
PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump agaknya menjadi aktor terbaik dengan aksi “out of the box” atau di luar kelaziman, menjadi salah satu pelaku perang Iran vs Israel, sekaligus juga juru damai tau meiator bagi keduanya.
Yang tidak disebut-sebut dan nyaris tak berkontribusi dalam memediasi konflik Israel – Iran adalah Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden China Xi Jinping, pemimpin dua negara utama penyokong Iran.
Keduanya hanya tampil mengecam serangan AS terhadap ketiga situs nuklir Iran, Minggu lalu (22/6) dan berjanji mendukung Iran, namun kongkritnya belum jelas.
Trump, mengatakan, perang antara Iran dan Israel sejak 13 Juni lalu berakhir. “Saya ingin memberi selamat kepada kedua belah pihak, Israel dan Iran, atas stamina, keberanian, dan kecerdasannya dalam mengakhiri Perang 12 Hari,” tulis Trump di akun medsos Truth Social, Selasa (24/6). Gencatan senjata berlangsung 24 jam secara bertahap.
Semula, gelombang protes muncul termasuk di dalam negeri AS sendiri dan di negara-negara mitra AS di Eropa, juga Korea Selatan dan Filipina atas Presiden Trump mengebom situs nuklir Fordo, Natanz dan Isahan, Iran.
Ribuan warga di kota Austin, Boston, Cincinnati, New York Poertland dan Washington, AS turun ke jalan, sementara di kawasan Time Suare, New York City, pengunjuk rasa membawa spanduk bertuliskan: “Trump penjahat perang”, atau “tak ada perang AS-Israel terhadap Iran.
Dikembangkan sejak 1950
Program nuklir Iran dikembangkan sejak 1950-an, termasuk situs Fordo yang terlindung 90 meter di bawah tanah, Natanz dan Isfahan, dilaporkan rusak parah akibat dibom dengan 14 bom penghancur bunker GBU-57 Massive Ordnance Penetrator berbobot 13,6 ton yang diangkut tujuh pesawat siluman B-2 Spirit AS.
Iranpun langsung membalas serangan itu dengan meluncurkan ratusan rudal balistik tercanggih miliknya: Seijil dan Khorramsahr ke kota kota di Israel dan juga ke pangkalan udara AS di al Udeid, Doha, Qatar, Senin (23/6).
Serangan Iran ke pangkalan udara AS di al Udeid yang ditempati 10.000 personil AS tidak menimbulkan korban. Dari 19 rudal yang diluncurkan, delapan berhasil dijatuhkan sistem pertahanan udara Qatar, satu jatuh di pangkalan.
Namun serangan itu bisa jadi haya untuk peringatan bagi sejumlah pangkalan militer AS yang tersebar di Timur Tengah yakni Arab Saudi, Bahrain (AL), Erbil, Irak (AU), Kamp Arifjan, Kuwait (AD), al Dhafra, Uni Emirat Arab (Wing Ekspedisi Udara) dan di Suriah Selatan.
Pernyaataan gencatan senjata dari Trump itu lalu disambut oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Netanyahu menyetujui proposal gencatan senjata yang diprakasai Prden Trump setelah Tel Aviv merasa telah mencapai tujuan militernya menggempur Iran.
“Israel berterima kasih kepada Presiden Trump dan AS atas dukungan militernya, serta atas partisipasi mereka dalam mengeliminasi ancaman nuklir Iran,” bunyi pernyataan resmi dari kantor Netanyahu.
Disebutkan bahwa keputusan menerima usulan gencatan senjata dibuat setelah Israel merasa berhasil menghapus ancaman nuklir dan rudal balistik Iran.
Iran, juga sepakat
Iran, sebaliknya menjadi pihak terakhir yang mengonfirmasi gencatan senjata tersebut. Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (DKNT) Iran, Rabu mengeluarkan maklumat penghentian perang terhadap Israel dan para pendukungnya.
DKNT Iran menuturkan, angkatan bersenjata Iran dan IRGC telah memberikan respons yang (berhasil-red) mempermalukan musuh.
Teheran, menurut DKNT Iran, telah merespons serangan terhadap wilayahnya secara proporsional dan tepat waktu.
“Kami (telah) membuat musuh menyesal dan menerima kekalahan serta memutuskan penghentian agresi secara sepihak,” akunya.
Namun beberapa jam setelah Israel mengumumkan kesepakatan gencatan senjata, Tel Aviv melaporkan, Iran meluncurkan rudal rudalnya nya dan sejumlah orang tewas dalam serangan itu.
Menhan Israel, Israel Katz seperti dilaporkan AFP mengatakan, ia langsung memerintahkan tentara untuk merespons serangan tersebut.
“Saya menginstruksikan tentara Israel untuk menanggapi dengan tegas pelanggaran gencatan senjata oleh Iran dengan meluncurkan serangan balik ke jantung Teheran,” kata Katz.
Sebaliknya, Iran membantah menembakkan rudal ke Israel setelah menyepakati gencatan senjata. Pejabat keamanan senior di Iran mengatakan kepada CNN, setelah pukul 07.30 pagi waktu setempat, tidak ada rudal yang ditembakkan ke musuh.
Menlu Iran Abbas Araghchi menyiratkan serangan itu diluncurkan tepat sebelum batas yang diumumkan oleh Trump.
“Operasi militer angkatan bersenjata kita yang tangguh untuk menghukum Israel atas agresinya berlanjut hingga menit terakhir,” tulisnya di medsos.
Tidak lama setelah itu, warga Israel diberi tahu, mereka boleh meninggalkan tempat perlindungan rudal, karena tak ada lagi peluncuran rudal yang dilaporkan.
Trump, aktor utama yang sukses
Jika ditanya siapa yang paling sukses dalam Perang 12 hari antara Iran dan Israel, siapalagi kalau bukan Trump yang jadi aktor utamanya, karena paling tidak, hingga terwujudnya gencatan senjata, para pihak puas.
AS (merasa) berhasil menghancurkan program nuklir Iran dengan “tangannya” sendiri, sukses mencegah Perang Dunia III atau terjadinya krisis energi global jika Iran menutup Selat Hormuz.
Israel puas, karena merasa target melumpuhkan program nuklir Iran yang merupakan ancaman nyata bagi bangsa dan negaranya tercapai walau dibantu sekutunya, AS, dan pesawat pesawat tempurnya berhasil melumpuhkan sejumlah infrastruktur militer Iran.
PM Benjamin Netanyahu memuji kemenangan bersejarah dalam perang 12 hari negaranya melawan Iran dan berjanji untuk mencegah Teheran membangun kembali fasilitas nuklirnya.
“Kami telah mencapai kemenangan bersejarah,” kata Netanyahu dalam pidato yang disiarkan TV kepada rakyat setelah gencatan senjata yang disetujui kedua negara berjalan.
“Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir,” katanya dalam pidato hampir 10 menit.
Pamor PM Benjamin Netanyahu di mata rakyat dan pendukungnya yang sebelumnya meredup pun diperkirakan bakal moncer lagi.
Sebaliknya, Iran juga mengeklaim kemenangan. Pasukannya berhasil mengalahkan musuh, rudal rudal balistiknya mampu menembus pertahanan udara berlapis Israel, merusak situs militer dan menimbulkan kepanikan penduduk Israel.
Namun di dalam negeri, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Khamenei harus bertahan dari lawan lawan politik termasuk keluarga rezim Syah Iran yang ingin bangkit, sementara sejumlah jenderal AB dan Pasukan Garda Revolusi (IRGC) tewas dibantai Israel.
Program nuklir Iran yang dikembangkan sejak 1950 bekerjasama dengan AS dan terhenti saat Revolusi Iran pada 1979, lalu diteruskan dengan bantuan Rusia pasca runtuhnya Uni Soviet (akhir 1991) menjadi berantakan akibat tiga reaktor utama dihancurkan dan 24 ilmuwan nuklir terbunuh. (AFP/CNN/Al Jazeera/ns)




