Gempa Susulan Picu Trauma, Ribuan Warga Flores Timur Enggan Masuk Rumah

JAKARTA, KBKNEWS.id – Gempa susulan yang masih terjadi membuat ribuan warga di Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), belum berani kembali ke dalam rumah.

Rasa trauma membuat mereka memilih bertahan tidur di tenda darurat maupun di luar rumah.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Flores Timur mencatat hingga Minggu (12/4), jumlah pengungsi di dua desa terdampak, yakni Terong dan Lamahala Jaya, mencapai 1.383 jiwa yang tersebar di beberapa titik.

“Kami melihat warga masih trauma, sehingga banyak yang memilih tidur di luar rumah menggunakan tenda,” kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Flores Timur, Maria Goretty Nebo Tukan, Senin.

Ia menjelaskan, tenda pengungsian tidak dipusatkan di satu lokasi, melainkan didirikan secara tersebar di dekat rumah warga. Hal ini karena sebagian besar warga masih ingin tetap dekat dengan tempat tinggal dan aktivitas sehari-hari.

Selain penyediaan tenda, BPBD juga telah menyalurkan berbagai bantuan logistik, termasuk beras untuk memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi.

Dampak gempa berkekuatan magnitudo 4,7 yang terjadi pada Jumat (9/4) dini hari itu menyebabkan ratusan rumah mengalami kerusakan di dua desa tersebut. Hingga kini, kekhawatiran akan gempa susulan masih membayangi warga.

Josep, warga Desa Baniona yang berada tidak jauh dari lokasi terdampak, mengaku telah empat malam tidur di teras rumah bersama warga lainnya sebagai langkah antisipasi.

“Di desa kami memang tidak ada rumah yang rusak, tapi kami tetap berjaga-jaga karena takut ada gempa susulan yang lebih besar,” ujarnya, dilansir Antara.

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa tersebut berpusat di darat, sekitar 21 kilometer tenggara Larantuka, dengan kedalaman lima kilometer. Hingga kini, aktivitas gempa susulan masih terus dipantau.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here