JAKARTA, KBKNews.id – Menteri Transisi Ekologi Prancis, Agnes Pannier-Runacher, pada Rabu (2/7/2025), menyampaikan bahwa dua orang kehilangan nyawa dan lebih dari 300 orang harus dilarikan ke rumah sakit akibat penyakit yang dipicu oleh gelombang panas ekstrem yang melanda negara tersebut.
“Lebih dari 300 orang dibawa ke rumah sakit melalui layanan darurat di seluruh Prancis akibat cuaca panas. Dua orang bahkan kehilangan nyawa akibat penyakit karena panas tersebut,” tutur Pannier-Runacher dalam konferensi pers, seperti dikutip dari Sputnik.
Sebelumnya, di hari yang sama, Menteri Kesehatan Prancis Catherine Vautrin juga menyatakan bahwa jumlah panggilan ke layanan darurat melonjak tajam setelah suhu mencapai titik tertinggi pada Selasa (1/7/2025).
“Kemarin, kami mengamati peningkatan jumlah panggilan layanan darurat untuk bantuan medis di wilayah Ile-de-France sebesar 15 persen, ini peningkatan serius,” kata Vautrin kepada radio RMC.
Sementara itu, badan meteorologi nasional Meteo Prancis menetapkan status siaga merah—peringatan tertinggi—di empat departemen.
Di ibu kota Paris, status peringatan diturunkan ke level oranye, yang merupakan satu tingkat di bawah maksimum, dan kini berlaku di 55 departemen atau sekitar dua pertiga wilayah Prancis.
Di wilayah selatan Provence-Alpes-Côte d’Azur, sekitar 8.000 rumah mengalami pemadaman listrik akibat panas ekstrem yang membuat infrastruktur bawah tanah rusak, menurut laporan BFMTV yang mengutip keterangan dari operator jaringan listrik Enedis.
Dalam laporan sebelumnya yang dipublikasikan oleh jurnal medis The Lancet pada 2023, Paris diidentifikasi sebagai ibu kota paling mematikan di Eropa saat gelombang panas, dengan rata-rata 400 kematian setiap tahun yang terkait dengan suhu tinggi.




