkan pada nilai-nilai Islam. Bersikap santun pada orang lain, suka menolong, sangat concern terhadap masalah-masalah ummat, memperhatikan dan menghargai hak sesama adalah beberapa cerminan kesalehan sosial.

Jadi, rukuk, sujud, puasa, dan haji kita juga harus dilengkapi dengan empati dan kepedulian kita terhadap sesama.  Karena pada hakikatnya, Ibadah tidak memiliki nilai jika tidak tercermin dalam pergaulan dengan masyarakat.

 

 

Advertisement