Fenomena Ekonomi Ramadhan

Ilustrasi/KBK

Antrian panjang mengular hingga 20 meteran. Tidak hanya satu antrian, ada belasan antrian serupa. Lorong-lorong yang hanya dipisah rak pun sulit dilewati. Pengunjung harus berdesakan saat akan mengambil barang belanjaan karena terhalang troli.

Demikianlah suasana di depan kasir sebuah toko swalayan besar di bilangan Jakarta Selatan. Meski waktu sudah menunjukkan pukul 8.30 malam, suasana ramai di salah satu malam bulan Ramadhan itu terus berlangsung. Keriuhan serupa juga terjadi di sejumlah pusat perbelanjaan lainnya.

“Anomali,” demikian disampaikan peneliti Siber-C, pusat kajian ekonomi Islam di STEI SEBI, Kamal Ibrahim. Menurutnya, selama Ramadhan, animo masyarakat untuk berbelanja sangat tinggi.

Bagaimana tidak, di hari-hari biasa, kita bisa makan tiga kali sehari dengan mengeluarkan uang Rp30 ribu. Namun di bulan ramadhan, kita menghabiskan Rp40 ribu dalam sehari, padahal kita hanya makan dua kali dalam sehari,” demikian katanya, menggambarkan bagaimana tingkat konsumsi masyarakat selama Ramadhan.

Kamal menyebut fenomena ekonomi di bulan Ramadhan dengan Ramadhanomic. Pasalnya, selama bulan Ramadhan, kegiatan ekonomi sangat menggeliat. Baik dalam artian positif, maupun negatif. Negatifnya, seperti yang sudah dijelaskan di atas, masyarakat cenderung konsumtif. Sementara sisi positifnya, Ramadhan berhasil menggerakkan ekonomi mikro masyarakat. Di banyak tempat kita bisa melihat orang berjualan aneka sajian takjil Ramadhan.

Hadirnya para pedagang “musiman” di bulan Ramadhan juga menjadi ciri khas Indonesia. Sesuai dengan hukum ekonomi, bahwa permintaan yang tinggi harus diimbangi dengan jumlah penawaran agar terjadi keseimbangan. Maka perputaran perekonomian umat begitu cepat di bulan Ramadhan.

“Masjid yang biasanya hanya digunakan sebagai tempat sholat kini menjelma layaknya pasar,” tambahnya.

Tahun lalu Bank Indonesia (BI) mencatat, peradaran uang (hanya) di Jakarta mencapai Rp35,6 triliun selama Ramadhan. Sementara kebutuhan uang (outflow) secara nasional selama bulan Ramdhan hingga Idul Fitri mencapai Rp 125,5 triliun.

Pria yang juga aktivis Kepakaran Dompet Dhuafa-SEBI ini juga melihat, geliat ekonomi lain yang terjadi selama Ramadhan, yaitu arus uang melalui kegiatan filantropi, baik zakat maupun infak.

 Geliat Zakat di Bulan Ramadhan

Pada bulan ini, umat Islam berduyun-duyun mendatangani kantor lembaga zakat atau masjid untuk menunaikan zakat. Padahal, selain zakat fitrah, semestinya zakat maal harus ditunaikan sesuai dengan haul-nya, tidak harus di bulan Ramadhan. “Mungkin, iming-iming pahala yang berlipat sebagaimana ajaran Islam menjadi motif utama. Atau, selama ini masyarakat hanya tahu bahwa zakat harus ditunaikan pada bulan Ramadhan,” jelasnya.

Geliat zakat di bulan Ramadhan ini juga tidak terlepas dari aktivitas lembaga zakat. Hampir semua lembaga zakat, baik swasta maupun milik pemerintah, melakukan kampanye yang “jor-joran” selama Ramadhan. Hampir di setiap sudut jalan kita melihat spanduk ajakan berzakat, lengkap dengan nomor rekeningnya. Tak hanya itu, di berbagai pusat perbelanjaan pun dengan mudah kita menemukan pria-wanita muda yang “menawarkan produk” zakat kepada pengunjung mal. Tak ayal, rata-rata penghimpunan dana zakat 60 persennya dikumpulkan selama Ramadhan.

Selain aktivitas fundraising yang massif, lembaga zakat pun “jor-joran” dalam mendistribusikan dana zakat yang dihimpunnya. Mereka mengemasnya dalam berbagai program, mulai dari santunan yatim piatu, tunjangan untuk janda dan manula, pengobatan gratis, hingga pasar murah Ramadhan.

“Semua kegiatan ini tentu saja memantik kegiatan ekonomi di negara ini. Banyak pengamat menilai, Indonesia bisa selamat dalam krisis global tujuh tahun lalu karena geliat ekonomi—untuk tidak hanya menyebut konsumsi—masyarakat sangat tinggi,” tukasnya.

Terakhir, geliat ekonomi  Ramadhan juga tercermin dari pergerakan orang saat mudik. Ada dampak ekonomi yang sangat besar dalam mobilisasi massa tahunan ini. Perputaran ekonomi tidak lagi terpusat di kota-kota besar. Desa-desa yang selama ini “kering kerontang” juga bisa menikmati aliran “berkah” yang dibawa perantau ke kampung halaman.

 

Advertisement