
ALOR (KBK) – Setelah gempa bumi 6,2 SR melanda Pulau Alor, Nusa Tenggara Timur, Rabu (4/11/2015) anak-anak tidak berani belajar di dalam ruangan kelas sekolah, di samping sekolahnya sebagian hancur dan sebagian lagi retak-retak, murid-murid menjadi trauma apalagi gempa susulan beritensitas kecil masih terus mengguncang kawasan tersebut.
Murid-murid belajar di sekolah darurat yang didrikan di lapangan tidak jauh dari sekolah yang rubuh oleh Relawan Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa (DD).

“Saat ini sedang diadakan Psikososial semacam trauma healing untuk 92 anak SD Inpres Kaipera, Desa Tanglapui, Kabupaten Alor, Nusatenggara Timur,” ungkap Direktur DMC-DD Asep Beni kepada KBK, Jumat (20/11/2015).
Dikatakan Asep, untuk pendirian sekolah darurat, relawan DMC DD bersama warga mendirikannya Sekolah dengan kayu, batu pertama diletakan oleh Bupati Alor Drs. Amon Djobo, Kamis (19/11/2015).
Gempa Alor meluluhlantakkan 18 desa di 7 kecamatan, 1.468 rumah rusak (519 rusak berat, 193 rusak sedang dan 756 rusak ringan), 20 tempat ibadah hancur dan 10 sekolah rusak, 1.200 KK kehilangan tempat tinggal, diperkirakan kerugian mencapai Rp123 miliar.



